Tekun Dalam Penderitaan (Jelajah PB 967)

Yakobus 5:7-11

Kita perlu menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dengan sabar. Jika Tuhan Yesus belum datang juga, kita harus sabar sampai nafas kita yang terakhir. Penantian yang kita lakukan harus dengan keyakinan bahwa akan tiba saatnya kita akan bertemu dengan Tuhan Yesus. Petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kita pun seharusnya demikian. Secara rohani, kita pun bisa menabur benih dengan cara giat melayani Tuhan. Akan datang saatnya, kita pun akan menuai semua yang telah kita tabur di dunia ini. Ketika kita bersama dengan Tuhan, kita akan menikmati hasilnya. Tidak ada yang lebih indah di dunia ini, selain melayani Tuhan.

Kita perlu bersabar sambil meneguhkan hati. Yakobus mengatakan bahwa kedatangan Tuhan sudah dekat, tetapi sampai hari ini Tuhan Yesus belum datang juga. Sebenarnya tidak menjadi persoalan mengenai waktu kedatangan Tuhan ini. Jika Tuhan menunda kedatangan-Nya pun sebenarnya tidak menjadi masalah bagi kita. Pada akhirnya kita juga yang akan dibatasi hidup di dunia ini dan akhirnya kita dulu yang pergi kepada Dia. Dalam penantian itu, kita tidak boleh bersungut-sungut dan saling mempersalahkan. Bersungut-sungut itu tidak baik, karena secara langsung maupun tidak langsung, sedang menyatakan ketidakpuasan kepada Tuhan. Dalam keadaan apapun juga, lebih baik kita menaikkan syukur kepada Tuhan.

Kesusahan di muka bumi ini, paling parah hanya menyebabkan kita mati. Jika kita sudah percaya kepada Yesus Kristus, kematian bukan hal yang menakutkan, tetapi cara kita untuk segera bersama-sama dengan Yesus Kristus di Surga. Berbeda jika kita belum percaya kepada Yesus Kristus, maka kematian itu adalah peristiwa yang sangat mengerikan. Karena itulah, sebaiknya kita terus bertekun dan menguatkan hati kita, supaya tetap di dalam Tuhan.

Yakobus memberi nasihat kepada penerima surat dan kepada kita semua supaya kita menuruti teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Para nabi telah bersabar dalam menghadapi penderitaan. Tuhan tidak melupakan para nabi itu. Mereka mendapatkan upah sesuai dengan apa yang telah dilakukan oleh mereka di dunia ini. Para nabi yang telah menderita itu disebut berbahagia. Mereka telah bertekun sampai akhir hidup mereka. Sebagian besar dari mereka telah menggunakan waktu untuk melayani Tuhan sepenuh hati dan sepenuh waktu.

Yakobus juga menyinggung tentang Ayub. Ayub telah bertekun di dalam Tuhan. Jika kita membaca kisahnya, mungkin kita tidak bisa berpikir atau memutuskan segala sesuatu seperti yang telah dilakukan oleh Ayub. Ayub yang sangat kaya raya, dalam waktu yang sangat singkat menjadi orang yang paling miskin dan menderita. Penderitaan yang diderita bukan hanya fisik, tetapi juga batinnya. Di dalam penderitaan dan kesusahannya itu, ia tidak mengeluarkan sepatah kata apapun yang menyalahkan Tuhan. Kita bisa mengikuti teladannya. Jangan sampai kita baru saja mendapatkan sedikit penderitaan, sudah banyak bersungut-sungut kepada Tuhan. Pada akhirnya Tuhan menyediakan segala sesuatu bagi Ayub, baik di bumi maupun di Surga.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *