Yohanes 1:14,18
(14) Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran.
(18) Tidak seorang pun pernah melihat Allah. Namun, Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Sepanjang sejarah Perjanjian Lama, manusia mengetahui dan membaca tentang Tuhan melalui penjelasan dan tulisan Musa, melalui nyanyian Mazmur, dan melalui nubuatan para nabi. Dari mereka, kita tahu bahwa Tuhan itu nyata, Ia hidup, dan peduli pada ciptaan-Nya. Tetapi ada satu hal yang tidak mungkin terjadi, yaitu bahwa tidak ada satu manusia pun yang bisa melihat Tuhan secara langsung, muka dengan muka. Musa pernah meminta supaya dapat melihat Tuhan, tetapi Tuhan berkata bahwa Musa tidak akan tahan melihat wajah Tuhan.
Di dalam Keluaran 33:18-20 dikatakan, “Jawab Musa, Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku. Lalu TUHAN berfirman, Aku akan membuat seluruh kegemilangan-Ku lewat di hadapanmu, dan akan menyerukan nama TUHAN di hadapanmu. Aku akan memberi kasih karunia kepada orang yang Kuberi kasih karunia dan Aku mengasihani orang yang Kukasihi. Firman-Nya lagi, Engkau tidak dapat melihat wajah-Ku, sebab tidak mungkin manusia melihat Aku dan tetap hidup.”
Semua itu menjadi berubah ketika masuk dalam Perjanjian Baru, ketika Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Rasul Yohanes menyatakan bahwa Firman itu bukan sekedar konsep, tetapi Pribadi. Di dalam Yohanes 1:1-3 dikatakan, “ Pada mulanya sudah ada Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan melalui Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Tuhan hadir sebagai manusia dan bersama-sama dengan manusia, dalam kondisi yang paling rendah. Sang Pencipta masuk dalam ciptaan-Nya. Dia datang tidak sebagai raja yang besar dengan upacara yang megah, tetapi sebagai bayi sederhana yang lahir di tempat hina, di kota kecil bernama Betlehem.
Untuk membuktikan diri bahwa Yesus adalah Tuhan, Ia mengerjakan banyak mujizat disertai dengan pengajaran. Yesus melakukan beberapa mujizat: mengubah air menjadi anggur, memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan, berjalan di atas air, menyembukan mata orang yang buta sejak lahir, serta membangkitkan Lazarus yang sudah empat hari berada di dalam kubur. Untuk memperkenalkan diri, Yesus menyatakan “ego eimi” atau “Aku adalah”: Akulah roti hidup; Akulah terang dunia; Akulah pintu; Akulah gembala yang baik; Akulah kebangkitan dan hidup; Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup; Akulah pokok anggur yang benar. Ego eimi sama persis dengan pernyataan Tuhan di Perjanjian Lama: Aku adalah Aku (ehyeh asher ehyeh).
Selain menyatakan diri sebagai Tuhan, Yesus juga menyatakan diri sebagai manusia yang sesungguhnya. Ia tidak sedang berpura-pura menjadi manusia, tetapi memang manusia seutuhnya. Yohanes mencatat beberapa peristiwa kemanusiaan Yesus, seperti: Yesus mengalami keletihan karena perjalanan (Yoh 4:6); Yesus menangis karena duka yang mendalam terhadap kematian Lazarus (Yoh 11:35). Puncaknya, Ia mati. Ia benar-benar mati di kayu salib, dengan tubuh yang terluka dan teriakan ‘sudah selesai’ (tetelestai).
Di ayat 14 bagian akhir dinyatakan bahwa Yesus Kristus itu penuh anugerah dan kebenaran. Ini adalah dua hal yang saling bertentangan, tetapi disatukan di dalam Kristus. Karena kasih, maka Tuhan memberikan anugerah itu. Kasih yang Tuhan berikan kepada kita bukan karena memang kita layak menerimanya, tetapi karena Tuhan memilih untuk mengasihi kita. Bapa mengirim Anak-Nya ke dunia bukan karena dunia ini baik, tetapi karena dunia ini sedang memerlukan penyelamatan. 1 Yohanes 4:10 menyatakan, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”
Mengenai kebenaran, Yohanes 14:6 menyatakan bahwa Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Yesus tidak hanya mengajarkan kebenaran, tetapi Ia adalah kebenaran itu sendiri. Ketika anugerah dan kebenaran bersatu dalam satu Pribadi, hasilnya adalah keselamatan. Hukuman dosa ditanggung oleh Sang Kebenaran, sehingga pengampunan bisa diberikan oleh Sang Anugerah.
Selanjutnya, kita bisa melihat Bapa dalam wajah, sifat, karakter, serta perilaku Yesus Kristus. Selama ribuan tahun manusia bertanya-tanya, seperti apa Allah atau Bapa itu sebenarnya? Kita bisa mengenal Bapa melalui Yesus Kristus. Kita tahu sifat Bapa yang peduli pada orang-orang yang dikucilkan, ketika Yesus menyapa perempuan Samaria di sumur Yakub. Kita tahu pengampunan Tuhan terhadap dosa manusia ketika Yesus mengampuni perempuan yang kedapatan berzinah. Kita tahu kesedihan Bapa, ketika membaca bahwa Yesus menangis di depan kubur Lazarus. Kita mengerti kasih Bapa ketika membaca peristiwa penyaliban Yesu Kristus.
Pada akhirnya, rasul Yohanes mengharapkan bahwa kita benar-benar mengenal Yesus Kristus. Di dalam Yohanes 20:31 dicatat, “Tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Injil ini disampaikan kepada kita bukan supaya kita kagum, bukan supaya kita tahu lebih banyak, tetapi supaya kita percaya, dan oleh iman itu kita memperoleh hidup di dalam nama Yesus. Karena itu, marilah kita menundukkan diri dan membaktikan segenap hidup kita untuk Dia.
Views: 0