Jelajah PB 251 (Lukas 15:8-10)

Tuhan Yesus memakai perumpamaan kedua untuk menyindir orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Kali ini menggunakan perumpamaan seorang perempuan yang memiliki dirham. Perempuan ini kehilangan satu dari sepuluh dirham yang dia miliki. Maka perempuan ini pasti mencari dengan susah payah dan cermat sampai menemukannya. Jika perumpamaan tentang domba tadi perbandingannya adalah satu dibanding seratus, perumpamaan tentang dirham ini lebih besar yaitu satu banding sepuluh atau sepuluh persennya.

Ada tradisi yang mengatakan bahwa di Timur Tengah ada kebiasaan perempuan menghias kerudungnya dengan menggantungkan koin-koin di kerudung tersebut. Mereka biasanya melubangi koin tersebut dan menjahitnya di kerudung sebagai hiasan. Uang koin itu juga seringkali diberikan kepada perempuan sebagai mas-kawin dan menjadi hak milik perempuan tersebut sebagai jaminan. Bisa jadi, bagi sebagian orang koin ini tidak terlalu berharga. Tetapi bagi perempuan itu, koin tersebut sangat berharga, sehingga ia harus mencari dengan sungguh-sungguh dan cermat ketika kehilangan satu koin. Ketika dia menemukannya, dia bersukacita bersama-sama dengan para sahabat dan tetangganya.

Mungkin, bagi banyak orang, manusia lain itu tidak berharga. Seringkali orang melihat sesamanya dengan kacamata keegoisan. Karena itu banyak terjadi ketidakadilan di dunia ini, karena orang merendahkan sesamanya. Dari perumpamaan ini, kita bisa melihat sisi kasih Tuhan yang sangat besar. Dia tidak memandang manusia sebelah mata. Dia sangat menghargai manusia, siapapun itu dan bagaimana status sosialnya. Semuanya sama-sama berharga di mata Tuhan. Meskipun ada orang yang dianggap remeh oleh sesamanya, tetapi Tuhan tidak pernah menganggap remeh manusia. Karena itulah Dia mengasihi manusia, rela untuk meninggalkan kemuliaan di Sorga dan menjadi sama seperti manusia. Dia mencari orang yang terhilang. Tidak peduli meskipun orang tersebut tidak dipandang oleh sesamanya, seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang memandang rendah para pemungut cukai.

Di sisi lain, dalam perumpamaan ini Tuhan menggunakan tokoh seorang perempuan, bukan seorang laki-laki. Kita perlu ingat bahwa gereja selalu dikaitkan sebagai mempelai perempuan, biasanya berkaitan dengan pesta perkawinan Anak Domba. Tentu saja tidak semua tentang perempuan menggambarkan hal yang sama, yaitu tentang gereja. Tetapi merujuk dari perumpamaan yang pertama, Yesus sedang berbicara mengenai Gembala yang mencari domba dan itu adalah gambaran dari Diri-Nya sendiri. Tetapi dari perumpamaan kedua ini kita bisa melihat bahwa Tuhan ingin mencari yang hilang melalui gereja-Nya.

Proses mencari orang yang terhilang bukan hal yang mudah. Perlu usaha yang keras, ketelitian dan kecermatan. Perempuan itu harus menyalakan pelita dan menyapu rumah. Rumah pada saat itu pasti bukan seperti sekarang ini yang bersih dan lebih mudah untuk mencari sesuatu. Ada orang-orang yang tersesat, yang memiliki posisi yang sangat memprihatinkan. Hidup mereka kacau, sehingga kita perlu berusaha sedemikian rupa untuk mencari mereka. Karena itu, kita yang sudah percaya, jangan egois. Kita harus mau dipakai oleh Tuhan untuk mencari yang terhilang. Jika Tuhan berkenan, maka mereka bisa dikumpulkan kembali dan mereka bisa diselamatkan. Ketika saudara membagikan renungan ini, sebenarnya saudara juga sedang dalam tahap ikut mencari dan mengumpulkan yang hilang.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *