Jelajah PB 202 (Lukas 6:46-49)

Ada dua orang yang sama-sama mendengar firman Tuhan. Orang itu diumpamakan sebagai orang-orang yang sedang mendirikan bangunan (rumah). Perbedaannya, yang satu adalah orang yang bijaksana, yaitu orang yang mendengarkan firman Tuhan lalu melakukannya dengan sungguh-sungguh. Sedangkan yang satu adalah orang yang bodoh, yang juga mendengarkan firman Tuhan tetapi tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh. Orang yang kedua ini mungkin hanya berseru kepada Tuhan , tetapi tidak melakukan apa yang Tuhan katakan.

Tuhan Yesus menunjukkan hal ini, sebagai pembedaan tentang dasar yang kuat serta dasar yang tidak kuat. Orang yang mendengar serta melakukan firman Tuhan adalah orang yang menggali tanah dalam-dalam dan meletakkan dasar rumah yang didirikannya itu di atas batu. Sedangkan orang yang mendengar firman Tuhan tetapi tidak melakukannya adalah orang yang mendirikan rumah di atas pasir, yang tidak mempunyai pondasi yang kokoh. Rumah yang dibangun di atas pasir tidak akan kokoh berdiri. Dalam keadaan normal, keadaan fisik bangunan dari rumah tersebut pasti tidak akan bisa tegak lurus. Bangunan akan kacau dan bergeser ke mana-mana, padahal belum ada hujan atau banjir. Apalagi jika ada hujan dan banjir, seketika saja rumah itu pasti akan roboh. Semua yang dia kerjakan sebenarnya sia-sia, meskipun tanpa ada hujan dan banjir.

Membangun hidup ini sama dengan membangun rumah. Bedanya hanya pada pondasinya. Orang yang malas, tidak mau mempelajari firman Tuhan dan tidak melakukannya, hanya membangun hidupnya di atas pasir. Sedangkan orang yang mau menggali tanah, menggali firman Tuhan dan kebenarannya, kemudian memberikan batu di atasnya, maka orang tersebut akan mempunyai kekuatan iman yang besar, yang membuat dia bisa bertahan hidup dengan banyak ujian. Dengan cara demikian, kehidupan kita akan menjadi kokoh dan kuat.

Ketika kita membaca Alkitab dan merenungkannya, pasti firman itu akan berbicara kepada kita. Firman itu akan membantu memeriksa hidup kita. Karena itu kita tidak mungkin bisa berdiam diri, karena firman juga dikatakan tajam seperti pedang bermata dua. Jika hati kita peka, tidak mungkin tidak akan ada perubahan ketika kita membaca dan merenungkan firman Tuhan. Jika tidak ada perubahan sama sekali, maka itulah yang disebut bodoh atau bebal. Bodoh artinya kita tidak tahu apa-apa, sehingga perlu dituntun oleh orang yang mengerti supaya kita bisa tahu. Bebal artinya kita tahu tetapi tidak mau tahu, tidak mau melakukannya.

Membangun pondasi dengan batu memerlukan waktu yang cukup lama. Belum lagi harus menggali tanah terlebih dahulu sebelum diisi dengan batu. Perlu waktu, perlu tenaga dan perlu perjuangan untuk melakukan semua itu.

Banyak orang berpikir bahwa ketika sudah membaca, merenungkan firman Tuhan dan hidup taat, maka segalanya akan berjalan dengan baik dan lancara, tidak akan menemui badai. Jangan kita terlena dengan yang seperti ini. Semua orang pasti akan mengalami masalah dan badai dalam kehidupannya masing-masing, akan mengalami kesulitan demi kesulitan. Karena itu kita harus sadar bahwa badai diizinkan oleh Tuhan supaya bisa memurnikan iman kita, agar hidup kita benar-benar berserah dan bersandar pada Tuhan, dan badai itu juga bisa menyempurnakan karakter hidup kita. Karena itu penting bagi kita untuk memiliki pondasi iman yang kuat, sehingga tidak mudah goyah dan roboh oleh badai kehidupan yang mungkin akan menerpa kita.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *