Yosua 24:14-15
Pembaruan perjanjian di Sikhem. (14) Jadi, sekarang, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Singkirkanlah ilah-ilah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang Sungai Efrat dan di Mesir dan beribadahlah kepada TUHAN. (15) Namun, jika kamu menganggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah: ilah-ilah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau ilah-ilah orang Amori, yang negerinya kamu diami ini? Tetapi, aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Malam tahun baru seringkali menjadi momen yang berbeda. Di luar, mungkin ada pesta kembang api, suara petasan, hitungan mudur dan orang-orang berteriak, “Selamat tahun baru!” Kita juga mungkin menghitung mundur dalam hal lain: pengalaman sepanjang tahun terakhir, keberhasilan, kegagalan, luka, air mata, dan tawa.
Di awal tahun, kita diingatkan supaya menguatkan dan meneguhkan hati (Yosua 1:16). Firman ini muncul berkali-kali kepada Yosua, karena memang tidak mudah ketika Yosua mengambil alih kepemimpinan Musa yang memiliki pengaruh sangat besar bagi bangsa Israel. Di akhir tahun, kita diteguhkan dengan keputusan Yosua yang kuat untuk tetap menyembah kepada Tuhan, meskipun ada banyak orang Israel yang tidak mau menyembah kepada Tuhan.
Yosua 24 menjadi catatan perpisahan antara Yosua dengan bangsa Israel, karena Yosua sudah berusia tua. Tugas besar memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan sudah hampir selesai. Pada saat itulah, Yosua mengumpulkan seluruh suku Israel di Sikhem. Yosua tidak memberi khotbah yang manis, tetapi memberi tantangan kepada bangsa Israel untuk mengingat dan memilih. Apapun pilihan bangsa Israel, Yosua telah memilih dengan berkata: “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
Perkataan Yosua ini adalah deklarasi iman seorang kepala keluarga di tengah bangsa yang labil dan sering goyah. Mari kita melihat konteks yang terjadi pada waktu itu, sampai Yosua dengan lantang mengucapkan deklarasi iman itu.
Jika kita membaca ayat 2-13, Yosua sedang mengingatkan sejarah bangsa Israel. Yosua mengingatkan tentang Tuhan yang memanggil Abraham, membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, menolong melintasi laut Teberau, memelihara bangsa itu di padang gurun, dan akhirnya memberikan tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian. Yosua selalu menekankan kata “Aku” sebagai bentuk kehadiran dan penyertaan Tuhan terhadap bangsa Israel.
Di malam tahun baru ini, kita juga diingatkan dengan “Aku”, yaitu Tuhan. Sebelum kita masuk ke tahun baru, kita juga diajak untuk mengingat beberapa hal: Berapa kali Tuhan menolong keluarga kita melewati masa sulit? Bagaimana Tuhan memelihara keadaan ekonomi kita yang tidak menentu? Bagaimana Tuhan menolong kita atau keluarga kita pada saat sakit? Bagaimana Tuhan hadir ketika kita menghadapi konflik? Bagaimana Tuhan menolong ketika kita mendapati keluarga kita tidak ideal?
Setelah mengingat semua itu, Yosua tidak berhenti. Di ayat 14-15, ia membawa umat Israel pada pengambilan keputusan rohani yang sangat penting. Karena Tuhan sudah melakukan semua yang disebut oleh Yosua sebelumnya, maka sekarang, apa keputusan rohani kita?
Yosua mengajak umat Israel, dan kita semua, untuk takut kepada Tuhan. Takut akan Tuhan artinya secara sadar memberi hormat kepada Tuhan. Setelah itu, beribadah dengan tulus ikhlas dan setia.
Yosua tahu bahwa di sepanjang perjalanan, Israel memiliki kecenderungan yang berbeda: mereka memelihara dan menyembah ilah-ilah bangsa Kanaan. Mereka memiliki prioritas lain. Mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak menyenangkan hati Tuhan.
Hari ini, ilah-ilah modern memiliki bentuk berbeda dan bermacam-macam: tabungan atau kekayaan yang membuat kita merasa aman dan tenang; prestasi anak yang menjadi sumber kebahagiaan terbesar; ketergantungan pada teknologi dan hiburan online sebagai pelarian. Semua itu membawa kita melupakan Tuhan sebagai prioritas hidup.
Yosua menantang. Ia tidak memaksa, tetapi tegas. Yosua berkata kepada umat Israel: “Kalian tidak bisa terus bermain dengan dua kaki, kalian tidak bisa terus menduakan Tuhan, kalian tidak bisa terus menerus memiliki ilah cadangan. Kalau kalian merasa bahwa ilah lain lebih baik, silahkan saja. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Ini bukan keputusan pribadi. Ini adalah pernyataan seorang kepala keluarga yang membawa keluarganya ke arah yang jelas. Ia tidak bisa menjamin setiap anggota keluarga akan sempurna, tetapi ia mengarahkan keluarganya untuk mengutamakan Tuhan.
“Aku dan seisi rumahku” menggambarkan tentang tanggung jawab rohani. Seorang kepala keluarga tidak hanya peduli soal makanan, sekolah, kerja, tetapi juga arah rohani. “Kami akan beribadah kepada TUHAN” tidak menjelaskan tentang kebaktian. Ibadah adalah pola hidup yang fokus pada Tuhan. Pola hidup di dalam Kristus itu akan tampak pada cara kita mengambil keputusan, cara mendidik anak, cara memperlakukan pasangan, cara menggunakan uang, dll.
Respon dari umat Israel sangat baik. Mereka ikut keputusan Yosua dan mau beribadah kepada TUHAN. Ketika Yosua mengingatkan bahwa Tuhan itu cemburu, respon umat Israel tetap sama. Karena respon itu, maka Yosua mengadakan perjanjian, menulis semua itu dalam kitab dan menegakkan batu besar sebagai saksi.
Sepanjang bulan Desember kita terus mengingat bahwa Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga. Saat ini, di saat-saat terakhir tahun 2025 kita diajak untuk menyatakan perjanjian: “Tuhan, di tengah dunia yang penuh ilah-ilah lain, kami tetap memilih Engkau. Aku dan seisi rumahku, kami akan tetap beribadah kepada Tuhan.”
Views: 3