Kolose 3:17
Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah Bapa.
Setiap pergantian tahun, biasanya akan membawa perasaan yang istimewa. Di waktu seperti itu, akan ada harapan baru, doa yang baru, dan kerinduan agar hidup di masa yang akan datang lebih baik dari tahun sebelumnya. Bagi sebagian besar keluarga Tionghoa, tahun baru Imlek merupakan momen yang sangat berarti: kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga, mengenang perjalanan hidup, dan waktu untuk mengucap syukur atas penyertaan Tuhan selama ini.
Orang Kristen keturunan Tionghoa perlu bersikap secara iman terhadap tradisi ini. Tradisi suku bisa beralih menjadi keyakinan turun temurun. Semua suku bangsa memiliki tradisi masing-masing, biasanya akan selalu dihubungkan dengan keyakinan iman.
Firman Tuhan hari ini, akan menolong kita untuk melihat bahwa orang Kristen bisa merayakan tahun baru Imlek, tetapi bukan sebagai ritual kepercayaan atau keyakinan. Kita merayakan tahun baru Imlek sebagai perayaan syukur, yaitu syukur kepada Tuhan yang hidup, yang telah memberi kehidupan, berkat, penyertaan, serta pengharapan di masa depan. Bagi kita, Imlek seharusnya bukan berbicara tentang keberuntungan, shio, atau angka-angka tertentu. Bagi orang percaya, tahun baru Imlek adalah kesempatan untuk bersaksi tentang Tuhan yang setia.
1 Tesalonika 5:18 mengingatkan kita, “Ucapkanlah syukur dalam segala hal. Sebab, itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Bersyukur tidak terbatas pada saat hidup kita lancar atau diberkati secara jasmani, tetapi bersyukur dalam segala hal: di tahun yang berat, pada saat usaha tidak stabil, saat kesehatan sedang diuji, ketika rencana belum terwujud. Tahun baru Imlek mengajak kita berhenti sejenak untuk melihat semua perbuatan Tuhan di tahun sebelumnya: kita masih diberi nafas, keluarga masih bisa bersama, pekerjaan masih ada, serta iman masih kuat dan terpelihara dengan baik. Orang percaya tidak menunggu semua sempurna untuk bersyukur, karena syukur itu mendahului perubahan.
Orang percaya seharusnya menempatkan Tuhan sebagai sumber berkat. Di dalam tradisi Imlek, kita sering mendengar ungkapan: semoga rezeki lancar, semoga usaha maju, semoga panjang umur, semoga diberi kesehatan. Kita tidak perlu menolak semua harapan itu. Hanya saja, kita harus tahu pasti, sumber dari semua itu.
Mazmur 127:1 mengingatkan kita, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah jerih payah orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” Bukan hoki yang menentukan masa depan, bukan shio yang mengatur hidup, dan bukan angka yang membawa berkat. Kita harus sadar bahwa Tuhanlah sumber kehidupan dan berkat.
Misalnya, orang Kristen bisa tetap memberi angpau (amplop merah berisi uang) sebagai tanda kasih, bukan sebagai penolak sial atau penarik hoki. Angpau menjadi simbol berbagi berkat, bukan ritual mistis. Di meja makan menjelang Imlek, kita bisa: berdoa sebelum makan, makan dan minum makanan yang menjadi kesaksian dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, mengucap syukur, dan menyebut nama Tuhan sebagai sumber hidup. Semua ini akan menjadi kesaksian iman yang lembut, tetapi jelas.
Kita juga perlu membedakan tradisi yang sejalan dengan firman Tuhan dan yang perlu dihindari. Firman Tuhan di dalam Roma 12:2 dengan tegas mengatakan, “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.”
Membedakan bukan menolak secara keseluruhan. Tradisi yang masih bisa dilaksanakan: berkumpul dengan keluarga, saling mengucapkan doa dan harapan baik, membersihkan rumah (sebagai bentuk kerapian dan simbol memulai hidup yang lebih baik), berbagi makanan atau angpau sebagai tanda kasih. Tradisi yang harus dihindari: sembahyang kepada leluhur atau dewa, ritual memohon rezeki kepada roh nenek moyang, memercayai ramalan (termasuk shio atau feng shui).
Sebagai orang percaya, kita tetap bisa hadir dalam acara keluarga besar, dengan batasan: tidak ikut ritual sembahyang atau penyembahan, menjelaskan dengan lembut bahwa kita juga berdoa kepada Tuhan, serta tetap menjaga hubungan baik dengan kasih. Kesaksian kita bukan dengan perlawanan kekerasan, tetapi dengan iman yang konsisten.
Imlek menjadi kesempatan untuk bersaksi melalui sikap dan hidup (Kolose 3:17). Ketika berkumpul dengan keluarga besar, menjadi momen dan kesempatan untuk bersaksi, melewati: sikap rendah hati, tutur kata yang penuh kasih, hidup yang jujur dan sederhana, membawa damai di tengah perbedaan. Ketika keluarga melihat bahwa kita tetap bersyukur meski tidak berlebihan, atau tidak panik menghadapi masa depan, diharapkan mereka bisa melihat bahwa iman Kristen memberi ketenangan, kedamaian, dan pengharapan sejati.
Jadikan Imlek sebagai peristiwa yang indah. Di dalamnya kita memiliki kesempatan untuk berkata bahwa Tuhan sudah setia di tahun yang lalu, Ia juga akan memimpin kita di tahun yang baru. Mari melangkah di tahun yang baru dengan syukur dan iman. Mari kita mensyukuri tahun baru dengan tetap memuliakan Tuhan.
Views: 0