Melayani Dengan Bertanggungjawab

1 Korintus 4:1-2

(1) Beginilah hendaknya orang memandang kami: Sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.
(2) Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.”

Paulus sedang menyampaikan kepada jemaat di Korintus bahwa ia adalah hamba Kristus yang mendapatkan pewahyuan (rahasia Tuhan), untuk disampaikan kepada mereka. Memang Paulus telah menjadi rasul Yesus Kristus yang menyingkapkan semua yang terselubung, terutama simbol-simbol yang ada di dalam Perjanjian Lama. Karena itu, kita tidak dapat mengetahui kebenaran Perjanjian Lama tanpa melalui Perjanjian Baru. Demikian juga kita akan sulit mengerti Perjanjian Baru, jika tidak dinyatakan kisah di dalam Perjanjian Lama.

Rahasia itu telah diungkapkan melalui para rasul, terutama melalui rasul Paulus. Untuk menyampaikan semua itu, maka Paulus perlu melaksanakan tugas pelayanannya dengan penuh tanggung jawab. Jika Paulus tidak bisa bertanggung jawab, kemungkinan besar Tuhan tidak akan memercayakan semua rahasia Tuhan itu untuk disampaikan kepada jemaat melalui Paulus. Paulus telah membuktikan diri sebagai seorang hamba atau pelayan yang bertanggungjawab dan dapat dipercaya. Paulus melakukan pelayanannya dengan sungguh-sungguh, bahkan seringkali dengan mengabaikan kepentingannya sendiri.

Sebagai orang percaya, kita sebaiknya tidak membatasi bentuk pelayanan. Sebenarnya pelayanan tidak selalu berkaitan dengan acara gereja. Ketika kita melakukan aktivitas dan pekerjaan kita sehari-hari, perlu dikaitkan sebagai pelayanan bagi Tuhan. Jika minggu lalu kita mendapatkan penegasan mengenai kesetiaan dalam pelayanan, maka sekarang kita harus mengambil tanggung jawab pelayanan itu, melakukannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.

Berawal dari sikap hati yang benar, tercermin dari tindakan nyata. Di dalam Yakobus 2:17 dijelaskan bahwa sikap hati itu adalah iman kita, lalu diwujudkan dalam perbuatan kita yang dilihat maupun tidak dilihat oleh orang lain. Orang yang sudah bertobat dan percaya kepada Tuhan, pasti memiliki kerinduan untuk melayani Tuhan dengan sepenuh hati. Jika ada orang yang mengaku bertobat dan percaya kepada Tuhan tetapi tidak memiliki keinginan untuk melayani, maka sebenarnya imannya mati (tidak ada pertobatan yang sungguh).

Menjelang bulan Agustus, ada kesempatan bagi anak-anak muda untuk masuk menjadi pasukan pengibar bendera. Mereka seperti mendapat kehormatan, karena bisa bertemu langsung dengan Presiden dan orang-orang penting di negeri ini. Hampir semua mata rakyat Indonesia akan tertuju kepada mereka. Gambaran seperti ini seharusnya juga terjadi pada diri kita, terlebih yang melihat pelayanan kita adalah Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini. Yang menikmati pelayanan kita adalah Raja di atas segala raja. Jika pasukan pengibar bendera mempersiapkan diri dengan sangat baik, seharusnya kita juga memiliki pemikiran yang sama.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada saja orang-orang yang melaksanakan pelayanan atau pekerjaannya dengan asal-asalan atau sembarangan. Semua ini terjadi karena sikap hati kita yang tidak mau menyadari akan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Mari kita mengubah pola pikir dan sikap hati kita, supaya tertuju kepada Tuhan dan semua yang kita lakukan memiliki fokus untuk menyenangkan hati Tuhan.

Dalam hal sederhana, misalnya, ketika kita memuji Tuhan, bagaimana sikap hati kita. Kira-kira pujian yang kita nyanyikan, bertujuan untuk menyenangkan hati Tuhan atau menyenangkan diri sendiri? Ketika kita melakukan kegiatan, aktivitas atau pekerjaan kita sehari-hari, kira-kira tujuannya untuk kepentingan diri sendiri atau untuk Tuhan. Kolose 3:23 mengingatkan kita demikian: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Tanggungjawab pelayanan dimulai dari hal-hal praktis: hadir tepat waktu, bahkan sebelum acara dimulai; mempersiapkan tugas dan pelayanan dengan baik; menjalankan tugas dan pelayanan dengan penuh semangat dan tanggungjawab; melakukan dengan hati yang bersih, menghindari untuk mencari pujian atau keuntungan pribadi; menyadari potensi diri dan mengelolanya dengan baik.

Semua yang kita kerjakan akan menghadapi tantangan, dengan kadar yang berbeda-beda. Dalam hal ini kita diuji, baik dalam kesetiaan maupun tanggungjawab. Komitmen yang baik akan menghindarkan kita dari banyak tantangan itu. Komitmen akan menghindarkan kita dari sikap menunda-nunda atau mengabaikan. Di dalam pelayanan yang dilakukan secara bersama-sama (dalam tim), perbedaan pendapat tidak bisa dihindari. Kita bisa membiasakan untuk menyelesaikan itu dengan kasih dan sikap dewasa. Penting bagi kita untuk mengingat perkataan ini: “Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri; jika ingin berjalan jauh, maka jalanlah bersama-sama.”

Di sisi lain, Tuhan menghargai semua pelayanan dan perbuatan orang-orang yang sudah bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Tuhan tidak melihat besar atau kecil pelayanan kita, tetapi Tuhan melihat hati yang tulus dan yang mau bertanggungjawab. Semua yang kita kerjakan pasti menghasilkan buah. Yang dinilai bukan jumlah buah, tetapi kualitas buahnya.

Pelayanan bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan segenap hati dan sungguh-sungguh. Tuhan mencari pelayan yang dapat dipercaya dalam mengelola tugas dan tanggung jawab yang diberikan. Jika kita mengerjakan pelayanan dengan penuh tanggung jawab, Tuhan akan memberkati pekerjaan serta pelayanan kita dan memercayakan hal yang lebih besar untuk dikelola dan dikerjakan.

Views: 2

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top