Siapa Sebenarnya Yang Hilang?

Lukas 15:4, 8, 11-32

Di dalam Lukas 15:2 menceritakan tentang ketidakpuasan orang-orang Farisi yang dipandang “saleh dan kudus”, melihat cara hidup Yesus yang juga dipandang orang banyak sebagai orang kudus.Tetapi Yesus tidak menjauhkan diri dari orang-orang berdosa. Bagi orang Farisi, kekudusan dibuktikan dengan pemisahan total dari orang yang berbeda. Maka Yesus menceritakan kisah yang sangat terkenal ini.

Anak yang hilang adalah anak bungsu. Ia tidak tahu malu meminta warisan sebelum orang tuanya meninggal. Ia tidak bijaksana menghabiskan kekayaannya dan harus berakhir di kandang babi. Akhirnya ia sadar dirinya telah “hilang” sehingga mampu menemukan dirinya kembali.

Namun tidak berhenti sampai di sini. Anak yang hilang ternyata juga anak sulung yang penuh tanggung jawab, setia merawat dan mengembangkan usaha bapaknya. Ia begitu fokus pada dirinya sendiri dan kewajibannya sehingga ia “hilang” dari hubungan kekeluargaannya. Ia tidak memandang adiknya yang telah pergi sebagai kehilangan dan duka. Bahkan ia tidak menikmati hasil pekerjaannya. Ia hanya menjalankan pekerjaannya sebagai kewajiban.

Bapaknya setia menunggu si bungsu. Mungkin bapaknya patah hati, seperti Yakub ketika kehilangan anaknya yang sangat disayangi, yaitu Yusuf. Apakah bapak ini kurang kerjaan hingga duduk seharian, entah berapa lama ia menunggu pulangnya si bungsu. Sebenarnya sang bapak tidak kurang kerjaan. Bapak ini justru menunjukkan bahwa ia sangat percaya dan mengasihi si sulung, sehingga mempercayakan seluruh pengelolaan miliknya kepada si sulung. Hal ini terbukti seaktu sang bapak menyambut si bungsu yang kembali, bersukacita dan berpesta, sang bapak hendak keluar untuk membawa masuk si sulung (ayat 28).

Kasih bapak kepada anak sulung maupun bungsu adalah sama, perlakuannya juga sama. Namun si sulung telah kehilangan sukacita, karena tidak melihat hubungan mereka sebagai hubungan keluarga yang saling menopang. Bapak ini mengatakan kepada anak sulung bahwa segala miliknya adalah milik si sulung juga. Si sulunglah yang tidak memandangnya begitu, tetapi memandang dirinya sebagai salah seorang upahan bapaknyayang tidak berhak menikmati kekayaan bapaknya dan bersukacita dengan bapaknya (ayat 31).

Dalam kisah “Perumpamaan tentang Anak yang Hilang” ini, kita melihat perlunya pertobatan ke dalam. Selama ini jika berbicara tentang Injil dan penginjilan, gereja-gereja lebih sering berbicara tentang penginjilan keluar, “menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang”. Ternyata penginjilan itu bersifat ke luar maupun ke dalam. Tujuannya bukan supaya anggota gereja bertambah banyak atau jumlah umat Kristen bertambah, tetapi lebih kepada perubahan hati dan sikap, pada kualitas diri menjadi manusia yang dikehendaki Tuhan.

Di dalam 2 Korintus 5:17 dikatakan, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Menjadi ciptaan baru bukan hanya membuat orang-orang menjadi “Kristen” dengan membaptis atau mendaftarkan diri mereka menjadi anggota jemaat. Tetapi, menjadi “ciptaan baru” berarti sebuah perubahan cara pandang, hati dan karakter. Inilah yang menjadi pembedaan antara orang Kristen yang sesungguhnya dengan spiritualitas (kerohanian) orang Farisi.

Tuhan Yesus memberkati, Maranatha!

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *