Filipi 2:1-4
TB2:
Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus. (1) Jadi, karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, (2) sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, (3) tanpa mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. (4) Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
Hari ini kita akan membahas tentang satu hal yang sering membuat rumah tangga menjadi “aneh”, yaitu: sama-sama cinta atau mengasihi, tetapi sering merasa tidak dicintai. Adakah pasangan yang seperti itu?
Mari coba kita lihat:
Siapa yang jika stres, maunya didengarkan dulu?
Siapa yang jika stres, maunya dipeluk dulu?
Siapa yang jika stres, maunya dibantu menyelesaikan masalah?
Setiap kita pasti memiliki respon yang berbeda. Artinya, cara kita menerima dan mengekspresikan kasih itu beda. Dalam bahasa psikologis sekarang sering disebut dengan love language atau bahasa cinta.
Masalah pasangan biasanya bukan karena kurang cinta, tetapi beda bahasa cintanya. Laki-laki biasanya menggunakan “bahasa tindakan”, biasanya terucap: “Aku capek kerja buat kamu, ini bukti cintaku.” Sedangkan perempuan biasanya menggunakan “bahasa kata-kata”, biasanya terucap: “Aku Cuma mau kamu bilang: terima kasih, sayang.”
Bisa juga sebaliknya. Misalnya, perempuan menunjukkan kasih melalui kesibukannya sehari-hari, seperti: rajin masah, membersihkan rumah, dan mengingat segala sesuatu yang kecil dan detail. Sedangkan pihak laki-laki sebenarnya perlu waktu berkualitas, seperti: ngobrol sambil ngopi tanpa HP atau ngobrol santai sambil jalan berdua.
Jadi, terkadang konflik rumah tangga terjadi bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena cinta kasih itu tidak tersampaikan dengan tepat, karena memiliki “bahasa cinta” yang berbeda dan tidak saling mengerti.
Ayat di atas sebenarnya juga mengajarkan kepada kita untuk “menurunkan level” supaya bisa nyambung dan saling mengerti. Caranya: tidak hidup untuk kepentingan diri sendiri, tidak digerakkan oleh egoisme, menganggap pasangan lebih utama, serta menggunakan cara berpikir Kristus.
Jika hal ini diterapkan dalam kehidupan rumah tangga: kasih itu bukan soal saya nyaman, tetapi supaya kamu (pasangan) merasakan kasih. Yesus pun demikian. Dia tidak mengasihi kita dengan cara yang kita suka, tetapi mengasihi dengan cara yang kita mengerti dan perlukan sebagai manusia, seperti: berkorban, melakukan penyesuaian, merendahkan hati bahkan diri.
Kasih Yesus tidak mengatakan: “Emang seperti inilah saya, saya ya memang seperti ini.” Tetapi Yesus rela menurunkan level, supaya kita diselamatkan. Seharusnya di dalam pernikahan juga begitu. Kasih bukan sekadar ekspresi, tetapi adaptasi.
Setiap orang memiliki bahasa kasih yang berbeda. Hanya saja, bahasa kasih ini jangan dijadikan senjata, karena akan mencerminkan bahwa kita tidak mau adaptasi dan egois. Bahasa kasih jika tidak disertai dengan kerendahan hati, akan mengakibatkan tuntutan, bukan kasih. Akhirnya kita bisa terjebak untuk meminta pasangan menyesuaikan bahasa kasih kita dan kita tidak mau belajar bahasa kasih dia.
Beberapa bahasa kasih yang perlu kita ketahui, untuk dilihat di diri kita dan pasangan kita:
Words of affirmation, akan merasa dikasihi jika mendapatkan afirmasi, seperti: aku bangga, aku sayang.
Quality time, akan merasa dikasihi dan diperhatikan. Biasanya 30 menit ngobrol tanpa diganggu HP bisa lebih berarti dibandingkan dengan hadiah mahal.
Acts of service, merasa dikasihi jika dibantu cuci piring atau cuci baju. Semua itu menjadi versi paling nyata tanpa harus mengatakan “aku cinta kamu.”
Physical touch, merasa dikasihi jika disentuh atau dipeluk beberapa detik saat stres, bisa menurunkan stres dan menguatkan hati.
Gift, merasa diperhatikan jika diberi hadiah. Bukan soal harga, tetapi sebagai simbol kasih.
Pernikahan tidak hanya berbicara tentang kecocokan. Pernikahan merupakan proses belajar dan bertumbuh, saling mengasihi seperti Kristus. Bukti cinta terbesar adalah ketika kita mau berkorban dengan cara “turun level” demi pasangan. Mari belajar bahasa cinta pasangan kita, dengan prinsip bahwa Yesus terlebih dulu mengasihi kita dengan cara merendahkan dirinya.
Aktivitas di rumah: cari dan tulis bahasa cinta dari pasanganmu. Lakukan satu tindakan nyata tanpa menuntut balasan. Ulang tindakan kecil dan sederhana itu setiap hari.
Views: 13