Kemuliaan Bagi Allah

Lukas 2:14

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Ini adalah pujian bersama dari malaikat dan sejumlah bala tentara Surga, yang ditunjukkan oleh mereka kepada para gembala yang sedang tinggal di padang, menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Para malaikat itu menyatakan, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi.” Para gembala diperlihatkan kemuliaan seperti itu, karena pekerjaan mereka bukan pekerjaan sembarangan. Bagi kalangan Yahudi, domba adalah ternak yang biasanya digunakan untuk keperluan ibadah simbolik.

Bapa di Surga memancarkan kemuliaan-Nya dari tempat maha tinggi. Kemuliaan Tuhan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kemuliaan Tuhan yang dibawa oleh seorang malaikat saja membuat para gembala itu sangat ketakutan (ayat 9). Apalagi jika kemuliaan Tuhan itu dinyatakan di tempat yang mahatinggi.

Selain kepada para gembala itu, kemuliaan Tuhan juga diperlihatkan kepada tiga murid Yesus Kristus, yaitu di hadapan Petrus, Yohanes dan Yakobus. Hal itu dikisahkan di dalam Lukas 9:28-36. Kemuliaan itu diperlihatkan dan dinyatakan kepada manusia. Manusia sebenarnya ciptaan yang mulia, diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan. Tetapi manusia tidak lagi mencerminkan kemuliaan Tuhan, ketika jatuh ke dalam dosa.

Roma 3:23 menyatakan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Jika semua orang telah berdosa, artinya tidak ada manusia yang tidak berdosa di dunia ini. Tidak ada orang yang lebih suci dari yang lain. Semua manusia di hadapan Tuhan, sama. Tidak ada orang yang lebih baik dari orang lain. Sampai pada akhirnya, Tuhan datang dalam wujud manusia dan memulihkan orang-orang yang sudah berdosa.

Jika Alkitab mengatakan bahwa manusia telah kehilangan kemuliaan Tuhan, artinya kemuliaan itu pernah ada di dalam diri manusia. Kemuliaan itu ada dalam diri manusia sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.

Musa di dalam Keluaran 33:18 pernah meminta Tuhan untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Musa mendapatkan kesempatan untuk bersama-sama dengan Tuhan selama empat puluh hari empat puluh malam, tidak makan dan tidak minum. Hasilnya, ia menuliskan Kesepuluh Firman. Di dalam Keluaran 34:29 dikatakan bahwa ketika Musa turun dari gunung Sinai, kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan Tuhan.

Tetapi gambaran Tuhan yang sesungguhnya bukanlah hanya cahaya dan terang secara simbolik. Dalam kehidupan rohani kita, jika kemuliaan Tuhan itu ada di dalam diri kita, maka sifat dan karakter Tuhan juga akan terpancar melalui hidup kita. Yang kita tahu saat ini, manusia sudah sangat jauh karakternya dari karakter Tuhan. Kejahatan fisik dan non-fisik, langsung dan tidak langsung, sedang terjadi di mana-mana. Manusia semakin jahat, melebih zaman Nuh dan zaman Sodom Gomora.

Jika seperti itu, masihkah ada harapan bahwa kemuliaan Tuhan itu ada pada kita? Apakah kita memiliki pengharapan bisa bersama-sama Tuhan di dalam kemuliaan-Nya di tempat mahatinggi?

Harapan itu ada dan hanya ada di dalam Yesus Kristus. 2 Korintus 3:18 mengatakan, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak terselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *