Antara Mezbah dan Meja Makan

Maleakhi 1:9-4

(9) Sekarang, cobalah lunakkan hati Allah, supaya Ia mengasihani kita! Oleh tanganmulah hal itu terjadi. Mungkinkah Ia akan menyambut seorang dari antaramu dengan baik? Firman TUHAN Semesta Alam. (10) Sekiranya saja ada di antara kamu yang menutup pintu, sehingga kamu tidak menyalakan api di mezbah-Ku dengan percuma. Aku tidak berkenan kepadamu, firman TUHAN Semesta Alam, dan Aku juga tidak sudi menerima persembahan dari tanganmu. (11) Sebab dari terbit matahari sampai pada terbenamnya, nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa. Di setiap tempat akan dipersembahkan dupa bagi nama-Ku dan juga kurban sajian yang tahir, sebab besarlah nama-Ku di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN Semesta Alam.

(12) Tetapi, kamu ini menajiskannya, karena kamu menyangka, “Meja Tuhan memang cemar dan makanan yang ada di situ boleh diremehkan!” (13) Kamu berkata, “Lihat, ini menyusahkan saja!” dan kamu mencibir Aku, firman TUHAN Semesta Alam. Kamu membawa binatang rampasan, binatang yang timpang dan yang sakit. Itulah yang kamu bawa sebagai persembahan. Akan berkenankah Aku menerimanya dari tanganmu? firman TUHAN. (14) Terkutuklah penipu, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, dan telah menazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan. Sebab, Aku ini Raja yang besar, firman TUHAN Semesta Alam, dan nama-Ku ditakuti di antara bangsa-bangsa.

Kitab Maleakhi menjadi kitab terakhir di dalam Perjanjian Lama. Kitab ini ditulis setelah masa pembuangan, sekitar abad ke-5 sebelum Kristus lahir. Pada waktu itu, bangsa Israel sudah kembali dari Babel dan Bait Suci sudah dibangun kembali. Bangsa Israel sepertinya sudah pulih, jika dilihat secara mata jasmani: korban persembahan sudah dijalankan, para imam sudah melayani, sistem ibadah simbolik juga sudah diberlakukan seperti sebelumnya. Tetapi secara iman, kehidupan rohani mereka turun. Memang bangsa Israel tidak melakukan pemberontakan kepada Tuhan secara terang-terangan seperti sebelumnya, tetapi mereka mulai menjadi suam-suam kuku. Mereka memang tidak meninggalkan Tuhan, tetapi juga tidak menghormati Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Bangsa Israel di zaman Malaeakhi mudah sekali berkompromi. Mereka sudah kembali dari pembuangan, tetapi tidak merasa hidup merdeka. Di dalam persembahan, mereka mulai memberi kepada Tuhan dengan sisa, bukan lagi yang terbaik. Disebutkan bahwa mereka mempersembahkan binatang yang buta, timpang, dan sakit. Hal ini tentu bertentangan dengan Imamat 22:20 yang menjelaskan bahwa korban bagi Tuhan harus tanpa cacat.

Tentang hal ini, Tuhan menegur bangsa Israel melalui Maleakhi, di ayat 10, “Sekiranya saja ada di antara kamu yang menutup pintu, sehingga kamu tidak menyalakan api di mezbah-Ku dengan percuma. Aku tidak berkenan kepadamu, firman TUHAN Semesta Alam, dan Aku juga tidak sudi menerima persembahan dari tanganmu.” Tuhan lebih memilih pintu Bait Suci ditutup daripada ibadah itu dilakukan tanpa hati. Masalah bukan pada aktivitas ibadah simboliknya, tetapi pada motivasi dan integritasnya. Bangsa Israel tetap datang ke mezbah, tetapi hati mereka tidak. Mereka tetap mempersembahkan kurban, tetapi kualitasnya korban itu meremehkan Tuhan.

Dari sini kita melihat bahwa ada perbedaan antara mezbah dengan meja makan. Mezbah melambangkan ibadah formal di Bait Suci, sedangkan meja makan melambangkan kehidupan sehari-hari. Ternyata ibadah di mezbah tidak lagi memiliki dampak pada kehidupan sosial. Di pasal-pasal berikutnya, Tuhan juga menegur tentang kesetiaan bangsa Israel dalam hal pernikahan, ketidakadilan, serta sikap tidak memberi persepuluhan. Terjadi ketidak-konsistenan antara ritual ibadah simbolik dengan etika hidup sehari-hari.

Masalah ini tidak hanya terjadi pada waktu itu, tetapi juga terjadi di sepanjang zaman. Pada saat ini, bisa saja pola itu terjadi. Misalnya, kita datang setiap Minggu untuk kebaktian, menyanyi dengan penuh semangat, melayani di berbagai bidang, serta memberikan persembahan. Tetapi, apakah kebaktian atau persekutuan itu menyatu dengan kehidupan kita sehari-hari? Apakah cara kita bekerja, berbicara, dan memperlakukan orang lain, mencerminkan apa yang kita lakukan di gereja?

Di ayat 11 dikatakan, “Sebab dari terbit matahari sampai pada terbenamnya, nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa. Di setiap tempat akan dipersembahkan dupa bagi nama-Ku dan juga kurban sajian yang tahir, sebab besarlah nama-Ku di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN Semesta Alam.” Ibadah yang sejati tidak berhenti hanya di gedung gereja. Kemuliaan Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Ibadah yang sejati itu berlaku sepanjang hari dan setiap hari, bukan hanya satu hari atau bahkan hanya dua jam. Penyembahan kita kepada Tuhan terjadi di seluruh aspek kehidupan kita.

Pelayanan di gereja harus berjalan seiring dengan etika di masyarakat. Seseorang yang rajin ke gereja dan pelayanan, tidak boleh berlaku curang dan tidak baik di dunia kerja. Jika hal itu terjadi, akan ada jarak antara mezbah dengan meja makan. Jika kita rajin kebaktian dan pelayanan tetapi masih menyimpan kebencian dan tidak mau mengampuni sesama, kita sedang mempersembahkan kurban yang cacat secara rohani.

Ketika mezbah dan meja makan menyatu, ketika kebaktian atau persekutuan di gereja seiring dengan kehidupan sehari-hari, maka nama Tuhan dimuliakan bukan hanya dalam pujian di gereja, tetapi di dalam seluruh keberadaan kita.

Yakobus 1:22, “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja. Sebab, jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”

Views: 0

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top