Jelajah PB 187 (Lukas 4:31-35)

Setelah dari Nazaret, menghindari orang-orang yang akan memasukkan-Nya ke jurang, Yesus menuju ke Kapernaum. Yesus mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Yesus sebenarnya memang sudah pindah tempat tinggal, dari Nazaret ke Kapernaum. Orang-orang takjub dengan semua yang diajarkan oleh Tuhan Yesus karena pengajaran-Nya penuh dengan kuasa.

Di rumah ibadat itu ada seseorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras. Setan yang merasuki orang tersebut berteriak-teriak bukan untuk menghormati Tuhan Yesus atau memuliakan-Nya. Teriakan setan ini sepertinya untuk mengacaukan suasana. Setan ini sebenarnya ingin supaya Yesus segera mengumumkan bahwa Diri-Nya adalah Mesias, sebelum Yesus sempat mengajarkan pengajaran-Nya secara keseluruhan. Tuhan Yesus tidak ingin, sebelum Dia mengajarkan pengajaran-Nya secara keseluruhan dan mengajarkan-Nya kepada para murid, para ahli Taurat dan orang Farisi sudah merasa iri kepada-Nya.

Kita juga sudah membaca berkali-kali bahwa Yesus memberi peringatan kepada orang-orang yang disembuhkan, supaya tidak memberitahukan kepada banyak orang tentang apa yang sudah terjadi. Demikian juga Yesus beberapa kali berpesan kepada para murid supaya tidak menceritakan apa yang mereka alami bersama dengan Yesus. Yesus melakukan itu supaya Yesus tidak terlalu cepat dikenal sebagai Mesias. Jika Yesus segera menyatakan diri-Nya sebagai Mesias, maka para imam Yahudi akan datang kepada Yesus bukan untuk menyembah Dia, tetapi akan segera membunuh Yesus karena dianggap telah menghujat Allah. Jika hal itu terjadi, maka akan menyebabkan tujuan Tuhan Yesus untuk mendidik dan membentuk para murid tidak akan tercapai.

Karena itulah setan yang merasuki orang tersebut berseru-seru untuk mengacaukan keadaan. Di dalam Kisah Para Rasul 16:16-18, hal yang sama juga pernah dialami oleh para Paulus, yaitu ada seruan dari seorang perempuan yang sedang kerasukan setan. Sepertinya yang diserukan oleh perempuan itu tidak ada yang salah. Seharusnya rasul Paulus senang dengan seruan dari perempuan itu. Tetapi yang dilakukan oleh Paulus adalah menengking roh yang merasuki perempuan itu dan akhirnya roh itu meninggalkan perempuan itu. Artinya, saat ini kita tidak perlu heran jika ada Iblis yang memberitakan Injil. Iblis memberitakan Injil tetapi bukan Injil yang sempurna. Contohnya, orang yang memberitakan Injil dengan cara menilai segala sesuatu dari hal materi saja, itu adalah contoh pemberitaan Injil yang tidak sempurna.

Iblis adalah makhluk yang cerdik, bukan makhluk yang bodoh. Karena itu Iblis di dalam Perjanjian Lama digambarkan seperti ular, salah satu makhluk yang cerdik. Dia bisa memanipulasi firman Tuhan. Dia bisa memberitakan Injil, tetapi bukan itu yang dimaksudkan. Dia ingin mengacaukan keadaan secara halus. Jika Iblis melakukan kekerasan, maka tidak akan banyak orang yang tertarik, meskipun Iblis juga melakukan kekerasan di mana-mana. Tetapi tidak semua berhasil dilakukan dengan cara kekerasan. Sebagian anak buahnya menggunakan kekerasan, tetapi sebagian lagi berkamuflase, pura-pura saleh.

Iblis juga bisa membuat orang salah sangka. Karena itu benar apa yang dikatakan di dalam Alkitab, bahwa ada jalan yang sepertinya lurus tetapi ujungnya adalah maut. Orang-orang Kristen harus berhati-hati supaya bisa membedakan semua itu. Tidak semua yang menyebut nama Yesus adalah pemberitaan Injil yang sebenarnya. Karena itu Alkitab berkata supaya kita menguji segala sesuatu dan pegang yang baik.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *