Kematian Abraham (Orang Percaya)

Kejadian 25:7-11

Beberapa minggu lagi, kita masuk dalam peringatan sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus. Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah atas kehidupan di dunia. Kematian Yesus sudah ditentukan oleh Bapa dari semula. Demikian juga kematian setiap orang yang ada di dunia, juga sudah ditentukan oleh Bapa sejak mulanya. Tidak ada yang bisa menolak. Jika bagi orang dunia, kematian merupakan hal yang menakutkan, tetapi justru bagi orang percaya, kematian seharusnya merupakan kebahagiaan. Bahkan Paulus sendiri mengatakan bahwa mati adalah keuntungan (Filipi 1:21).

Yang harus siap untuk menghadapi kenyataan kehilangan / dukacita adalah keluarga yang ditinggalkan. Bagaimana pun siapnya kita, jika ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi, pasti kita akan mengalami kesedihan dan dukacita. Banyak orang percaya yang menginginkan mereka bisa meninggal tanpa menderita (tanpa sakit). Tetapi itu yang seringkali mengejutkan orang-orang yang ditinggalkan.

Hari ini, mari kita melihat dan merenungkan nilai dari sebuah kematian, renungan dari kematian Abraham:

  1. Sadarilah bahwa hidup itu terbatas. Abraham mencapai usia 175 tahun, lalu meninggal (ayat 7). Memang kebanyakan orang ingin memiliki umur panjang. Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi. Setiap ulang tahun yang dinyanyikan adalah sebuah keinginan untuk selalu panjang umur. Tetapi, jika usia manusia terlalu panjang, maka manusia itu juga akan kebingungan. Dia akan sendiri, karena temannya sudah banyak yang menghadap Tuhan. Ingatlah bahwa usia tua itu tidak mudah untuk menjalaninya. Keterbatasan usia juga mengingatkan kita supaya kita bisa mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Apalagi kita tidak tahu, kapan kita dipanggil Tuhan, maka kita harus menggunakan waktu yang berharga ini dengan baik.
  2. Belajar puas dengan Tuhan, jika kita mendapat kesempatan sampai usia tua (ayat 8). “Suntuk umur”, bahasa aslinya adalah wesavea yang artinya kehidupan sudah penuh atau puas dengan hidupnya. Orang yang puas terhadap hari-hari bersama dengan Tuhan, maka hidup mereka akan menjadi bijaksana. Kita diajar untuk bersyukur dengan perjalanan hidup kita.
  3. Anak Abraham (Ishak) justru diberkati oleh Tuhan setelah Abraham meninggal (ayat 11). Banyak orang tua yang kuatir dengan kehidupan anak mereka jika mereka meninggalkannya. Demikian juga, anak-anak akan kuatir dan takut ditinggal mati oleh orang tuanya. Tetapi ayat ini menjadi penghiburan bagi kita. Tuhan memberikan keseimbangan berkat, yaitu warisan berkat. Ingatlah, warisan yang baik itu bukan harta. Warisan yang abadi adalah iman. Iman itulah yang menggerakkan berkat Tuhan tercurah. Ayat ini terbukti pada pasal 26:12-13. Ishak diberkati oleh Tuhan bukan karena diwarisi harta oleh ayahnya, tetapi dia mendapatkan warisan iman. Dia menabur dan diberkati oleh Tuhan.

Jadi, tugas kita adalah: Hiduplah dengan memuliakan Tuhan dalam setiap detik kehidupan kita, karena waktu sangat berharga dan terbatas. Terus ada di dalam Tuhan dan belajarlah puas dengan Tuhan. Dan wariskanlah iman kepada anak cucu kita.

Tuhan Yesus memberkat. Maranatha!

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *