Matius 1:21-24
Kelahiran Yesus Kristus. (21) Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. (22) Semuanya itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, (23) “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah beserta kita.) (24) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya,
Jika kita melihat profil media sosial atau bertamu dan duduk di ruang tamu, kita pasti akan melihat foto-foto keluarga yang bagus, yang memang sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Foto-foto yang ditampilkan, pastilah foto-foto terbaik. Seandainya ada yang introvert sekalipun, foto tidak tampak muka, pasti yang menjadi foto profil adalah foto terbaik. Jika bukan foto sendiri, maka foto profil juga memperlihatkan ketertarikan kita, perasaan atau isi hati kita. Intinya, foto yang bisa dilihat oleh orang lain adalah foto yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa, sudah dipilih dari beberapa foto yang lain.
Kalau seandainya silsilah keluarga kita bisa diedit, mungkin ada nama-nama yang ingin kita hilangkan dari pohon keluarga atau daftar silsilah keluarga itu. Keluarga yang kecanduan narkoba, judi, miras, pernah masuk penjara, suka melakukan kekerasan, tentu kita memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan dengan mereka.
Cukup menarik ketika Matius memuliai Injil dengan cerita tentang Yesus, tetapi tidak dimulai dengan malaikat yang bernyanyi atau gembala di padang. Matius memulai dengan daftar nama yang membosankan, yaitu silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Jika kita membaca dengan teliti, ternyata daftar nama itu tidak semuanya bersih. Dari daftar nama itu, ada yang memiliki kisah rumah tangga yang tidak ideal.
Ada nama Tamar, jika kisah ini diceritakan, sangat tidak enak didengar. Ada Rahab, seorang perempuan Yerikho yang dikenal sebagai pelacur. Ada Rut, seorang janda dari negeri asing yang datang karena kelaparan dan hidup di tengah trauma kehilangan. Bahkan ada istri Uria, yang sengaja disebut demikian untuk mengingatkan kita pada dosa Daud, yang telah melakukan perzinahan dan pembunuhan berencana.
Dalam inspirasi-Nya kepada Matius, Tuhan tidak menghilangkan atau menyamarkan nama-nama tersebut. Alkitab menulis itu dengan jujur, seolah-olah Tuhan berkata, “Inilah silsilah keluarga Aku dilahirkan sebagai manusia.” Yesus hadir bukan melalui keluarga yang bersih, tetapi hadir melalui keluarga yang memiliki sejarah kelam dan dosa. Di dalam silsilah itu, lahirlah Yesus, yang disebut Imanuel: Allah beserta kita.
Hari ini, natal dirayakan dengan meriah dan gegap gempita. Tetapi, yang tercatat di Matius, kita diperlihatkan dengan sisi lain: Yesus lahir dalam kehinaan dan sejarah keluarga yang tidak baik-baik saja. Tuhan hadir tidak menunggu semuanya beres. Jika silsilah keluarga kita memiliki catatan yang tidak baik, seharusnya generasi kitalah yang memperbaiki, bukan meneruskan hal yang tidak baik. Generasi kitalah yang memutuskan semua perilaku buruk, karena kita sudah ada di dalam Kristus. Jangan justru kita yang menambah keburukan, sehingga tidak menjadi kebanggaan anak cucu kita.
Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga, mengundang kita untuk memutuskan masa lalu yang tidak baik, memperbaiki semuanya dan menatap masa depan yang lebih indah di dalam Kristus.
Renungan ini adalah bagian pertama, kita merenungkan tentang kehadiran Tuhan yang masuk pada silsilah keluarga yang tidak baik-baik saja. Bagian kedua dilanjutkan besuk: Jika Tuhan sudah masuk dalam keluarga kita, apa artinya Ia menyelamatkan keluarga?
Views: 21