Bijak Menilai Hati Nurani (Jelajah PB 630)

1 Korintus 10:23-29

Di dalam Yesus Kristus ada kebebasan dan kemerdekaan. Memang segala sesuatu diperbolehkan dan itu benar. Tetapi yang harus kita ingat dan perhatikan, bukan segala sesuatu berguna. Seharusnya, seorang Kristen yang sudah lahir baru adalah orang yang bijaksana. Bukan berarti karena semua diperbolehkan, maka kita melakukan semuanya itu dengan sembarangan. Kita seharusnya memilih sesuatu yang berguna. Segala sesuatu memang diperbolehkan, tetapi bukan segala sesuatu itu membangun. Karena itu, orang Kristen harus memilih sesuatu yang membangun, sesuatu yang bisa mengarahkan kita kepada hal yang positif.

Kita seharusnya tidak mencari keuntungan sendiri atau mementingkan diri sendiri. Hendaklah setiap orang mencari keuntungan orang lain. Kita tidak boleh egois dan akhirnya merugikan orang lain. Jika kita ke pasar dan membeli daging, kita tidak perlu bertanya-tanya apakah daging itu pernah dipersembahkan kepada berhala. Persoalannya bukan di sana. Kita tidak dilarang untuk makan apapun. Yang dilarang adalah mengadakan persekutuan dengan berhala dan roh jahat dengan cara makan minum di tempat orang yang sedang menyembah berhala. Makanan itu bukan persoalan. Bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan. Semua daging juga diciptakan oleh Tuhan dan memang milik Tuhan.

Persoalannya bukan soal makanan, tetapi soal sikap kita apakah mempersekutukan diri dengan berhala atau tidak. Makan daging di rumah sendiri dengan makan daging di rumah berhala, itu dua hal yang berbeda. Jika kita makan di rumah berhala, kita sedang ikut bersekutu di sana. Tetapi jika kita makan daging di rumah, meskipun mungkin itu sudah dipersembahkan kepada berhala, itu tetap daging apa adanya. Tidak ada berhala yang bisa makan daging, karena berhala itu buatan tangan manusia. Roh jahat juga tidak makan daging, karena mereka tidak memiliki tubuh seperti kita.

Jika kita diundang makan oleh seseorang yang tidak percaya kepada Tuhan, maka kita harus menerima undangan itu. Kita juga bisa makan apa saja yang dihidangkan oleh mereka kepada kita tanpa kita harus mengadakan pemeriksaan-pemeriksaan tertentu. Kita tidak perlu bertanya-tanya tentang makanan itu. Kita bisa memakannya dengan rasa syukur kepada Tuhan. Tetapi jika ada orang yang berkata kepada kita bahwa itu adalah makanan yang dipersembahkan kepada berhala, Paulus melarang kita memakannya.

Kita tahu sebenarnya itu tidak masalah untuk dimakan. Itu bukan karena keberatan hati nurani kita, tetapi karena keberatan hati nurani orang lain yang ada di dekat kita atau yang bersama-sama dengan kita. Kita tidak tahu bagaimana kondisi orang yang berkata seperti itu, sebaiknya kita tidak makan, supaya tidak menjadi batu sandungan bagi dia. Jika ada kesempatan atau waktu yang cukup untuk menjelaskan, kita bisa menjelaskan kepada orang tersebut soal status makanan itu.

Lebih daripada itu, kita harus mempertimbangkan dengan bijak. Jangan sampai orang tersebut tidak mengerti dengan penjelasan kita sehingga dia bisa tersandung dengan hal tersebut. Kita sendiri yang mengetahui situasi dan kondisi pada saat itu. Yang menjadi pertimbangan adalah hati nurani orang lain, bukan hati nurani sendiri. Apalagi jika yang di dekat kita dan yang mengatakan bahwa itu adalah makanan yang dipersembahkan berhala, orang itu adalah salah satu anggota jemaat. Kita perlu bijak, supaya tidak membuat orang lain terjatuh hanya gara-gara persoalan makanan.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *