1 Timotius 3:1-13; Titus 1:5-9
Titus 1:5-9
Tugas Titus di Kreta – Syarat-syarat bagi penatua, pengawas jemaat. (5) Aku meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu, (6) yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu istri, yang anak-anaknya beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib. (7) Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang pengawas jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, tidak pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, (8) melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri (9) dan berpengang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.
Ketika kita berbicara tentang kepemimpinan dalam gereja, pikiran kita akan tertuju pada jabatan-jabatan tertentu, seperti: Gembala Jemaat, Penatua dan Diaken. Ada banyak hal dan tanggung jawab pelayanan yang harus dilakukan, dalam hal pengelolaan dan penatalayanan gereja. Jabatan-jabatan ini bukan sekadar struktur organisasi, tetapi lebih pada panggilan ilahi. Orang-orang percaya yang ada di jabatan ini sedang ditempatkan oleh Tuhan melalui jemaat Tuhan, untuk mengatur gereja dan pelayanan.
Di ayat yang kita baca, rasul Paulus memberikan kriteria bagi orang percaya yang menjadi penilik jemaat, atau penatua, dan diaken. Kriteria ini bukan kemampuan tertentu, bukan pula prestasi tertentu atau kompetensi di bidang tertentu. Kriteria yang ada menjadi jauh lebih penting, karena berkaitan dengan karakter. Bagi Tuhan, pelayanan gereja tidak dibangun atas kecerdasan, popularitas, atau kemampuan berbicara. Lebih dari itu, pelayanan gereja seharusnya dilakukan di atas dasar hati yang murni, hidup yang berintegritas, serta kesetiaan kepada Kristus.
Di dalam 1 Timotius 3:1 dikatakan, “Orang yang menghendaki jabatan pengawas (penilik) jemaat menginginkan tugas yang mulia (indah).” Gereja kita mengenal tiga jabatan gerejawi, yaitu Gembala Jemaat, Penatua dan Diaken. Gembala Jemaat merupakan penatua yang menggembalakan dan mengajar. Penatua bertugas untuk memimpin, mengatur dan menata kehidupan berjemaat. Diaken atau syamas bertugas pada pelayanan diakonia, bersifat karitatif dan transformatif. Tiga jabatan ini tidak membedakan tingkat status, tetapi membedakan fungsi dan tugas. Semuanya memiliki status yang sama, yaitu jemaat Tuhan. Ketiga jabatan gerejawi ini juga memiliki tugas masing-masing secara organisasi. Organisasi gereja diperlukan supaya lebih mudah dalam pengelolaan.
Kepemimpinan Kristen berbeda dengan kepemimpinan organisasi lainnya. Kepemimpinan Kristen bersifat melayani. Untuk bisa melayani dengan baik, perlu karakter-karakter yang sesuai dengan firman Tuhan, seperti: hidup dalam kesederhanaan, memiliki integritas serta kedewasaan rohani. Ketika Alkitab berkata “tidak bercacat” bukan berarti orang itu sempurna, tetapi hidupnya dapat dipercaya. Kriteria yang lain disebutkan, seperti: setia di dalam keluarga, bukan pemarah, bukan penggemar minuman beralkohol, sopan, bersedia mengajar serta memegang teguh ajaran yang benar.
Jabatan Diaken bukan jabatan kelas dua. Kita perlu ingat bahwa sebagai orang percaya kita memiliki status yang sama di hadapan Tuhan. Dalam hal tugas, kita memiliki perbedaan. Pelayanan para Diaken bersumber dari kebutuhan rohani yang dalam. Pelayanan Diakonia bukan sekadar membantu, tetapi menjadi bagian dari perwujudan belas kasihan Tuhan. Karena itu, Diaken harus terhormat, tidak bercabang lidah, tidak serakah, dan berpegang pada rahasia iman. Seharusnya, karakater-karakter seperti ini juga ada di semua anggota jemaat.
Jadi, hampir sebagian besar syarat itu merupakan standar hidup orang Kristen yang seharusnya dijalankan oleh setiap orang yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus. Misalnya, jika kita sebutkan beberapa: bijaksana, penguasaan diri, sopan, tidak cinta uang, setia kepada pasangan, hidup yang teratur, tidak pemarah, tekun dalam kasih, memegang teguh ajaran yang benar; bukankah itu semua merupakan buah dari kehidupan orang percaya? Bukankah itu semua menjadi ciri bagi orang yang sudah dilahirkan kembali oleh Kristus?
Jabatan gerejawi memang jabatan khusus. Tetapi, karakter yang dituntut merupakan karakter Kristen yang umum. Karena itulah, jabatan gerejawi tidak memandang kepandaian berorganisasi, tidak memandang kaya atau miskin, tidak memandang punya banyak waktu luang atau tidak. Kepada mereka yang mau terpanggil dan siap untuk hidup sesuai Injil, patut menerima jabatan ini.
Memimpin jemaat bukanlah tugas yang ringan. Anggota jemaat sangat beragam dan kompleks, dengan perbedaan yang sangat luas dari berbagai sisi. Tugas-tugas yang perlu dikerjakan, antara lain: pelayanan firman, penggembalaan, penatalayanan, pelayanan diakonia, pemeliharaan kehidupan rohani, dll. Para pemimpin jemaat rela mengorbankan waktu, tenaga, keluarga, bahkan kenyamanan demi pelayanan. Pemimpin gereja juga manusia biasa yang sama rentannya dengan orang lain. Karena itu, anggota jemaat perlu mendukung dalam doa.
Ibrani 13:17-18 mengatakan, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya, supaya mereka melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu. Berdoalah terus untuk kami. Sebab, kami yakin bahwa hati nurani kami murni, karena di dalam segala hal kami menginginkan hidup yang baik.”
Kepemimpinan di gereja kita lebih demokratis, karena dipilih secara langsung oleh anggota jemaat. Kepemimpinan di gereja kita juga bersifat kolegial, artinya keputusan-keputusan yang dihasilkan merupakan keputusan bersama, dengan mempertimbangkan berbagai macam hal, melihat dari berbagai sisi, serta memperhatikan kemajemukan jemaat yang ada.
Ketika anggota jemaat menghargai pemimpinnya, pemimpin dapat bekerja dengan damai. Ketika pemimpin bekerja dengan damai, jemaat akan bertumbuh dalam kasih. Ketika jemaat bertumbuh dalam kasih, nama Kristus dipermuliakan. Konflik tidak akan banyak terjadi, sehingga energi jemaat bisa digunakan untuk kemuliaan Tuhan serta penginjilan.
Sejatinya, jabatan gerejawi tidak membuat seseorang menjadi lebih tinggi dari jemaat yang lain. Justru jabatan gerejawi ini membuat seseorang makin rendah hati, semakin siap menjadi teladan, dan semakin rela melayani. Pemimpin yang setia dan jemaat yang taat merupakan kombinasi yang indah, karena saling menghargai satu dengan yang lain. Melalui kombinasi ini, gereja dapat menjadi kesaksian yang baik. Gereja akan berfungsi dengan baik sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran.
Views: 10