Jelajah PB 200 (Lukas 6:41-42)

Sebagai orang percaya kita harus belajar untuk tidak terburu-buru menilai orang lain. Janganlah kita seperti orang Farisi dan para ahli Taurat yang mudah sekali menghakimi orang lain, sedangkan mereka mempunyai perilaku yang tidak terpuji, tidak sesuai dengan yang mereka ajarkan. Karena itu Tuhan Yesus ingin supaya kita terlebih dahulu melihat diri kita sendiri serta membereskan diri sendiri. Ketika kita sudah beres dengan diri kita sendiri, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menolong orang lain, untuk melihat kesalahan mereka dan membantu meluruskan mereka.

Pada prinsipnya Tuhan Yesus tidak serta merta melarang kita menghakimi. Karena itu Tuhan Yesus berkata supaya kita mengeluarkan balok di mata kita, supaya kita bisa dengan sangat jelas membantu orang lain untuk mengeluarkan selumbar itu dari saudara kita. Jangan sampai kita menjadi orang yang munafik, yang justru kesalahan kita lebih besar daripada kesalahan saudara kita. Karena itu Yesus membandingkan bahwa kesalahan diri sendiri itu sebagai balok, sedangkan kesalahan orang lain hanya sebatas serpihan (selumbar) saja.

Menilai orang lain supaya orang tersebut bisa lebih baik, itu tidak keliru. Membantu orang lain untuk mengenali dan membersihkan kesalahan pada diri mereka itu adalah sesuatu yang sangat terpuji. Tuhan Yesus tidak melarang kita untuk membantu orang lain mengeluarkan selumbar di mata mereka. Kasih kita sebagai orang percaya justru mendorong kita untuk melakukan hal tersebut. Alkitab sendiri berkata supaya kita membimbing atau menegor orang lain yang melakukan kesalahan.

Sekali lagi, yang dipersoalkan oleh Tuhan Yesus adalah kemunafikan yang terjadi pada saat menolong orang lain yang bersalah. Kita terkadang seolah-olah lebih baik daripada orang yang kita tolong. Kita seringkali melihat kesalahan orang lain lebih jelas atau lebih besar dari diri kita sendiri. Tetapi pada kenyataannya, justru mungkin kesalahan kita lebih besar dan keadaan kita lebih buruk daripada orang yang kita tegor. Jika itu terjadi, jangan sampai kita sendiri masuk dalam sebutan sebagai orang-orang munafik.

Di dalam 1 Timotius 4:16, rasul Paulus memperingatkan Timotius untuk mengawasi perilakunya dan ajarannya. Kita sendiri harus mengawasi diri kita, mengawasi tingkah laku kita sendiri, mengawasi jalan hidup kita serta mengawasi apa yang kita ajarkan kepada orang lain. Kita dituntut untuk menjaga hati, menjaga moral dan perilaku kita terlebih dahulu. Mau tidak mau, kita sebagai orang percaya harus menjadi pedoman kehidupan bagi orang lain, menjadi contoh, menjadi terang bagi dunia yang gelap ini.

Sebagai orang percaya, kita harus mengerti betul apa yang kita pelajari di dalam Alkitab. Ketika orang percaya mengerti betul tentang pengajaran yang ada di Alkitab, maka kita akan mempunyai moral yang tinggi. Orang yang yakin bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, maka dia akan berusaha untuk melakukan firman Tuhan dalam kehidupannya sehari-hari, dimanapun dia berada. Orang yang melakukan firman Tuhan, maka kehidupannya pasti akan berubah menjadi lebih baik. Jika moral kita buruk, maka bisa dipastikan bahwa ada sesuatu yang salah yang kita pelajari. Orang-orang yang memiliki moral yang baik, akan mengubah semua yang ada disekitarnya. Terkadang kita bisa mengubah perilaku orang lain tanpa kita menegor mereka, karena mereka melihat apa yang kita lakukan setiap hari.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *