Menjadi Pelayan Tuhan (Motivasi)

Yohanes 12:1-8

Semua orang percaya, sama di mata Tuhan. Tuhan ingin memperlakukan semua anak-Nya sama. Meskipun demikian, secara logika manusia, kita bisa mengerti bahwa Tuhan berkenan pada orang-orang percaya tertentu, pasti yang melakukan kehendak-Nya dengan sesuai firman-Nya. Tuhan mengasihi semua orang, terutama orang yang percaya kepada-Nya. Tetapi di antara orang yang percaya kepada-Nya, ada saja orang-orang percaya tertentu yang benar-benar menyukakan hati Tuhan dan berkenan di hadapan Tuhan. Maria dan Marta, sama-sama dikasihi oleh Tuhan. Tetapi Maria memiliki tempat tersendiri di hati Tuhan.

Dari kisah di ayat yang kita baca, kita akan mendapati beberapa motivasi ketika seseorang ingin melayani Tuhan. Enam hari sebelum Paskah, Yesus datang ke Betania. Di situ sudah disiapkan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani seperti biasa. Selain Yesus dan para murid, sepertinya banyak orang lain yang datang ke perjamuan itu.

Dalam kondisi perjamuan yang ramai, tiba-tiba Maria masuk menemui Yesus, meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni dan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Dalam waktu singkat, aroma minyak semerbak di seluruh rumah itu. Mengetahui hal itu, Yudas langsung berkata (ayat 5): “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Perkataan Yudas ini pasti didengar oleh orang-orang yang berkumpul di situ. Mungkin beberapa orang setuju dengan perkataan Yudas tersebut.

Usulan Yudas ini kelihatan baik, tetapi tujuan dan motivasinya tidak baik. Karena itu Yesus tidak menolak perlakuan Maria, tetapi secara tidak langsung menolak usulan Yudas. Yohanes bahkan menulis motivasi itu dengan detail di ayat 6, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.” Sepertinya perilaku Yudas ini sudah diketahui oleh murid-murid Yesus, tetapi Yesus sendiri terkesan membiarkannya dan tidak menegur Yudas.

Sebenarnya kisah ini berlanjut dengan tragis, karena empat hari kemudian, Yudas menjual Yesus seharga tiga puluh keping uang perak (sekitar seratus dua puluh dinar). Yesus tidak bisa dikelabuhi dengan penampilan, karena yang dilihat oleh Yesus adalah hati dan motivasi pelayanan orang percaya.

Dari sisi Maria, perbuatannya di luar perkiraan banyak orang. Untuk memberikan minyak narwastu itu, ia perlu pengorbanan yang cukup besar. Tidak mudah bagi Maria memutuskan untuk mengurapi Yesus. Maria adalah seorang perempuan yang dianggap sebagai manusia nomor dua dalam tradisi Yahudi pada waktu itu. Maria melakukan semua itu di hadapan sebagian besar laki-laki. Maria belum menikah, demikian juga dengan Yesus. Kemungkinan besar, akan ada banyak kabar negatif, yang akan muncul setelah peristiwa itu. Maria lebih memikirkan perkenanan hati Tuhan daripada pujian dari manusia.

Prinsipnya, Tuhan melihat hati dan motivasi, bukan melihat perbuatan kita. Dalam hal ini, kita perlu menyelidiki hati dan motivasi kita, ketika melayani Tuhan. Yang Tuhan lihat bukan hasil dari pelayanan, tetapi hati seorang pelayan. Sepertinya tidak ada nabi atau rasul yang dipuji oleh Tuhan karena kesuksesan pelayanan mereka. Daud berkenan kepada Tuhan bukan karena telah membunuh Goliat. Salomo berkenan kepada Tuhan bukan karena berhasil membangun Bait Suci yang megah. Petrus berkenan kepada Tuhan bukan karena prestasinya, dalam sekali khotbah, lebih dari tiga ribu orang bertobat.

Dalam kisah Yunus misalnya, ia tidak memiliki motivasi yang murni untuk memberitakan keselamatan, tetapi ia berhasil membuat seratus dua puluh ribu jiwa bertobat, dengan khotbah yang sangat singkat. Sebaliknya dengan Nuh, ia memberitakan keselamatan selama membuat bahtera (seratus tahun lebih), tetapi hanya keluarganya saja yang percaya kepada Tuhan. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan lebih melihat hati dan motivasi, dibandingkan dengan hasil pelayanan. Yang memuji hasil pelayanan biasanya adalah manusia, sesama kita.

Matius 7:22-23, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Orang-orang yang ditolak ini sedang meyakinkan Tuhan dengan prestasi dan perbuatannya. Tetapi justru Tuhan mengatakan bahwa mereka adalah pembuat kejahatan.

Mereka adalah orang-orang yang melayani dengan motivasi yang salah dan membanggakan hasil pelayanan. Di ayat 15 dikatakan bahwa mereka adalah nabi-nabi palsu, yang menyamar seperti domba, tetapi sebenarnya mereka adalah serigala yang buas. Kita tidak bisa membayangkan di akhir zaman, banyak orang yang saat ini identitasnya adalah hamba Tuhan atau aktivis gereja, tetapi pada akhirnya ditolak oleh Tuhan. Jika saat ini kita memiliki motivasi yang salah dan mendengar khotbah ini, akan terbersit pikiran: kalau begitu, tidak usah melayani, lebih aman. Benarkah demikian? Ini juga pemikiran yang salah, yang perlu diluruskan.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *