Banyak Dosa, Banyak Kasih Karunia

Roma 6:1-14

Apa yang diajarkan oleh Yesus dan dijelaskan secara detail oleh Paulus, keselamatan adalah anugerah Tuhan. Kita diselamatkan oleh Tuhan, bukan berdasarkan perbuatan kita, tetapi berdasarkan pertobatan dan percaya kita. Keselamatan bukan didapat dari usaha manusia, tetapi karena kasih Tuhan kepada manusia, yang mengirim Anak-Nya yang tunggal untuk menggantikan kita dihukum mati di atas kayu salib. Kesimpulan mengenai keselamatan yang diajarkan oleh Yesus dan Paulus bahwa perbuatan kita tidak memengaruhi keselamatan. Orang yang melakukan dosa, tetapi tetap di dalam Yesus, tetap diselamatkan. Jika kita tidak berhati-hati dalam memahami pengajaran ini, akan mendorong kita untuk mengabaikan perbuatan yang kita lakukan, bahkan cenderung bebas untuk melakukan dosa.

Pengajaran ini pernah diprotes oleh orang-orang Kristen Yahudi yang pada waktu itu hidup di kota Roma. Ketika mereka mendengar pengajaran dari Paulus mengenai keselamatan adalah anugerah, Tuhan menjamin keselamatan orang percaya sampai kekekalan, orang Kristen Yahudi itu keberatan dan khawatir. Mereka khawatir jika orang-orang Kristen akan tetap hidup di dalam dosa. Karena itulah, di ayat yang kita baca ini, Paulus menjelaskan secara detail tentang pengajarannya, supaya tidak ada yang salah paham. Kesalahpahaman bisa terjadi ketika kita membaca Alkitab sepotong-sepotong, seperti yang ditulis di dalam Roma 5:20-21. Yang perlu kita pahami, tidak mungkin Tuhan menyelamatkan manusia dari dosa, tetapi manusia itu sendiri tidak mau meninggalkan dosa.

Secara teori mungkin kita tidak setuju dengan pendapat dari orang-orang Kristen Yahudi. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, seringkali orang-orang yang mengaku Kristen, tetapi mereka masih mudah untuk melakukan dosa, padahal hal itu sangat menjijikkan bagi Tuhan. Tindakan seperti ini sama saja dengan mempermainkan Tuhan. Kita mungkin sengaja berbuat dosa dengan perhitungan bahwa Tuhan pun nanti akan mengampuni kita. Seharusnya orang percaya tidak melakukan hal itu, karena kita telah mati bagi dosa.

Jika kita telah mati bagi dosa, maka seharusnya kita tidak memiliki hubungan lagi dengan dosa. Kehidupan orang percaya seharusnya berbeda dengan kehidupan orang yang masih di dalam dosa. Jelas cara berpikir serta tindakannya sangat bertentangan. Hal ini bisa disamakan antara dunia ulat dengan dunia kupu-kupu, sangat berbeda. Seekor kupu-kupu tidak akan mau untuk menjadi ulat lagi. Kita yang telah mati bagi dosa tidak akan mungkin mau hidup di dalam dosa lagi. Orang mati bagi dosa, pada saat mereka bertobat dan percaya kepada Yesus. Jika Tuhan memberikan kesempatan, maka orang tersebut menyaksikan pertobatannya melalui tanda baptis di dalam Kristus.

Setelah kita mati bagi dosa, manusia lama kita seharusnya turut disalibkan dan tubuh dosa kita kehilangan kuasa (ayat 6). Tetapi godaan untuk berbuat dosa masih saja menghantui kita. Karena itu, yang harus kita kerjakan sekarang adalah mengendalikan diri atau menguasai diri. Baik bagi kita untuk terus menerus mengingat penderitaan, penyaliban dan kematian Yesus Kristus, supaya pikiran kita tetap terkendali. Seharusnya kasih karunia Tuhan itu berlimpah-limpah bagi kita bukan karena kita banyak berbuat dosa, tetapi karena kita bisa mensyukuri kasih Tuhan terhadap kita. Dengan demikian kita bisa terus memiliki kekuatan untuk menentang godaan perbuatan dosa itu.

Jika kita melimpah dengan ucapan syukur, maka kita bisa lebih fokus pada hidup sebagai manusia baru. Kita adalah milik Kristus dan manusia lama tidak berkuasa lagi. Memang kita bisa jatuh ke dalam dosa, tetapi jangan sampai kita hidup lagi di dalam dosa itu, apalagi sampai keluar dari Kristus. Ingatlah bahwa kasih Tuhan itu di luar nalar manusia, tidak masuk akal, tetapi Tuhan tetap melakukannya. Dengan mengingat hal itu, maka kita tidak akan pernah mempermainkan hidup kita yang sudah ada di dalam Kristus.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *