Pelayanan Yang Tidak Populer

3 Yohanes 1:5-8

(5) Saudara yang terkasih, engkau berlaku sertia dalam segala sesuatu yang kaulakukan untuk saudara-saudara, sekalipun mereka orang-orang asing. (6) Mereka telah bersaksi di hadapan jemaat tentang kasihmu. Sudilah kiranya engkau menolong mereka dalam perjalanan mereka, dengan cara yang berkenan kepada Allah. (7) Sebab, karena nama-Nya mereka telah berangkat tanpa menerima apa pun dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. (8) Kita wajib menerima orang-orang yang demikian, supaya kita boleh menjadi rekan-rekan sekerja untuk kebenaran.

Surat 3 Yohanes menjadi salah satu kitab yang paling pendek di dalam Perjanjian Baru. Surat ini ditulis oleh rasul Yohanes pada masa tuanya. Diperkirakan Yohanes menulis surat ini di akhir abad pertama, kemungkinan ditulis dari Efesus, ditujukan kepada seorang jemaat bernama Gayus. Sepertinya ini adalah surat pribadi, tetapi di dalamnya terdapat pengajaran tentang pelayanan yang tidak populer.

Di masa itu, gereja sedang menghadapi tantangan dari luar maupun dari dalam. Dari luar, ada tekanan dan penganiayaan. Dari dalam, muncul para pengajar yang membawa ajaran menyimpang. Sedangkan para pengajar serta pemberita Injil yang setia, mereka sering pergi memberitakan Injil tanpa dukungan dana dari luar jemaat. Mereka sengaja menolak bantuan dana dari orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, supaya berita Injil tidak disampaikan dengan kompromi. Dalam situasi seperti ini, Yohanes menulis surat kepada Gayus.

Gayus menjadi nama yang umum di kalangan orang Romawi pada masa itu, sehingga sulit untuk memastikan identitas yang sebenarnya. Nama Gayus muncul beberapa kali di Perjanjian Baru (Kis 19:29; 20:4; Roma 16:23; 1 Kor 1:14). Tidak ada kepastian bahwa nama-nama yang disebutkan itu merupakan orang yang sama. Tetapi, Gayus yang disebutkan di dalam surat 3 Yohanes ini adalah seorang jemaat yang setia. Kemungkinan dia adalah seorang pemimpin rumah jemaat atau tuan rumah persekutuan. Ia memiliki rumah yang cukup besar untuk menampung para pelayan Tuhan. Gayus ini juga dikenal oleh Yohanes secara pribadi dan disebut sebagai “yang terkasih.”

Dari ayat yang sudah kita baca, menunjukkan bahwa pelayanan Gayus bukanlah tindakan sesekali, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Ia melakukan segala hal yang baik dengan konsisten. Ia tidak hanya ramah kepada orang yang ia kenal, tetapi juga kepada orang asing yang datang, demi Injil. Pada waktu itu, keramahtamahan bukan hanya soal etika sosial, tetapi juga kewajiban moral dan spiritual. Tetapi Gayus ternyata telah melampaui kewajiban itu, sehingga ia melayani dengan hati yang tulus.

Pada waktu itu, para pemberita Injil telah meninggalkan kenyamanan mereka demi Kristus. Mereka tidak mencari keuntungan pribadi, tidak mencari popularitas, tetapi fokus untuk membawa dan memberitakan kabar keselamatan. Gayus memahami bahwa dengan mendukung para pemberita Injil itu, ia sedang mendukung pekerjaan Kristus secara tidak langsung. Dia mendukung pemberitaan Injil dengan cara berbeda. Dari sudut pandang Tuhan, tidak ada pelayanan kelas satu atau kelas dua. Setiap orang percaya bisa mengambil bagian pelayanan masing-masing, sesuai dengan kapasitasnya.

Dari surat 3 Yohanes ini, kita belajar bahwa pelayanan yang tidak populer pun memiliki nilai yang sangat tinggi. Gayus tidak berkhotbah di depan banyak orang. Ia tidak tercatat melakukan mujizat. Ia tidak memimpin gereja yang besar. Tetapi nama Gayus tercatat di dalam Alkitab karena kesetiaannya dalam hal yang tampak sederhana: membuka rumah untuk pelayanan, membangun relasi dan membantu pemberitaan Injil. Banyak orang mungkin tidak melihat tindakan ini sebagai hal yang besar, tetapi Tuhan melihat sebagai bagian dari pekerjaan kebenaran.

Di zaman sekarang, gereja seringkali terjebak dalam popularitas. Kita seringkali mudah untuk mengagumi yang terlihat, tetapi melupakan yang tersembunyi. Jika kita perhatikan baik-baik, justru sebagian besar pelayanan gereja terjadi di balik layar. Ada orang-orang yang berdoa setiap hari tanpa diketahui siapapun. Ada yang memberi dengan setia tanpa mau disebut namanya. Ada yang membersihkan gereja, menata dan mempersiapkan segala sesuatu. Ada yang suka berkunjung, mendengar keluhan, juga menguatkan yang lemah. Semuanya tidak tersorot, tidak bisa populer. Mereka adalah para “Gayus” di masa kini.

Jika kita baca di ayat 9, ada nama Diotrefes, tetapi sikap dan perilakunya berbanding terbalik dengan Gayus. Diotrefes ini disebutkan “ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka.” Ketika pelayanan hanya untuk mencari nama, posisi, atau pengaruh, maka motivasi rohani akan mulai bergeser. Pelayanan yang sejati seharusnya selalu berpusat pada Kristus, bukan pada diri sendiri atau keakuan kita. Gayus melayani Tuhan demi nama Tuhan, bukan demi namanya sendiri.

Mari kita belajar untuk menghargai pelayanan yang tidak populer, pelayanan di balik layar. Jangan hanya mengapresiasi yang terlihat, tetapi juga yang tidak selalu kelihatan. Tidak semua orang dipanggil untuk melayani di mimbar dan terlihat, tetapi semua orang dipanggil untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Di gereja, kita juga perlu membangun relasi yang baik dengan keramahtamahan. Gereja bertumbuh bukan hanya melalui program, tetapi juga melalui relasi yang hangat dan saling mendukung dengan tulus.

Pelayanan yang tidak populer akan menguji kemurnian hati kita. Jika tidak ada yang melihat pelayanan kita, apakah kita akan tetap setia melakukan pelayanan itu? Jika tidak mendapatkan pujian, apakah kita akan tetap memberi? Jika tidak ada pengakuan atau validasi, apakah kita akan tetap mengasihi? Jawaban kita atas setiap pertanyaan itu akan menentukan kualitas rohani kita.

Kemungkinan besar, Gayus tidak pernah membayangkan bahwa namanya akan dicatat di Alkitab, lalu dibaca atau dikhotbahkan ribuan tahun kemudian. Pada waktu itu, ia hanya setia melakukan segala sesuatu yang benar di hadapan Tuhan. Kita belajar supaya memiliki kesetiaan yang sama. Dunia mungkin tidak mengenal kita. Tetapi, jika kita setia dalam pelayanan kita, Tuhan mencatatnya. Suatu hari, ketika kita berdiri di hadapan Tuhan, yang paling penting bukan popularitas kita, tetapi kesetiaan kita. Pelayanan yang tidak populer, tetap berharga di mata Tuhan.

Lukas 16:10, Siapa yang setia dalam hal kecil, setia juga dalam hal besar. Siapa yang tidak benar dalam hal kecil, tidak benar juga dalam hal besar.

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top