Cepat Mendengar, Lambat Berbicara (Jelajah PB 955)

Yakobus 1:19-27

Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar dan lambat dalam berkata-kata, serta lambat untuk marah. Seringkali terjadi masalah jika terbalik, yaitu mendengarnya lambat tetapi marahnya cepat. Ketika mendengarnya lambat, maka ia mendengar dengan tidak sempurna atau mendengar hanya sebagian. Karena itu, jika kita mendengarkan sesuatu, maka seharusnya kita memiliki waktu untuk mempertimbangkan kebenaran kabar tersebut. Lebih baik tidak marah terlebih dahulu, tetapi mencari informasi lebih banyak lagi. Lebih baik mendengar dari dua belah pihak, saling konfirmasi satu dengan yang lain. Kecenderungan manusia, pada saat ia bercerita, ia akan membenarkan diri sendiri. Jika kita sudah mendengar informasi dari kedua belah pihak, kemungkinan besar kita akan mendapat gambaran yang lebih jelas.

Mendengar lebih cepat itu lebih baik, terutama pada saat mendengarkan firman Tuhan. Kita perlu mendengar dengan baik, peka dan tanggap. Jangan sampai ada yang mendengar firman Tuhan tetapi sambil melakukan aktivitas lain, seperti main handphone atau yang lainnya. Di zaman sekarang ini, pencobaan saat mendengarkan firman sangat hebat. Percuma orang datang ke gereja, tetapi tidak sungguh-sungguh belajar firman Tuhan, karena melakukan aktivitas lain saat sedang mendengarkan firman Tuhan. Saat ini banyak sekali hal yang bisa mengalihkan perhatian dari firman Tuhan.

Kita tidak boleh cepat marah, karena amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Tuhan. Amarah, jika tidak terkontrol, akan sangat berbahaya, karena bisa membuat seseorang jatuh ke dalam dosa. Kita perlu membuang segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak. Kita seharusnya menerima firman dengan lemah lembut, supaya tertanam di dalam hati kita serta berkuasa menyelamatkan jiwa kita. Firman Tuhan bisa menegor kita, sehingga kita bisa melihat kembali diri kita serta memperbaiki segala sesuatu yang salah dalam hidup kita.

Kita sebagai orang percaya diharuskan menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar saja. Jika kita hanya mendengar tetapi tidak melakukannya, berarti kita tidak mengaminkan dalam hati serta mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita sedang menipu diri sendiri, menghabiskan waktu hanya untuk mendengar saja, tetapi tidak mempercayainya serta melakukannya. Jika seseorang hanya mendengar firman saja tetapi tidak melakukannya, ia seperti seseorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi dan ia segera lupa terhadap rupanya sendiri.

Berbeda dengan orang-orang yang memperhatikan firman Tuhan dengan kesungguhan hati, memperhatikan hukum yang memerdekakan orang (yaitu kebenaran Injil), ia bertekun di dalamnya dan bukan hanya sekedar sebagai pendengar saja, ia sungguh-sungguh melakukannya, maka ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Di dalam Yohanes 8:31-32 dikatakan, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahi kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.

Jika ada orang yang rajin melaksanakan acara-acara kekristenan, seperti persekutuan atau kebaktian, tetapi tidak bisa mengekang lidahnya, maka sia-sialah semua yang telah dilakukannya. Ibadah yang sesungguhnya di hadapan Tuhan bukan hanya dalam hati, tetapi juga terlihat penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga perlu menjaga diri supaya tidak dicemarkan oleh dunia ini.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *