Pentingnya Pemberitaan Injil (Jelajah PB 566)

Roma 10:16-21

Gereja memiliki kewajiban untuk mengajarkan kebenaran sesuai dengan Alkitab. Jangan sampai gereja mengutus orang-orang untuk memberitakan Injil yang salah. Jika yang diberitakan adalah Injil yang salah, maka orang-orang pun akan beriman secara salah. Kegiatan pemberitaan Injil sangat diperlukan, supaya semakin banyak orang yang bisa mendengarkan berita Injil, terutama berita Injil yang sehat dan benar, sesuai dengan kebenaran yang tercatat di dalam Alkitab. Kita mungkin mendapati hari-hari ini banyak gereja yang lemah dalam semangat penginjilan. Orang tidak lagi antusias dalam memberitakan Injil karena mereka ragu-ragu dengan keselamatan mereka sendiri. Kita memang seharusnya tetap hidup toleransi dengan orang lain yang berbeda keyakinan. Tetapi toleransi ini jangan sampai menimbulkan kompromi dalam diri kita, sehingga kita pun tidak memberitakan Injil. Kuncinya adalah pemberitaan Injil. Respon orang terhadap Injil bisa bermacam-macam. Respon itu sudah bukan tanggung jawab kita, tetapi tanggung jawab setiap orang yang mendengarkan Injil. Yang terpenting, kita memberitakan Injil yang sesuai dengan Alkitab, tanpa perlu menyinggung kepercayaan atau keyakinan orang lain.

Kekristenan di negara-negara barat telah mengalami kemunduran. Ini bisa menjadi pelajaran bagi kita, karena kemungkinan besar gereja-gereja di sana sudah tidak memberitakan Injil lagi. Mereka bahkan mungkin ragu dengan keselamatan atau dengan iman mereka sendiri. Mereka tidak bangga dengan firman Tuhan, sehingga tidak ada semangat untuk memberitakan Injil. Atau mereka sudah salah memahami Alkitab, sehingga tidak ada dorongan untuk memberitakan Injil.

Meskipun kita telah memberitakan Injil dengan berbagai macam cara dan mungkin membutuhkan biaya yang sangat mahal, tetapi ternyata tidak semua orang mau menerima kabar baik atau berita Injil itu. Yesaya sendiri pernah berkata dengan pesimis, “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?” Paulus menekankan bahwa iman atau percaya akan timbul dari pendengaran, yaitu pendengaran oleh firman Kristus. Iman tidak diberikan oleh Tuhan. Jadi, kita tidak bisa minta iman dari Tuhan. Iman itu seharusnya timbul dari dalam hati kita, ketika kita merespon dengan positif terhadap berita Injil atau firman Kristus.

Suara orang yang memberitakan Injil sudah sampai di mana-mana, sampai di ujung bumi. Bahkan orang-orang non Yahudi sudah banyak yang percaya kepada Yesus Kristus. Jika bangsa Israel tidak bisa menggunakan kewenangannya sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran, maka kewenangan itu akan diberikan kepada jemaat atau gereja yang di dalamnya terdiri dari orang-orang yang sudah percaya dari berbagai suku bangsa. Orang Yahudi seharusnya tahu dan sadar bahwa itu adalah kesalahan mereka. Sebagian besar orang Yahudi atau bangsa Israel tidak merespon berita Injil secara positif. Justru bangsa non Yahudi yang menanggapi secara positif berita Injil itu.

Pasal ini adalah argumentasi Paulus tentang pergeseran kewenangan sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran, dari bangsa Israel kepada gereja lokal (jemaat). Saat ini adalah tugas gereja untuk menjadi pemberita kabar baik, untuk menyatakan kebenaran itu kepada semua orang di muka bumi ini. Jangan sampai gereja juga menjadi lemah dan mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh bangsa Israel. Gereja harus memberi pengajaran yang sehat dan benar kepada jemaat, sehingga ada jemaat-jemaat yang mau diutus untuk pergi memberitakan Injil. Paling tidak, jemaat siap menjadi terang di manapun mereka berada.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *