Jelajah PB 248 (Lukas 14:27-35)

Mengasihi Tuhan lebih dari nyawanya sendiri, berarti dia siap untuk mati demi Kristus. Siap mati itu sama dengan pikul salib. Orang yang sedang pikul salib adalah orang yang sedang menuju kepada penghukuman mati, setiap saat. Ini adalah tuntutan dari Tuhan, resiko ketika kita memilih untuk mau menjadi murid Tuhan Yesu Kristus. Setelah itu, barulah kita bisa menjadi murid Yesus Kristus. Tugas menjadi murid adalah belajar terus menerus dan siap mengikuti perintah serta teladan dari Yesus Kristus.

Untuk menggambarkan tentang hal itu, Tuhan Yesus memberikan dua perumpamaan. Ketika seseorang berencana untuk mendirikan gedung atau menara, maka mereka harus membuat anggaran biayanya. Semuanya harus direncanakan dengan baik, supaya berhasil dan tidak berhenti saat pembangunan belum selesai. Demikian juga ketika kita mau mengikut Yesus, maka kita harus menghitung segala sesuatunya, memikirkan resiko yang terjadi. Jangan sampai kita berhenti di tengah jalan, sehingga mempermalukan diri sendiri dan orang lain. Barangsiapa menyerahkan nyawanya demi Tuhan, dia justru akan memperolehnya. Tetapi barangsiapa takut kehilangan nyawanya, dia justru akan kehilangan nyawanya.

Perumpamaan kedua, Yesus menjelaskan tentang raja yang akan berperang. Raja tersebut pasti juga berpikir dan berhitung, berencana terlebih dahulu sebelum melakukan perang. Dia harus mempertimbangkan banyak hal, termasuk mempertimbangkan strategi dan resikonya. Dia harus mempertimbangkan berapa jumlah pasukan yang akan dibawanya, supaya bisa mengalahkan pasukan lawan. Barangsiapa mau menjadi murid Tuhan Yesus, dia sebelumnya harus sadar dengan resiko yang akan terjadi. Ada harga yang harus dibayar. Dua perumpamaan Yesus itu tidak mudah untuk dilakukan. Jika kita siap menjadi pengikut Kristus, maka kita harus siap segala sesuatunya, tidak menjadi orang Kristen yang cengeng, orang Kristen yang hanya mencari berkat atau mujizat dari Tuhan saja.

Yang harus kita ketahui, kebenaran itu harganya sangat mahal. Di dalam Amsal 23:23 dikatakan, “Belilah kebenaran dan jangan menjualnya, demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian.” Kebenaran perlu dibeli, perlu usaha yang sungguh-sungguh. Ada banyak yang mungkin harus dikorbankan untuk mendapatkan kebenaran itu. Di ayat 33 juga dikatakan, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Menjadi murid Yesus tuntutannya cukup banyak dan berat. Karena itu, tidak semua orang sanggup untuk menjadi murid Yesus Kristus yang sesungguhnya. Jangan pernah terbuai dengan pengajaran bahwa menjadi Kristen itu akan cepat kaya, akan disembuhkan dari penyakit, akan menjadi orang yang sukses. Yesus tidak pernah berkata demikian. Justru, ketika kita memutuskan untuk menjadi murid Kristus, ada harga yang harus dibayar.

Garam yang sudah tawar, tidak akan berguna. Jika kita tidak mau menjadi murid dari Tuhan Yesus Kristus yang sungguh-sungguh mempertahankan kebenaran Tuhan dan menjadi teladan bagi semua orang dengan siap membayar segala harga (seperti garam yang asin), kita tidak berguna. Asin atau tawarnya garam itu tergantung dari semangat kita di dalam Tuhan dan kesiapan kita berkorban untuk Tuhan. Bagaimana dengan kita saat ini, siapkah kita untuk menjadi murid Kristus yang bayar harga, atau kita masih menjadi orang Kristen yang cengeng, yang hanya mengharapkan berkat, berkat dan berkat?

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

1 thought on “Jelajah PB 248 (Lukas 14:27-35)”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *