Jelajah PB 104 (Markus 4:26-34)

Selanjutnya Tuhan Yesus mengajar dengan perumpamaan lain, yang menggambarkan tentang jemaat yang sudah berdiri. Perumpamaan yang pertama, Yesus mengatakan bahwa ada benih yang ditabur di tanah dan akhirnya benih itu tumbuh. Pertumbuhannya cukup pesat, penabur bahkan tidak menyadarinya, tumbuh tinggi dan akhirnya berbuah dan masak. Ini mengambarkan mengenai fokus pemberitaan firman Tuhan. Bukan fokus kepada pertumbuhan dan menuai buah, tetapi fokus kepada pemberitaan Injil demi pemberitaan Injil. Mengolah tanah dengan serajin-rajinnya, menabur benih dengan sebanyak-banyaknya. Tugas kita adalah memberitakan Injil sebanyak mungkin. Kita membiarkan Tuhan yang menumbuhkan benih firman Tuhan yang sudah kita tabur tersebut. Kita juga tidak boleh kecewa jika benih yang kita tabur dipatuk burung atau jatuh di tanah yang berbatu atau bersemak duri. Kita hanya bisa berdoa supaya hati manusia seperti tanah yang subur, supaya benih itu bisa bertumbuh dan berbuah lebat.

Sampai pada akhir zaman, ketika buah sudah matang, maka akan dilakukan penuaian. Pada saat itu, akan ada kegembiraan yang besar, ketika melakukan penuaian. Ketika jemaat datang ke gereja untuk mendengarkan firman Tuhan, itu belum masa penuaian. Itu masa penyebaran benih dan pemupukan benih. Ketika orang-orang banyak datang ke gereja, itu juga belum masa penuaian, karena buah belum terlihat dari tindakan orang-orang yang pergi ke gereja. Pada saat sangkakala berbunyi, Yesus menyambut kita di awan-awan dan kita naik ke atas, itulah masa penuaian yang sebenarnya.

Karena itu, di waktu yang singkat ini, jadilah pekerja-pekerja Tuhan yang rajin untuk menabur benih firman Tuhan. Tanaman yang sudah tumbuh, kita rawat supaya bisa menghasilkan buah yang banyak. Iman yang ada pada kita supaya bisa bertumbuh dengan baik dan kuat, sehingga menghasilkan buah, yaitu kehidupan rohani yang memuliakan Bapa di Sorga.

Perumpamaan yang kedua, gereja juga ada yang digambarkan seperti biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Biji yang paling kecil, kemudian tumbuh menjadi pohon yang sangat besar. Ada sesuatu yang ganjil dengan perumpamaan ini. Apakah ada biji sayuran sawi bisa menjadi pohon yang sangat besar? Jika hal tersebut terjadi, maka sebenarnya telah terjadi mutasi gen yang luar biasa. Peristiwa itu bukanlah peristiwa yang sesuai dengan hukum alam yang berlaku. Jika sayuran sawi bisa menjadi pohon beringin, berarti ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada benih itu. Akan ada banyak burung yang bersarang di pohon itu.

Perumpamaan tentang pohon besar ini, sepertinya perumpamaan tentang hal yang negatif yang mau disampaikan oleh Tuhan Yesus. Hampir sebagian besar burung di dalam Alkitab digambarkan sebagai hal negatif, termasuk perumpamaan yang baru beberapa waktu kita baca dan renungkan. Ketika benih itu ditaburkan, maka ada burung yang memakan benih itu. Burung dalam perumpamaan itu digambarkan sebagai Iblis, sebagai sesuatu yang tidak positif.

Apakah arti perumpamaan ini? Kita bahas di seri selanjutnya.

Views: 47

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top