Nehemia 3:1-5
Orang-orang yang terlihat dalam pembangunan. (1) Imam Besar Elyasib dan para imam, saudara-saudaranya, mulai membangun kembali Pintu Gerbang Domba, menahbiskannya, dan memasang pintu-pintunya. Mereka menahbiskannya sampai Menara Seratus bahkan sampai Menara Hanane’el. (2) Di dekat mereka orang-orang Yerikho membangun dan dekat mereka ini, Zakur bin Imri pun membangun. (3) Pintu Gerbang Ikan dibangun oleh bani Sena’a. Mereka meletakkan balok-balok lalu memasang pintu-pintunya serta pengancing-pengancing dan palang-palangnya. (4) Di dekat mereka Meremot bin Uria bin Hakos membuat perbaikan, dan di dekat dia Mesulam bin Berekhya bin Mesezabe’el. Di dekat dia Zadok bin Ba’ana membuat perbaikan, (5) dan di dekat dia orang-orang Tekoa. Namun, para pemuka mereka tidak mau memberi dukungan untuk pekerjaan tuan mereka.
Ayat yang baru kita baca kemungkinan jarang direnungkan atau dikhotbahkan. Ayat ini berisi beberapa nama orang, nama gerbang, nama tempat, dan bagian-bagian tembok. Sepanjang pasal ini seperti laporan proyek pembangunan. Tidak ada peristiwa yang istimewa, hanya daftar pekerjaan saja. Tetapi, ketika pasal ini masuk ke dalam kanon Kitab Suci, berarti ada pelajaran yang bisa kita ambil dari tulisan itu.
Ketika kita mulai membaca dengan perlahan atau berulang, akhirnya kita bisa menyadar bahwa ini bukan sekadar daftar pekerjaan bangunan. Di dalamnya ada gambaran tentang umat Tuhan yang sedang melayani bersama. Ini menjadi gambaran penatalayanan dalam komunitas. Artinya, penatalayanan tidak hanya terjadi di gereja, tetapi juga di gerbang kota, di jalan-jalan, di tempat bekerja, di tempat umum, di ruang terbuka, di masyarakat, dan di dunia digital.
Pembangunan ini dimulai dari Elyasib, seorang imam besar, beserta saudara-saudaranya yang memiliki jabatan sebagai imam. Mereka membangun Pintu Gerbang Domba. Sesudah itu, ada orang-orang Yerikho, ada Zakur bin Imri, ada bani Sena’a, ada Meremot bin Uria bin Hakos, ada Mesulam bin Berekhya bin Mesezabe’el, ada Zadok bin Ba’ana, ada orang-orang Tekoa, dll. Nama-nama ini jarang muncul di dalam teks Kitab Suci dan sulit untuk dihafalkan, tetapi menggambarkan tentang banyak orang dari berbagai latar belakang yang berbeda, ikut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan.
Latar belakang pekerjaan mereka juga berbeda: ada imam, ada tukang emas, ada pedagang, ada warga biasa, ada orang kota, ada orang desa, ada orang yang memiliki jabatan, ada yang tidak memiliki jabatan. Semua terlibat dalam pelayanan. Artinya, pelayanan bukanlah milik orang-orang tertentu. Orang-orang yang melayani Tuhan tidak hanya terlihat di gereja pada hari Minggu saja. Kehidupan rohani seharusnya tidak terpisah dengan tanggung jawab sosial.
Di zaman Nehemia, gerbang kota bukan sekadar pintu masuk atau keluar. Gerbang adalah tempat pertemuan, tempat transaksi, tempat percakapan, tempat membuat keputusan, bahkan tempat untuk mengambil keputusan hukum. Semua urusan masyarakat berlangsung di tempat ini. Gerbang kota adalah ruang sosial, ruang publik. Untuk masa sekarang, gerbang kota bisa disamakan dengan: tempat bekerja, tempat belajar, pasar, rumah sakit, kantor pemerintahan, RPTRA, lingkungan sekitar, grup WA, serta media sosial.
Memang ruang publik itu memiliki tujuan dan fungsi masing-masing. Tetapi, seharusnya kita tidak memisahkan antara hidup rohani dengan kehidupan sehari-hari. Seharusnya berjalan seiring. Contoh pemisahan kehidupan rohani dengan kehidupan sehari-hari: kebaktian itu rohani, tetapi pekerjaan itu biasa; doa itu kudus, tetapi cara pengelolaan uang bisa sembarangan; melayani di gereja itu mulia, tetapi – menjadi pengawai yang jujur, guru yang adil, pedagang yang bersih, siswa atau mahasiswa yang tidak mnecontek – semuanya itu dianggap hal kecil.
Bagaimana kita menyelaraskan kehidupan rohani dengan kehidupan sehari-hari? Seorang guru Kristen sedang membangun gerbang (atau tembok) ketika ia tulus membimbing anak didik dengan karakter yang baik; seorang pegawai sedang membangun gerbang ketika ia menolak untuk membuat laporan keuangan fiktif; seorang pedagang Kristen sedang membangun gerbang ketika ia mengambil keuntungan yang wajar; seorang perawat sedang membangun gerbang ketika ia melayani pasien dengan tulus tanpa membedakan latar belakang; seorang pegawai pemerintah sedang membangun gerbang ketika ia menolak korupsi dan bekerja dengan hati nurani yang bersih; seorang siswa (atau mahasiswa) sedang membangun gerbang ketika ia memilih jujur dalam ujian meskipun teman yang lain tidak jujur; seorang ibu sedang membangun gerbang ketika mendidik anak-anak dalam kasih, disiplin, dan takut akan Tuhan; semua kita sedang membangung gerbang ketika menggunakan media sosial untuk menghadirkan kebenaran dan damai.
Jika kita membaca seluruh Nehemia 3, orang-orang membangun bagian tembok yang ada di wilayah mereka, atau di depan rumah mereka. Setiap orang mengerjakan bagian yang dipercayakan kepadanya. Tuhan tidak menuntut setiap orang membangun seluruh tembok Yerusalem, tetapi Tuhan hanya meminta setiap orang setia pada bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Jangan sampai kita sibuk mengatur bagian orang lain, tetapi luap untuk membangun bagian kita sendiri. Kita menemui banyak orang yang seperti ini: mudah mengkritik pemerintah tetapi tidak jujur dalam membayar pajak, sedih dengan generasi muda yang rusak tetapi tidak mendidik anak dengan benar.
Di ayat 5, Nehemia memberi peringatan, “dan di dekat dia orang-orang Tekoa. Namun, para pemuka mereka tidak mau memberi dukungan untuk pekerjaan tuan mereka.” Ada orang-orang biasa yang mau bekerja, tetapi ada orang-orang “terhormat” yang tidak mau bekerja. Ada orang yang ingin dihormati, tetapi tidak mau bekerja. Ada orang yang mengejar posisi, tetapi tidak suka tanggung jawabnya. Di hadapan Tuhan, kehormatan bukan terletak pada gelar, tetapi pada kesetiaan.
Banyak nama sudah disebut dipasal ini, tetapi tidak ada yang menjadi pusat kemuliaan. Mereka bekerja bukan untuk validasi pribadi, tetapi untuk memuliakan kota Tuhan. Di dunia media sosial, disebut sebagai dunia pencitraan. Orang akan mudah melakukan sesuatu kalau dilihat. Orang mudah melayani kalau dipuji. Orang terlibat kalau namanya disebut. Bahayanya, pelayanan bisa berubah menjadi panggung untuk membangun nama sendiri.
Sebagai orang percaya, kita melihat semua penggenapan yang lebih besar di dalam Yesus Kristus. Yesus tidak datang hanya memberi pengajaran. Ia sedang masuk ke tembok yang retak atau hancur. Yesus hadir di ruang publik. Yesus rela dihina dan disalibkan demi memulihkan manusia yang sudah rusak karena dosa.
Gereja bukan hanya kumpulan orang-orang yang datang ke gedung gereja seminggu sekali. Gereja adalah umat Tuhan yang diutus ke gerbang-gerbang kota, ke ruang publik. Berkumpul di gereja itu penting, karena setelah itu umat Tuhan diutus untuk menjadi berkat di luar gereja, di ruang publik.
Views: 1