Salam Dari Paulus (Jelajah PB 708)

2 Korintus 13:11-13

Meskipun perpecahan di dalam jemaat membuat jemaat tersebut tidak memiliki kesaksian yang baik, tetapi jika perpecahan tersebut terjadi karena menguji kebenaran, maka perpecahan itu bisa juga dipakai untuk pemurnian jemaat. Berbeda jika perpecahan tersebut terjadi karena konflik kepentingan, karena ada perebutan kekuasaan atau perebutan anggota jemaat atau perebutan harta milik di jemaat tersebut. Perpecahan yang demikian tentunya akan membuat jemaat tersebut semakin terpuruk. Jika dalam satu jemaat bisa sehati sepikir dan bisa hidup dalam damai sejahtera, maka Tuhan, sumber kasih dan damai sejahtera itu akan menyertai jemaat.

Rasul Paulus selalu berdoa supaya kasih dan damai sejahtera Tuhan melingkupi dan menyertai jemaat serta orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Paulus juga memberi salam kepada jemaat dengan cium yang kudus. Sepertinya cium kudus ini menjadi kebiasaan di jemaat Kristen mula-mula. Ini adalah bentuk ungkapan kasih yang mungkin seperti salaman pada saat ini.

Berbicara mengenai salam, akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk menggunakan bahasa asing, seperti Shalom / Syalom (bahasa Ibrani). Sepertinya kecenderungan ini terjadi karena beberapa orang yang pindah agama menjadi Kristen. Mungkin kecenderungan ini juga terjadi karena semakin banyak orang Indonesia yang pernah tur (wisata rohani) ke Yerusalem, sehingga salam dalam bahasa Ibrani ini terkesan lebih keren. Karena terbiasa menggunakan bahasa asing ketika memberi salam, maka mereka pun mengadopsi bahasa Ibrani untuk salam. Padahal sebenarnya salam orang Indonesia juga ada, seperti selamat pagi atau selamat siang. Menggunakan salam dengan bahasa asing tidak akan membuat kita menjadi semakin rohani. Hal ini yang mengakibatkan pejabat-pejabat negara seringkali memberikan salam terlalu panjang. Salam terkesan seperti memiliki agama, padahal semua salam itu cukup disingkat menjadi selamat pagi atau selamat siang atau selamat malam.

Sebenarnya, tidak ada gunanya juga menggunakan salam dengan bahasa Ibrani. Bangsa Yahudi pada saat ini sudah tidak berfungsi sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran. Bangsa Yahudi mendapatkan posisi itu pada saat hukum Taurat diturunkan sampai Yohanes Pembaptis tampil dan memperkenalkan Yesus sebagai Juruselamat, sebagai Anak Domba Tuhan yang menyelamatkan dunia ini. Posisi itu saat ini berada di tangan jemaat lokal. Jemaat inilah yang seharusnya menjadi saksi bagi bangsa Yahudi. Karena itu, kita tidak perlu membuat diri kita menjadi ke-Yahudi-Yahudi-an.

Paulus menyampaikan salam dari jemaat di Makedonia. Jemaat di Makedonia disebut sebagai orang kudus. Mereka disebut sebagai orang kudus bukan karena mereka tidak melakukan dosa, tetapi karena mereka telah percaya kepada Tuhan. Orang kudus tidak ditetapkan oleh gereja bagi orang-orang yang sudah meninggal, tetapi itu adalah sebutan bagi orang-orang percaya, karena mereka telah memiliki posisi sebagai orang kudus karena telah dikuduskan oleh penyaliban Tuhan Yesus. Paulus juga menyebutkan mengenai Tritunggal Tuhan. Ini adalah doa Paulus bagi jemaat di Korintus. Doa ini juga yang seringkali kita sampaikan, karena memang kita percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita, di manapun kita berada.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *