Filipi 2:5-11
(5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, (8) Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. (9) Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, (10) supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit, di atas bumi, dan di bawah bumi, (11) dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah Bapa!
Hari ini kita hidup di zaman ketika banyak orang ingin terlihat besar dan terkenal. Semua orang sedang berlomba untuk dihargai, dipuji, dan diakui (mendapatkan validasi). Seseorang akan lebih terlihat bernilai ketika melihat jabatan, penghasilan, jumlah pengikut di media sosial, posisi di tempat kerja, atau penghormatan dari orang lain. Dunia sedang menuntut kita bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar juga nilainya.
Ayat yang sudah kita baca, sedang menegur kita sekaligus memberi ketenangan. Firman ini mengajak kita untuk melihat Yesus, bukan sebagai Pribadi yang sedang mencari kemuliaan untuk diri-Nya sendiri, tetapi sebagai Tuhan yang rela turun, rela merendah, rela taat kepada Bapa, serta rela menderita demi menyelamatkan manusia.
Jalan yang sedang ditempuh oleh Yesus sangat berbeda dengan jalan dunia ini. Jika orang berlomba-lomba untuk naik, justru Yesus sedang turun. Ketika banyak orang mempertahankan segala sesuatu yang dipunyai, Kristus justru tidak mempertahankan milik-Nya. Yesus Kristus sedang mengosongkan diri. Dia punya segalanya, tetapi rela melepaskan semua hak, kemuliaan, dan keistimewaan-Nya untuk masuk ke dalam kehidupan manusia yang lemah, rapuh, dan berdosa. Ia lapar, haus, letih, lelah, capek, ditolak, difitnah, disakiti, bahkan akhirnya mati di kayu salib. Semua itu dijalani bukan karena terpaksa, tetapi karena kasih.
Kasih Yesus bukan kasih yang hanya diucapkan. Kasih itu dibuktikan dengan pengorbanan. Yesus mengasihi sampai tuntas dan taat sampai akhir. Yesus tidak hanya setia di awal pelayanan-Nya, tetapi setia sampai salib. Yesus tidak mengikuti kehendak Bapa hanya pada waktu suasana menyenangkan, tetapi juga saat jalan yang ditempuh-Nya berat dan penuh penderitaan. Ini menjadi teladan yang sangat dalam bagi kita semua di masa sekarang.
Bayangkan ada seorang dokter ahli yang sangat dihormati. Ia memiliki ruang kerja yang nyaman, pakaian yang rapi, dan semua orang memandangnya dengan hormat. Suatu hari terjadi bencana. Banyak korban terjebak di lumpur dan puing bangunan. Jika dokter itu hanya berdiri dari jauh dan memberi perintah, mungkin orang akan tetap menghormatinya. Tetapi dokter itu memilih turun sendiri ke tempat kotor, mengangkat tubuh korban, membersihkan luka, dan menolong mereka dengan tangannya sendiri. Ketika ia turun ke lumpur, kehormatannya tidak hilang. Justru di situ kasihnya akan terlihat.
Pengosongan diri Kristus mengajar kita bahwa kebesaran yang sejati tidak terletak pada seberapa tinggi posisi kita, melainkan pada seberapa dalam kasih dan ketaatan kita kepada Tuhan. Orang yang besar di mata dunia, belum tentu berkenan dihadapan Tuhan. Orang seperti ini memiliki potensi untuk mencuri kemuliaan Tuhan, karena dia lebih terkenal daripada Tuhan. Pengosongan diri hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri, dengan motivasi yang murni.
Pengosongan diri juga berbicara tentang kerelaan untuk taat dalam perkara sehari-hari. Ketaatan diuji dalam hal-hal kecil yang berulang, seperti: saat kita memilih untuk berkata jujur padahal berbohong lebih menguntungkan; saat kita menahan marah dan memilih untuk berbicara dengan lembut; saat kita mengampuni orang yang melukai kita; saat kita memutuskan untuk hidup benar meskipun berat.
Yesus taat bukan hanya di saat-saat tertentu. Ia taat di sepanjang hidup-Nya. Yesus mengajar bahwa hidup beriman adalah perjalanan sehari-hari, bukan semangat sesaat. Hari ini banyak sekali godaan: ada yang setia di awal, tetapi menyerah di tengah jalan; ada yang semangat melayani pada saat dipuji, tetapi lemah saat tidak dihargai; ada yang rajin berdoa ketika perlu pertolongan, tetapi melupakan Tuhan pada saat keadaan membaik. Yesus menunjukkan ketaatan yang tidak putus dalam perjalanan hidup.
Di dalam kehidupan keluarga, pengosongan diri terjadi ketika suami istri belajar untuk tidak egois: tidak selalu menuntut, tetapi mau mengerti; tidak mau menang sendiri, tetapi rela mengalah; tidak memikirkan kenyamanan diri, tetapi bersama-sama memikirkan kebaikan keluarga. Dalam hubungan antara orang tua dengan anak, pengosongan diri berarti kesediaan untuk mendengar, bukan hanya memerintah. Dalam persekutuan jemaat, pengosongan diri artinya belajar menghargai sesama sebagai saudara seiman.
Setelah Yesus merendahkan diri dan taat sampai mati, Bapa meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama. Tuhan tidak menutup mata terhadap kesetiaan. Tuhan melihat, menghargai, serta memuliakan pada waktu-Nya dan dengan cara-Nya. Orang lain mungkin tidak memahami pengorbanan kita, tetapi Tuhan menghargai semua itu dan tidak pernah salah menilai. Hal ini seharusnya menjadi penghiburan bagi kita yang sedang setia di jalan Tuhan.
Mungkin ada di antara kita yang sudah lelah: sudah berbuat baik, tetapi dibalas dengan salah paham; sudah melayani dengan sepenuh hati, tetapi selalu dikritik habis-habisan; sudah jujur, tetapi selalu kalah dengan yang tidak jujur; sudah berdoa, tetapi belum mendapatkan jawaban dari Tuhan. Firman ini mengingatkan kita supaya tidak menyerah untuk tetap berjalan di jalan Kristus. Jalan kerendahan hati memang tidak selalu cepat membawa kenyamanan, tetapi jalan itu membawa kita semakin serupa dengan Yesus.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk melihat hati seperti hati Kristus. Ketika dunia mengajar kita meninggikan diri, kita berharap Roh Kudus mengajar kita merendahkan diri. Ketika daging kita ingin dipuaskan, kita meminta pertolongan dari Tuhan supaya Dia memberi kita kekuatan untuk menyangkal diri. Ketika kita lelah dalam ketaatan, kiranya salib Kristus kembali menguatkan kita. Ketika kita merasa tidak dilihat dan dihargai, kita diingatkan bahwa Bapa di Surga selalu melihat setiap langkah kesetiaan kita. Jalan Kristus memang jalan salib, tetapi di ujung jalan itu, ada kemuliaan Tuhan yang nyata.
Markus 10:45, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Views: 0