Menjadi Saksi

Kisah Para Rasul 1:6-8

Murid-murid secara langsung mendapatkan mandat terakhir dari Yesus, yaitu menjadi saksi. Murid-murid yang sudah setia mengikuti Yesus selama kurang lebih 3,5 tahun harus berpisah dengan-Nya. Murid-murid ini mendapat banyak pengalaman dan pengajaran dari Yesus sendiri. Di awal, mereka sudah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus. Yang mereka harapkan jelas, yaitu mengharapkan kerajaan Tuhan benar-benar terjadi pada masa itu. Itulah sebabnya, di akhir sebelum mereka berpisah, para murid bertanya kepada Yesus, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”

Ketika para murid mengharapkan hal tersebut, justru Tuhan memberikan janji kepada mereka bahwa mereka akan menerima kuasa (dunamos). Mereka akan menjadi saksi dari Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Kesaksian mereka bisa bersifat bertahap, tetapi juga bersifat menyeluruh.

Mengapa kesaksian dimulai dari Yerusalem? Karena di dalam 1 Raja-raja 8:44-45, Salomo pernah berdoa, ke manapun bangsa Israel pergi dan mereka menghadap ke Bait Allah (Yerusalem), doa tersebut didengarkan Tuhan. Inilah yang menjadikan Yerusalem sebagai kiblat. Tuhan juga berjanji akan kirim Juruselamat yang akan datang di Yerusalem dan akan disalibkan di Yerusalem. Karena itulah kebenaran diberitakan dari Yerusalem.

Bagaimana murid-murid Yesus dan orang percaya harus bersaksi? Paling tidak ada 3 macam saksi:

  1. Saksi mata. Saksi adalah seseorang yang terhormat. Saksi yang paling kuat adalah saksi mata, karena dia melihat kejadian dan peristiwa secara langsung. Para rasul menyaksikan Yesus Kristus. Petrus adalah saksi mata (2 Pet 1:16-17). Yohanes juga saksi mata (1 Yoh 1:1). Bukan hanya melihat dengan mata, tetapi dia juga meraba. Tomas, awalnya juga tidak percaya Yesus bangkit. Tetapi akhirnya dia menyaksikan sendiri Yesus hidup. Saat itulah dia menyatakan dengan iman “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28). Saksi mata bukan porsi kita. Yakinlah bahwa tidak ada seorangpun setelah para rasul bisa melihat Yesus. Yang paling akhir melihat wajah Yesus adalah Paulus (1 Kor 15:8).
  2. Saksi mendengar (membaca). Kita memberitakan sesuatu yang ditulis oleh para rasul. Mereka memberi kesaksian dan kita mempercayai kesaksian tersebut. Apakah para rasul bisa berbohong dengan kesaksian mereka? Jika yang memberi kesaksian tersebut berani mempertaruhkan nyawanya demi apa yang disaksikan dan diberitakan, kita patut percaya. Dan semua rasul telah rela menderita dan mempertaruhkan nyawa mereka demi kesaksian kebenaran tentang Yesus Kristus. Kita adalah saksi mendengar (membaca) dan kemudian kita sampaikan (bdg. 1 Yoh 1:5). Firman Tuhan yang tertulis menjadi alat ukur (kanon) yang bisa dipakai secara valid untuk mengukur semua gereja, dari gereja mula-mula sampai gereja zaman akhir. Dalam 2 Tim 2:1-2, Paulus mengajar kepada Timotius (yang kemungkinan besar tidak pernah bertemu Yesus) untuk melanjutkan kesaksian. Hari ini kita bersaksi bukan karena kita melihat, tetapi karena kita mendengar (membaca).
  3. Saksi karena merasakan efek. Kesaksian yang indah terjadi jika orang tersebut terkena efek (perubahan). Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, yang bisa merubah orang. Bersaksilah bahwa kita sudah berubah (bertobat). Lebih hebat lagi jika orang terdekat kita bersaksi bahwa kita berubah (bertobat).

Karena itu, bersaksilah selama kita masih mempunyai kesempatan. Kesaksian yang terindah adalah kesaksian yang bersifat membangkitkan rasa ingin tahu seseorang. Tuhan Yesus memberkati, Maranatha!

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *