Kedatangan Hari Tuhan (Jelajah PB 1002)

2 Petrus 3:9-18

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, termasuk soal kedatangan-Nya yang kedua kali ke dunia. Banyak orang yang meragukan hal itu, karena sudah ribuan tahun sejak janji itu disampaikan, belum ada tanda-tanda kedatangan-Nya. Ada juga yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap manusia. Tuhan menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Kita harus sadar akan semua itu, Tuhan menunda kedatangan-Nya supaya kita merasakan bisa lahir dan hidup di dunia ini. Jika Tuhan sudah datang seribu tahun yang lalu, kita tidak bisa merasakan menjadi manusia. Tuhan sangat sabar, karena Dia tidak mau ada satu orang pun yang binasa.

Hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Semua ini akan lengkap dibahas dalam kitab Wahyu. Jika semuanya akan hancur seperti itu, seharusnya kita menggunakan kesempatan dalam hidup kita dengan kesalehan dan kesucian. Kita bisa mempercepat kedatangan Tuhan dengan cara memberitakan Injil (bdg. Matius 24:14).

Pada hari Tuhan itu, langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji Tuhan, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, yang di dalamnya terdapat kebenaran. Tuhan menciptakan ulang bumi ini serta masuk ke dalam Kerajaan Seribu Tahun. Bumi yang ada sekarang ini akan dihancurkan dalam rentang waktu tujuh tahun, pada saat terjadi kesusahan besar (masa tribulasi).

Sambil menantikan semuanya itu, kita sebagai orang percaya harus berusaha supaya kita kedapatan tidak bercacat dan tidak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Tuhan. Artinya, kita harus hidup saleh, hidup dengan takut dan gentar akan Tuhan. Kita harus hidup menyenangkan hati Tuhan dan melakukan segala sesuatu seturut dengan kehendak Tuhan. Kita harus hidup dengan hati-hati dan penuh dengan kewaspadaan.

Kita harus memiliki pikiran yang positif, bahwa kesabaran Tuhan itu sebagai kesempatan bagi kita untuk beroleh selamat. Dalam tulisan ini, Petrus juga mengingat pada Paulus. Meskipun Paulus pernah menegur Petrus dengan sangat keras, tetapi Petrus menerimanya dengan penuh kerendahan hati. Orang yang sudah bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus seharusnya juga memiliki sikap yang demikian, mau ditegur jika salah atau perilakunya tidak sesuai dengan firman Tuhan. Kita bisa memperbaiki diri dan bahkan berterima kasih kepada orang yang telah menegur kita. Saudara seiman kita mau menegur kita, berarti dia mengasihi kita dan tidak mau kita terjebak atau terbelenggu dalam dosa.

Jika hati orang tidak beres, mereka bisa sengaja memutarbalikkan firman Tuhan. Merekalah yang menjadi guru-guru palsu itu. Tetapi kita yang sudah mengetahui semuanya ini, kita patut waspada. Jangan sampai kita ikut terseret dalam kesesatan orang-orang yang tidak mau mengenal firman Tuhan dengan baik. Jangan sampai kita kehilangan pegangan. Kita harus bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi Dia kemuliaan, sekarang sampai selama-lamanya, Amin.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *