Komitmen Injili

2 Timotius 1:8-14

(8) Jadi, janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang tahanan karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil dengan kekuatan Allah. (9) Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan anugerah-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman (10) dan sekarang dinyatakan oleh penampakan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang melalui Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

(11) Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan guru. (12) Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu. Sebab, aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari itu. (13) Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari aku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih di dalam Kristus Yesus. (14) Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam kita.

Surat ini ditulis oleh Paulus dalam kondisi berat. Paulus sedang berada di penjara dan menghadapi kemungkinan mendapatkan hukuman mati. Paulus dipenjara bukan karena korupsi atau melakukan kejahatan. Ia dipenjara karena sedang memberitakan Injil Yesus Kristus. Injil atau kabar baik yang disampaikan oleh Paulus ini ternyata memiliki banyak dampak sosial yang baik, antara lain: orang-orang yang tertindas dibangkitkan martabatnya, kasih dan pengampunan dipraktikkan, pelayanan dan pemberitaan firman dilakukan tanpa kekerasan.

Paulus sedang memberitahu kepada Timotius dan kepada kita semua, bahwa Injil bukan sekadar teori. Injil itu bisa mengubah hidup seseorang. Karena itu, maka Paulus menulis beberapa hal penting kepada Timotius dengan penekanan: jangan malu, tetapi setia, jaga Injil, dan lakukan semuanya itu dengan kasih.

Di ayat 8 dikatakan, “Jadi, janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang tahanan karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil dengan kekuatan Allah.” Timotius bisa saja mengalami ketakutan. Jika Timotius sangat dekat dengan Paulus, maka ia bisa dicurigai dan dipenjara. Paulus mengingatkan bahwa Injil itu bukan kabar yang memalukan. Injil itu seperti harta terpendam atau mutiara, yang perlu disampaikan kepada banyak orang. Injil adalah kabar baik dan harta yang sangat indah, bersumber dari Tuhan sendiri, yang telah memanggil kita dalam keselamatan oleh anugerah-Nya, bukan karena perbuatan baik kita.

Injil bukan cerita buatan manusia. Injil adalah sebuah kabar yang menyatakan bahwa Tuhan mengasihi manusia, memanggil manusia berdosa untuk keluar dari kehidupannya yang lama, serta memberi kehidupan baru di dalam Kristus. Orang Kristen malu kepada Injil, seringkali muncul bukan karena Injil itu salah atau dipalsukan, tetapi karena kita takut terhadap penilaian orang. Kita mungkin takut dianggap kuno, dianggap terlalu rohani, atau dianggap berbeda. Jika Injil adalah kebenaran dan kasih Tuhan, seharusnya kita tidak perlu malu memberitakan Injil atau hidup di dalam Injil itu.

Bagaimana caranya? Kita tidak perlu malu mengaku sebagai pengikut Kristus, melalui hidup yang jujur, bersih, dan siap untuk mengasihi. Kita tidak perlu malu berdiri bersama orang benar yang sedang difitnah atau menderita karena memilih jalan Tuhan. Kita tidak perlu malu melakukan kebaikan, meskipun tidak disukai oleh banyak orang.

Kita perlu berlaku setia. Kita sebenarnya tahu bahwa mengikut Yesus belum tentu mendapatkan kenyamanan duniawi. Di ayat 8b, Paulus menyatakan, “Ikutlah menderita bagi Injil dengan kekuatan Allah.” Penderitaan itu dijalani menurut kuasa Tuhan, bukan kekuatan manusia.

Kita mungkin pernah melihat orang mundur dari kekristenan atau pelayanan, karena merasa sendirian. Pada saat keluarga menolak, teman dekat mengejek, saat pelayanan membuat lelah dan jenuh, saat berbuat benar justru disalahpahami, kita mulai bertanya, “Untuk apa semua ini?” Paulus mengalami semua itu. Tetapi Dia sadar bahwa “Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan penguasaan diri.” (ayat 7).

Jika kita diizinkan oleh Tuhan untuk menderita karena Injil, itu bukan penderitaan karena kita telah berdosa atau menyakiti orang lain. Penderitaan itu diizinkan terjadi karena kita memilih untuk taat, memilih untuk melakukan kebenaran, dan memilih untuk mengasihi. Jika kita sudah lelah melayani, ingatlah bahwa Tuhan memberi kuasa untuk bertahan. Jika kita disalahpahami karena memilih untuk jujur, ingatlah bahwa Tuhan melihat kita. Jika kita merasa tertekan karena memberitakan Injil, kita bisa meminta Roh Kudus untuk memberi kekuatan.

Di dalam kehidupan sebagai orang percaya, kita tidak hanya perlu keberanian, tetapi juga perlu keteguhan dan kesetiaan dalam ajaran sehat. Gereja tidak hanya memerlukan semangat dan kebersamaan, tetapi juga perlu kebenaran yang murni, supaya kasih dan jalannya tidak salah arah. Injil harus dijaga agar tidak dirusak atau diselewengkan. Semua itu bisa kita lakukan jika Roh Kudus berada dalam hati kita.

Injil itu sangat berharga. Jangan pernah mencampurnya dengan hal lain yang menyesatkan. Jangan mengubah Injil demi mendapatkan motivasi untuk sukses. Jangan menggunakan Injil untuk menyerang orang karena kecewa atau sakit hati. Jangan menggunakan berita INjil untuk membenarkan kebencian. Injil harus tetap kabar baik: kabar keselamatan, panggilan pertobatan, ajakan untuk hidup baru, kekuatan untuk hidup dalam kasih Kristus.

Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Roma 10:15).

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top