Disalahkan Meskipun Tidak Bersalah

Ayub 23:1-17

Seringkali kita mendapati ada orang-orang baik dan jujur justru tidak disukai oleh banyak orang. Orang yang tidak suka kepadanya akan mencari alasan untuk menyalahkannya atau mencari celah yang jelek dalam kehidupan orang tersebut. Dan akhirnya semakin banyak orang yang baik dan jujur tidak bisa melakukan hal-hal yang baik karena jika ada kesalahan kecil saja, bisa dibesar-besarkan. Kebaikan dan kejujurannya akan hilang begitu saja karena kesalahan atau masalah yang kecil, yang seharusnya bisa dimaafkan, tetapi justru dipakai untuk menghancurkan nama baiknya.

Ayub adalah seorang yang saleh, jujur dan benar di mata Tuhan. Ia hidup takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Tuhan memberkatinya dengan keturunan (anak-anak) dan harta benda yang sangat banyak. Tetapi, secara tiba-tiba ia ditimpa bencana besar. Anak-anaknya mati, harta bendanya lenyap dan ia mengalami penderitaan jasmani. Istrinya, mewakili orang-orang pada umumnya, menganggap Tuhan sudah berlaku tidak adil kepada suaminya (Ayub 2:9). Sahabat-sahabat Ayub (Elifas, Bildad, Zofar dan Elihu), mewakili orang-orang yang mempunyai fanatisme agama yang sempit, menganggap Ayub telah melakukan dosa dan kejahatan yang besar, sehingga Tuhan menghukumnya. Ayub mewakili orang-orang percaya (seharusnya demikian) menganggap bahwa penderitaan yang dialaminya atau manusia lain tidak semata-mata karena dosa dan kejahatan yang dilakukannya. Dengan kalimat lain, orang yang hidup saleh, jujur dan benar di hadapan Tuhan pun akan menderita (bandingkan dengan para rasul dalam Perjanjian Baru).

Ayat yang sudah kita baca merupakan jawaban Ayub terhadap tuduhan dan dakwaan Elifas. Ayub dituduh bersalah atas beberapa bukti kesalahan yang telah dilakukan terhadap sesama (22:5-20), dan juga kesalahan kepada Tuhan. Ayub juga dituduh telah mengabaikan dan tidak menuruti firman Tuhan. Bahkan Ayub dituduh menjadikan kekayaannya sebagai pengganti Tuhan di dalam rumahnya, sehingga Ayub diharuskan untuk merendahkan diri, bertobat serta berdoa memohon pengampunan dari Tuhan sambil berjanji untuk melakukan hal yang benar (22:22-30).

Terhadap semua tuduhan yang diberikan oleh Elifas, Ayub ingin berkeluh kesah dan ingin memberontak serta mengadu kepada Tuhan. Ayub sampai ingin bertemu dengan Tuhan dan ingin membela diri dihadapan Tuhan serta ingin mendengar jawaban dari Tuhan. Tetapi Ayub sadar bahwa Tuhan maha kuasa, Pencipta dan maha tahu. Tuhan lebih tahu dan mengerti jalan hidup manusia. Ayub merasa bahwa penderitaannya merupakan ujian yang akan membuatnya tampil dan dimuliakan oleh Tuhan. Meskipun Ayub putus asa, karena seolah-oleh Tuhan sudah meninggalkannya dan dia sedang berjalan dalam derita, Ayub tetap berserah kepada Tuhan. Ia yakin bahwa Tuhan akan memberikan kebebasan dan kelegaan kepadanya.

Menjadi orang yang benar, saleh dan jujur, hidup takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan bukanlah hal yang mudah, baik dulu maupun sekarang. Lebih banyak tantangan yang menggoda kita untuk melakukan perbuatan tidak baik. Keinginan untuk berkuasa, hidup lebih kaya, terkenal, makmur, nyaman dan bahagia membuat makin banyak orang menggunakan berbagai macam cara yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Tuhan tidak pernah melarang kita hidup dengan lebih baik dalam dunia ini. Yang Tuhan larang adalah melakukan kejahatan atau ketidak-jujuran dalam melakukan segala sesuatu. Mari kita tetap berusaha untuk hidup benar, saleh, jujur dan takut akan Tuhan dan jauhi kejahatan dalam keadaan kita, baik miskin maupun kaya, sehingga kalau kita disalahkan, meskipun kita tidak bersalah, kita yakin Tuhan sedang menguji kita untuk kelak dimuliakan oleh Tuhan dan Tuhan akan memberikan kebebasan dan kelegaan kepada kita.

Tuhan Yesus memberkati, Maranatha!

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *