Hidup Dalam Kristus

Galatia 2:15-21

Berita Injil yang sudah kita terima dan percayai, perlu terus diterapkan dan dilakukan dalam hidup kita. Itulah yang telah diterapkan oleh rasul Paulus dan kita belajar darinya. Paulus tidak sedang mengajarkan Injil sebagai teori. Ayat yang kita baca ini adalah respon dan tanggapan terhadap situasi nyata yang saat itu sedang terjadi. Banyak gaya hidup orang yang mengaku Kristen ternyata belum sejalan dengan Injil Yesus Kristus. Salah satunya adalah tentang kemunafikan yang bisa kita baca dari ayat 11-14. Orang yang munafik adalah orang yang bertindak tidak selaras atau tidak konsisten dengan apa yang diyakininya sebagai kebenaran.

Orang-orang sekelas Petrus dan Barnabas pernah terjerumus dalam kemunafikan. Mereka masih di tengah-tengah, antara percaya Injil Yesus Kristus dengan sepenuhnya atau dicampur dengan Yudaisme. Kehadiran rombongan orang-orang Kristen dari Yahudi yang masih melakukan adat istiadat Yahudi, telah memberi tekanan yang sangat besar kepada Petrus dan Barnabas. Paulus berusaha untuk memisahkan ibadah simbolik dengan ibadah hakikat. Petrus berusaha untuk mengajarkan Injil yang murni, tanpa dicampuradukkan dengan Yudaisme atau kepercayaan-kepercayaan lainnya. Hal itu tidak mudah, terutama bagi orang-orang Kristen yang dulu pernah memiliki kepercayaan atau kebiasaan selain Kristen. Bahkan orang Kristen sendiri juga membangun tradisi-tradisi tertentu yang mengikat bagi generasi berikutnya.

Di ayat 19, Paulus mengajarkan dan memberi teladan kepada kita bahwa ketika kita sudah menyatakan diri bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, maka hidup kita sepenuhnya dan seutuhnya diperuntukkan kepada Tuhan. Ketika kita bertobat dan percaya kepada Yesus, maka kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa hidup kita yang lama telah disalibkan dan mati bersama Kristus. Saat ini kita menjadi manusia baru dan seharusnya hidup kita benar-benar berubah. Perubahan ini dimulai dari mindset atau pola pikir kita. Jika pola pikir kita tidak berubah, maka tindakan kita pun tidak berubah serta kita sebenarnya belum bertobat. Yesus telah mati menggantikan kita, saat ini kita hidup untuk menggantikan Yesus hidup di dunia ini.

Ketika kita membaca pernyataan “hidup untuk Tuhan”, ternyata bukan tentang melakukan praktik-praktik kesalehan untuk membuat Tuhan terkesan dengan kebaikan kita. Hidup untuk Tuhan artinya kita mengakui dan mensyukuri kebaikan Tuhan yang tidak ada bandingannya. Praktik kesalehan itu bukan tujuan, itu adalah efek pada saat kita mensyukuri kebaikan Tuhan. Sekali lagi, semuanya diawali dari pola pikir yang berubah. Jika kita berusaha untuk melakukan kebaikan atau kesalehan, maka kita akan tertekan. Itu juga yang pernah dialami oleh Martin Luther, ketika ia mengalami kehampaan diri. Ia mencoba untuk melakukan praktik kesalehan, tetapi tetap kosong dan hampa. Justru ia makin merasa terpuruk. Kegiatan ritualistik yang kita lakukan tanpa pengertian justru akan membuat kita semakin tertekan atau merasa berdosa. Orang-orang Yahudi ketika memiliki tujuan untuk mempraktikkan hukum Taurat tanpa pengertian, justru mereka semakin berbeban berat.

Kesadaran bahwa Kristus hidup di dalam kita juga penting. Hidup di dalam Kristus artinya kita memberi kebebasan kepada Kristus untuk mengontrol hidup kita. Kontrol yang dilakukan Yesus ternyata tidak meniadakan kebebasan kita. Keselamatan di dalam Kristus bukan perbudakan baru bagi kita. Ketika kita sadar, justru kita akan menikmati kebebasan yang penuh (bdg. Yoh 8:36). Kristus itu membebaskan kita dari belenggu dosa, bukan menambah berat hidup kita. Ketika kita sudah menjadi orang percaya dan masih merasa bahwa beban hidup kita berat, kita bisa bandingkan hidup kita dengan hidup Yesus Kristus sendiri atau para rasul. Dengan melakukan hal itu, maka kita akan mengucap syukur karena apa yang kita alami tidak seberat mereka.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *