Jelajah PB 131 (Markus 10:10-16)

Setelah sampai di rumah, para murid bertanya lagi tentang perceraian. Mereka ingin mengerti lebih dalam mengenai pengajaran Yesus tentang perceraian. Yesus berkata bahwa siapa yang menceraikan istrinya dan menikah dengan perempuan lain, maka dia dianggap zinah dengan istri barunya. Demikian juga jika seorang istri menceraikan suaminya dan menikah dengan laki-laki lain, maka ia juga berbuat zinah terhadap suaminya yang baru itu. Hal ini perlu diperhatikan oleh orang-orang Kristen, supaya menghargai pernikahan. Pernikahan adalah janji seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk hidup bersama, sampai maut memisahkan. Jika terjadi perceraian, maka akan banyak yang menjadi korban. Tetapi jika kita adalah korban perceraian (orang yang diceraikan, bukan orang yang menceraikan), seharusnya saudara-saudari yang lain terus memberikan kekuatan dan penghiburan kepadanya. Tidak mudah untuk melanjutkan hidup karena korban perceraian.

Kemudian ada orang yang membawa anak-anak kecil kepada Yesus. Mereka ingin anak-akan tersebut diberkati oleh Yesus. Tetapi para murid memarahi orang-orang itu. Melihat itu, Yesus balik marah kepada para murid. Yesus mengatakan kepada para murid bahwa anak-anak itulah yang empunya kerajaan Allah. Yesus marah kepada murid, bukan membenci para murid. Yesus marah ketika ada hal-hal yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Kemarahan Yesus seharusnya membuat murid-murid belajar, bahwa ada prinsip-prinsip yang ingin Yesus ajarkan dan prinsip itu harus dimengerti dengan jelas. Supaya para murid melakukan segala sesuatu dengan hikmat yang dari Tuhan.

Orang percaya pun boleh marah, tetapi harus tetap terkendali. Kita bisa marah karena melihat sesuatu yang buruk, sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Kita marah jika ada seseorang yang melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Kita bisa marah karena sesuatu yang salah. Tetapi kemarahan kita harus terkendali, bukan amarah. Yang tidak diperbolehkan bagi kita adalah membenci. Membenci adalah sifat yang bisa terus-menerus ada dalam hidup kita. Tetapi marah yang terkendali terjadi hanya saat melihat ada sesuatu yang buruk, yang seharusnya tidak terjadi.

Para murid sepertinya tidak mau diganggu oleh anak-anak. Kita tahu bahwa anak-anak itu masih polos. Mereka harus dibimbing dan dibesarkan dalam kasih. Ketika mereka bertumbuh besar, harapan para orang tua, mereka mempunyai pertumbuhan yang baik, mempunyai iman yang kuat dan mental yang tangguh. Semua itu memerlukan proses. Perlu bantuan dari orang dewasa, supaya mereka bisa bertumbuh dengan sehat. Banyak anak-anak mengalami trauma dalam hidupnya, karena pernah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Anak-anak itulah yang mempunyai kerajaan Allah. Mereka, jika belum akil balik dan meninggal (dipanggil Tuhan), maka mereka pasti masuk sorga. Karena semua dosa yang diakibatkan oleh Adam dan Hawa telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib. Sedangkan kita yang sudah dewasa, bisa jatuh ke dalam dosa lagi karena kesadaran diri sendiri. Akhirnya kita menjadi orang yang berdosa, bukan lagi karena Adam dan Hawa, tetapi karena diri kita sendiri. Karena itulah, orang-orang yang sudah akil balik, yang berbuat dosa karena diri sendiri, perlu bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *