Jelajah PB 157 (Markus 14:32-42)

Akhirnya sampailah Yesus dan para murid di taman Getsemani. Yesus meminta para murid lain untuk duduk di suatu tempat di taman itu. Kemudian Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk masuk ke taman yang lebih dalam lagi karena Yesus mau berdoa. Yesus maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa kepada Bapa di Sorga. Sekiranya mungkin penyaliban itu tidak terjadi pada Yesus, sekiranya ada cara lain untuk menyelamatkan manusia yang berdosa itu, tetapi Yesus menyerahkan semuanya kepada kehendak Bapa.

Peristiwa pada saat di taman Getsemani sampai kepada penyaliban, kita bisa melihat bahwa kemanusiaan Yesus sangat ditonjolkan. Hal itu dilakukan karena Dia sedang mewakili manusia dihukum atas dosa seluruh umat manusia. Dia betul-betul Anak manusia. Yesus juga sering memakai istilah Anak Manusia ketika dia sedang melayani di dunia. Pada saat di akhir hidup-Nya sebagai manusia, Tuhan Yesus tidak menonjolkan keilahian-Nya. Dia lebih banyak menonjolkan kemanusiaan-Nya. Karena itu digambarkan bahwa Yesus sangat takut dan gentar.

Bapa memang tidak memakai cara yang lain untuk menyelamatkan manusia dari dosa meskipun di sana dikatakan tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Di dalam 2 Timotius 2:13b dikatakan bahwa Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. Tuhan tidak akan mungkin bisa menerima orang berdosa masuk Sorga, tanpa dosanya terlebih dahulu dijatuhi hukuman. Tuhan kita adalah Tuhan yang maha kudus. Dia sangat ingin supaya semua orang yang berdosa diselamatkan dan berkumpul dengan Dia di Sorga. Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. Dia tidak mungkin membiarkan dosa “sekecil” apapun masuk ke dalam Sorga. Sifat dari Tuhan tidak memungkinkan untuk manusia bisa menghampiri diri-Nya yang maha kudus tersebut.

Setelah Yesus berdoa, Ia mendapati para murid sedang tidur. Hati mereka ingin berjaga-jaga tetapi tubuh mereka lemah dan terbatas. Yesus memberitahu kepada para murid supaya mereka juga berdoa dan berjaga-jaga. Terutama dalam kondisi yang tidak baik. Memang para murid pada saat itu belum tahu apa yang sebenarnya akan terjadi, sehingga mereka pun tidak menggunakan waktu untuk berjaga-jaga dan berdoa, tetapi mereka malah tertidur. Berjaga dan berdoa itu diperlukan supaya kita tidak jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut tetapi daging itu lemah. Keinginan hati bisa menggebu-gebu, tetapi keadaan tubuh belum tentu bisa menopang semua keinginan kita.

Setelah tiga kali Tuhan Yesus berdoa, akhirnya Dia mengatakan bahwa waktunya sudah tiba. Tuhan Yesus tahu persis apa yang akan terjadi, yaitu Yudas Iskariot. Pada waktu perjamuan malam, Yudas Iskariot sudah pergi terlebih dulu. Kemungkinan besar para murid yang lain menyangka kalau Yesus menyuruh Yudas Iskariot untuk membeli tambahan bahan perjamuan. Tetapi ternyata Yudas Iskariot pergi untuk mempersiapkan diri menyerahkan Tuhan Yesus kepada para imam kepala, ahli Taurat dan imam-imam.

Yesus adalah Tuhan yang maha tahu. Dia sudah tahu Yudas sampai di mana. Dia tahu apa yang pernah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Dia juga tahu semua yang dipikirkan oleh manusia.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *