Lukas 2:8-14
Gembala-gembala. (8) Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. (9) Lalu berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. (10) Kata malaikat itu kepada mereka, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk segala bangsa: (11) Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud. (12) Inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi yang dibedung dan terbaring di dalam palungan.” (13) Tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara surga yang memuji Allah, katanya, (14) “Kemuliaan bagi Allah di tempat Yang Maha Tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Mari kita perhatikan gambaran berikut ini, apakah mirip yang terjadi di keluarga kita atau tidak: Di sebuah rumah, keluarga sedang berkumpul. Televisi menyala, tetapi bukan siaran TV, tetapi lagu-lagu rohani dari Youtube yang terdengar pelan. Sepertinya keluarga itu sedang menikmati kebersamaan. Mari kita lihat lebih dekat, ternyata suasananya tidak seindah itu: ayah duduk sambil memegang HP, matanya sibuk scroll berita dan video pendek; ibu mondar-mandir dari dapur ke ruang keluarga atau ruang tamu, nampak lelah, tetapi pikirannya tertuju pada beberapa pekerjaan rumah yang belum beres; anak pertama berada di kamar, menggunakan headsetdan bermain game online; anak kedua duduk di kursi ruang tengah, sibuk chat dengan grupnya. Mereka dalam satu rumah, tetapi hati mereka saling menjauh. Rumah penuh dengan sinyal internet, tetapi tidak saling dekat.
Apakah kondisi ini ada kemiripan dengan keluarga kita saat ini? Tinggal dalam satu rumah, tetapi jarang benar-benar “hadir” secara hati dan perasaan. Memang secara fisik atau badan, bersama-sama, tetapi hati dan perhatian berada di tempat lain. Kita bisa berkata, “keluarga kami baik-baik saja kok.” Benarkah demikian?
Ayat yang kita baca menceritakan tentang sejumlah gembala yang sedang berjaga-jaga di padang, menjaga kawanan domba pada malam hari. Para gembala itu mirip dengan orang-orang yang hari ini bekerja shift malam. Para ayah bekerja di malam hari, jauh dari keluarga. Para ibu menemani anak-anak di rumah. Pada saat para ayah itu bekerja di malam hari, orang lain sedang beristirahat, sedang bersama keluarga, atau sedang tidur. Bekerja malam hari memiliki risiko tersendiri, karena melawan kebiasaan tubuh. Badan mudah lelah dan pikiran penuh dengan beban.
Di saat seperti itu, tiba-tiba malaikat Tuhan berdiri di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka. Keterkejutan mereka pasti sangat hebat, melebihi notifikasi WA yang memberitahu bahwa kita mendapatkan THR atau hadiah akhir tahun. Malaikat itu berkata kepada para gembala, “Jangan takut.” Malaikat memberitakan kesukaan besar bagi seluruh bangsa, karena kelahiran Juruselamat.
Berita tentang kelahiran Sang Mesias itu bukan disampaikan ke istana, tidak disampaikan kepada orang penting, tetapi disampaikan kepada para pekerja biasa yang sedang bekerja di malam hari. Tuhan sengaja datang kepada orang-orang yang sedang mengalami kelelahan, kegelisahan, dan rutinitas orang biasa. Jika saat ini, keluarga kita terasa biasa-biasa saja, atau sedang kacau dan penuh drama, atau kesepian, kabar yang disampaikan tetap sama: Yesus Kristus hadir.
Yesus hadir, maka keluarga akan mengalami damai. Damai tidak berarti tidak ada masalah. Damai bukan berarti tidak ada konflik, atau tidak ada tagihan bulanan, atau tidak ada persoalan anak, atau tidak ada sakit. Damai muncul dari dalam diri kita ketika kita sadar bahwa Tuhan hadir, pegang kendali hidup kita dan kita tidak sendirian.
Pada saat para gembala itu pulang ke rumah, mereka tetap gembala. Mereka tidak tiba-tiba menjadi orang kaya atau memiliki pekerjaan lain. Setelah mereka bertemu bayi Yesus di palungan, mereka pulang sambil memuji Tuhan. Yang berubah bukan dunia di sekitar mereka, tetapi sesuatu yang ada di hati mereka. Perubahan yang terjadi dari dalam hati itulah yang memengaruhi cara mereka hadir bagi keluarga.
Kita tidak bisa memulai damai di dalam keluarga, tetapi memulainya dari luar: rumah mewah, jalan-jalan, maka bersama, hadiah, atau foto-foto keluarga. Semua itu bisa dilakukan dan akan sangat bermakna jika sudah ada damai yang muncul dari hati yang paling dalam: terjadi pertemuan pribadi dengan Yesus yang hadir.
Yesus hadir bukan hanya di gereja. Yesus hadir ketika seorang ayah yang hampir putus asa, ia berlutut dan berdoa: “Tuhan, saya lelah, saya takut, tetapi saya percaya bahwa Engkau Juruselamatku. Tuhan, tolonglah saya yang lemah ini.” Yesus hadir ketika seorang ibu yang selama ini memendam luka, berlutut dan berdoa: “Tuhan, saya capek dan sering merasa sendirian, tetapi hari ini saya mau berserah penuh kepadamu, Engkau ada bersama dengan saya dan kami sekeluarga.” Tuhan Yesus hadir ketika seorang anak yang penuh kemarahan dan kekecewaan datang menghampiri Tuhan dalam doa: “Tuhan Yesus, saya tidak mengerti dengan maksud orang tua saya, tetapi saya tahu bahwa Engkau mengerti saya.”
Hari-hari ini muncul istilah-istilah baru: toxic, healing, overthinking. Istilah ini muncul karena kekecewaan, keresahan, dan kegalauan. Hati dan hidup kita memang perlu pemulihan. Tetapi kita harus sadar bahwa pemulihan itu perlu proses. Pemulihan itu perlu keterbukaan dan kehadiran. Bisa saja ada orang yang merasa tidak aman di rumah sendiri, karena rumah menjadi tempat penghakiman, bukan tempat untuk saling mendengarkan.
Kehadiran Tuhan dalam diri dan keluarga kita, seringkali mengajak kita untuk mulai mengurangi ritme hidup kita: pelan untuk mendengarkan, pelan untuk berbicara, pelan untuk memutuskan.
Tuhan memecah kegelapan dengan kehadiran-Nya sendiri. Ketika Yesus hadir, perlahan tetapi pasti, keluarga kita akan mengecap damai dari Tuhan. Damai itu akan muncul di tengah ketidaksempurnaan kita. Dia beserta kita, Imanuel.
Lagu Penutup: WGTB (E)
Jiwaku bertanya, apakah masih ada harapan?
Melewati tangisan, rasa sesak di dada
Imanku berkata, Tuhanku yang pegang kuasa
Dia selalu bekerja, meski mataku tak melihat
Walaupun gunung itu tak berpindah
Tetap percaya Kau yang punya kuasa
Sekalipun ku dalam lembah kelam
Tak mengapa asal Kau di sampingku
Walaupun masalahku masih ada
Tetap percaya rencana-Mu terindah
Pribadi-Mu takkan pernah berubah
Iman yang aku pengang, pada-Mu Tuhan yang setia
Views: 7