Tuhan Pencipta, Segala Kemuliaan Bagi-Nya

Kejadian 1

Ketika di sore hari, matahari perlahan turun, langit berubah warna: biru, oranye, merah muda, ungu bercampur menjadi satu. Suara ombak di tepi pantai terdengar pelan, angin sepoi-sepoi, burung terbang di udara. Ketika melihat dan merasakan suasana seperti ini, banyak orang secara spontan mengatakan, “indah sekali.” Apakah perkataan kita terhenti di situ, ataukah berlanjut dengan berkata, “Tuhan, Engkau sungguh maha besar dan kuasa!”

Dari hal itu, kita bisa membedakan antara menikmati ciptaan Tuhan dengan memuliakan Sang Pencipta. Kitab Kejadian (Beresyit) tidak dimulai dengan kalimat, “Pada mulanya manusia…” atau “pada mulanya masalah…”, tetapi, “Pada mulanya Elohim…” “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi (ayat 1).

Ayat pertama ini sangat penting, karena sedang membuka sebuah fakta: sebelum ada apapun juga, Allah sudah ada. Dari mana Dia berasal, tidak ada yang tahu. Tuhan sendiri yang menunjukkan Diri-Nya untuk pertama kali. Tuhan menjadi tokoh pertama dan utama, pusat atau subyek utama dari seluruh kisah sejarah “His-story”. Dunia tidak diawali dengan cerita manusia. Dunia dimulai dari kisah tentang Tuhan, setelah itu segala sesuatu baru ada karena Dia. Sejak semula, sebelum dimulainya waktu, Alkitab sudah menempatkan Tuhan di tempat utama. Dialah Pencipta dan semua yang lain adalah ciptaan.

Kejadian 1 menggambarkan Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan teratur. Ada pola yang indah dan digunakan sampai sekarang: hari demi hari. Hari pertama Tuhan menciptakan terang. Tuhan memisahkan antara terang dengan gelap, antara siang dengan malam. Tuhan menciptakan dengan firman, menunjukkan kemuliaan dan otoritas-Nya. Hari kedua, Tuhan memisahkan air di bawah dan air di atas, menciptakan ruang antara bumi dengan langit. Hari ketiga Tuhan mengumpulkan air di bumi, sehingga terbentuk dua tempat yang berbeda, yaitu daratan dan lautan. Di daratan, Ia menciptakan tumbuhan.

Hari keempat, Tuhan menaruh benda-benda penerang, karena terang di hari pertama berasal dari Tuhan. Hari kelima, Tuhan mengisi cakrawala dengan burung dan mengisi lautan dengan ikan. Hari keenam, Tuhan menciptakan binatang darat. Setelah itu, Tuhan menciptakan manusia, menurut gambar dan rupa-Nya. Tuhan melihat semuanya itu baik. Di setiap tahapan penciptaan, selalu ada kalimat yang berulang, “Allah melihat bahwa semuanya itu baik.”

Dari semua yang baik-baik itu, ternyata ada yang tidak baik pada saat penciptaan di hari keenam, yaitu di dalam Kejadian 2:18, “TUHAN Allah berfirman: Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan baginya penolong yang sepadan dengan dia.” Setelah semua ciptaan selesai, di ayat 31 Tuhan berkata, “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik.” Kejadian 2:4-25 merupakan penjelasan dari penciptaan hari keenam.

Dalam rancangan awal, ciptaan Tuhan pada dasarnya baik dan indah. Dunia bukan hasil dari bentuk yang sembarangan (big bang). Dunia dijadikan berdasarkan karya seni dari Pencipta yang penuh hikmat. Ketika ada lukisan yang indah, biasanya orang akan memuji pelukisnya, bukan kanvas atau kertasnya. Demikian juga dengan gunung, laut, langit, manusia, semua itu seperti galeri yang sedang memperlihatkan kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Karena itu, jangan kita terhenti hanya dengan mengatakan, “wah, pemandangannya indah ya.” Lanjutkanlah dengan berkata, “Sungguh mulia Sang Pencipta.”

Ketika manusia diciptakan “menurut gambar dan rupa Tuhan” berarti manusia diciptakan untuk memancarkan karakter Tuhan: kasih, kebenaran, keindahan, dan keadilan. Jika ciptaan lain memuliakan Tuhan dengan keberadaan mereka, maka manusia seharusnya memuliakan Tuhan dengan kesadaran dan ketaatannya.

Semua kebaikan dan keindahan itu seolah-olah sirna, ketika dikisahkan di dalam Kejadian 3 bahwa manusia jatuh ke dalam dosa. Mereka yang seharusnya hidup untuk Bapa di Surga, memilih untuk hidup sendiri, hidup egois. Di dalam Roma 1:23 dikatakan, “Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang melata.” Manusia menukar kemuliaan Tuhan dengan gambar-gambar, patung-patung, memilih untuk menyembah ciptaan daripada Pencipta.

Banyak manusia mudah untuk menikmati ciptaan tetapi lupa dengan Sang Pencipta. Itulah buah dari dosa: bukan hanya melanggar aturan, tetapi mengambil kemuliaan yang seharusnya hanya bagi Tuhan, dan menaruhnya pada diri, uang, orang, atau benda lain. Segala sesuatu yang seharusnya bisa menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan, bisa berubah menjadi tujuan yang merebut kemuliaan Tuhan. Manusia lupa bahwa hidup ini sejatinya hanya untuk kemuliaan Tuhan.

Kejadian 1 ditutup dengan berhenti di hari ketujuh dan Tuhan menguduskan (mengkhususkan) hari itu. Tuhan memberi pola: bekerja dan istirahat. Pola ini seharusnya digunakan oleh manusia untuk berhenti secara teratur, untuk mengingat dan menikmati semua karya Tuhan.

Kolose 1:15-16, “Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama daripada segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan melalui Dia dan untuk Dia.”

Views: 7

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top