Hidup Sebagai Alat Kebenaran-Nya

Roma 6:13

*****
Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.
*****

Masihkah di antara kita yang hidup dalam belenggu dosa? Sudah berusaha semaksimal mungkin untuk keluar dari belenggu itu, tetap saja tidak bisa. Sepertinya sulit, terulang dan terulang terus. Prinsip untuk keluar dari dosa bukanlah menghadapinya, tetapi menjauhinya. Kita tidak akan mungkin bisa keluar dari dosa atau perilaku buruk kita, jika kita tidak menjauhi komunitas atau kumpulan buruk itu. Kita harus berubah fokus dan move on. Sebagian besar dosa sifatnya membelenggu, tidak mudah untuk keluar darinya. Perlu keberanian, komitmen dan konsistensi, supaya hidup kita berubah menjadi lebih baik.

Ketika kita bertobat, pada saat itu kita memutuskan untuk berbalik 180 derajat dari pola pikir dan kehidupan yang lama. Itu adalah janji dan komitmen kita kepada Tuhan, biasanya ditandai dengan baptisan, yang disaksikan oleh jemaat Tuhan dan juga disaksikan oleh Iblis. Ketika kita bertobat, bukan berarti semua urusan selesai. Pada saat itu, sebenarnya kita mulai menyatakan perang kepada Iblis. Kita setiap hari akan melakukan peperangan rohani, baik yang sifatnya sederhana sampai perang yang sangat hebat. Percaya kepada Yesus artinya sedang menantang Iblis untuk berperang.

Semua orang tanpa terkecuali, telah berbuat dosa dan salah. Orang yang sudah bertobatpun memiliki potensi yang besar untuk berbuat dosa lagi. Penting bagi kita untuk fokus kepada Tuhan, maka Roh Kudus akan menolong kita untuk peka. Hati nurani kita yang akan membuat kita peka, sehingga tidak mudah untuk melakukan dosa lagi. Jika itu dosa moralitas, maka kita masih memiliki kesempatan untuk keluar dari dosa itu, dengan pertolongan Tuhan. Jika dosa itu adalah dosa doktrinal, maka kita tidak bisa menyalibkan Yesus untuk kedua kali.

Fokus kepada dosa moralitas, jika kita membiarkan kita terus terbelenggu dalam dosa itu, maka kita juga akan bisa mengarah ke dosa doktrinal, yaitu dosa yang mendatangkan maut. Ada orang yang melakukan dosa dan pelanggaran, tetapi dia cepat sadar dan akhirnya kembali lagi ke perbuatan yang baik. Jika kita masih dalam tahap ini, maka Roh Kudus masih ada di dalam kita dan memberi kepekaan di hati nurani kita. Tetapi, jika kita sengaja mengeraskan hati kita dan tidak peka atau tidak sadar akan dosa dan pelanggaran yang kita lakukan, sebenarnya kita sedang menghujat Roh Kudus yang ada di dalam hati kita sejak kita bertobat.

Jika sudah seperti ini, isinya adalah pembenaran demi pembenaran. Orang-orang seperti ini bisa saja masih berstatus Kristen dan mengunakan ayat-ayat firman Tuhan secara random untuk membenarkan perbuatannya. Tanpa sadar, ia telah menyerahkan anggota-anggota tubuhnya kepada dosa untuk dipakai sebagai sejata kelaliman. Dosa ada di pikiran dan berbuah dengan perilaku yang menggunakan tubuh jasmani.

Keputusan untuk berhenti berbuat dosa harus lahir dari pikiran dan hati, lalu disertai dengan tindakan nyata, tergambar melalui perilaku kita dengan menggunakan anggota tubuh kita. Jika kita menyadari hal ini, maka penting bagi kita untuk menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada Tuhan, menjadi senjata-senjata kebenaran. Yesus pernah berpesan kepada perempuan yang kedapatan berzinah, “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Ini tanggungjawab manusia, karena tanggungjawab Yesus sudah diselesaikan di kayu salib.

Orang lain tidak bisa memaksa, hanya bisa menasihati. Yang menasihati seringkali menjadi korban. Berapa banyak orang yang terkena marah karena telah menasihati orang lain? Jika ini terjadi terus menerus, maka orang itu tidak akan memberi nasihat lagi. Ketika tidak ada orang yang mau menasihati, maka kehidupan orang tersebut biasanya akan semakin terpuruk. Khotbah seringkali juga memberikan nasihat dan peringatan. Jika hal itu tidak bisa mengubah perilaku, memang pada dasarnya orang tersebut tidak mau berubah.

Cara praktis yang bisa kita lakukan: pertama, jauhi pergaulan yang bisa membuat kita masuk pada perilaku kita yang lama. 1 Kor 5:11 mengatakan, “Tetapi yang kutuliskan kepadamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”

Kedua, alihkan fokus. Roma 8:5 mengatakan, “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” Apa yang penting bagi kita akan menjadi perhatian kita. Jika kita mementingkan perkara-perkara kedagingan, maka perhatian kita akan terpusat di sana. Ketiga, mengubah cara hidup, menjadi hidup yang baru. Efesus 4:23-24 mengatakan, “Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”

Views: 9

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top