Kebaktian di Hari Minggu (Jelajah PB 653)

1 Korintus 16:1-6

Pada saat itu terjadi masa yang sulit. Jemaat di Yerusalem mengalami kesulitan karena penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Hal ini menyebabkan jemaat di Yerusalem mengalami kelaparan. Paulus terbeban mengumpulkan dana untuk membantu meringankan penderitaan jemaat di Yerusalem. Ketika orang-orang non-Yahudi mendapatkan harta rohaninya orang Yahudi, maka sepatutnya mereka membantu dalam hal harta materi. Hal ini diajarkan oleh Paulus kepada semua jemaat. Jika mereka telah menerima pemberitaan firman, sepatutnya mereka membalas dengan harta materi.

Petunjuk pengumpulan dana ini juga disampaikan kepada beberapa jemaat lain dan ternyata telah dilakukan juga di Galatia. Cara pengumpulan dana, pada hari pertama tiap-tiap minggu, masing-masing jemaat menyisihkan harta mereka sesuai dengan apa yang ada pada mereka, untuk dikumpulkan. Hari pertama tiap-tiap minggu itu adalah hari Minggu. Pada saat itu, orang-orang Kristen memang memiliki kebiasaan berkumpul atau melaksanakan kebaktian setiap hari pertama minggu, yaitu hari Minggu. Di dalam Kisah Para Rasul 20:7 juga ada petunjuk bahwa memang mereka memilik kebiasaan untuk berkumpul dan bersekutu di hari pertama tiap minggu. Mulai dari sinilah orang Kristen mengadakan kebaktian pada hari Minggu, bukan pada hari Sabtu atau hari Sabat. Tetapi, ketika kita sudah memasuki zaman ibadah hakikat, sebenarnya kita mau kebaktian kapan saja itu juga tidak menjadi masalah. Ibadah kita sebenarnya sudah tidak terikat lagi pada waktu, tempat dan cara.

Karena orang Kristen semakin banyak, maka hari Minggu ditetapkan sebagai hari libur. Pada waktu itulah jemaat mengumpulkan uang untuk disimpan. Ketika Paulus datang, maka uang itu diserahkan kepadanya untuk disampaikan kepada jemaat yang berada di Yerusalem. Selain itu, persembahan itu juga bisa diantarkan oleh orang-orang yang dianggap layak (jujur) oleh jemaat tersebut. Ketika Paulus mengantar uang itu ke Yerusalem, maka ketika di Yerusalem Paulus ditangkap. Setelah itu Paulus dikirim sampai ke kota Roma. Kita telah membaca kisah itu di dalam kitab Kisah Para Rasul.

Paulus berencana untuk pergi ke Korintus setelah melintasi Makedonia. Ketika sampai di Korintus nanti, Paulus berencana untuk tinggal beberapa waktu atau bahkan tinggal selama musim dingin. Karena ada banyak masalah di Korintus, maka Paulus ingin tinggal lebih lama di situ, untuk mengajar kepada mereka supaya mereka betul-betul menjadi jemaat yang dewasa. Supaya mereka melakukan semua petunjuk dan firman Tuhan dengan benar. Kehidupan berjemaat seharusnya diatur sedemikian rupa, tepat seperti yang difirmankan. Jangan sampai kehidupan jemaat menjadi kesaksian buruk bagi orang lain.

Kita bisa melihat bahwa pengaturan jemaat itu penting. Paulus dengan sangat serius memperhatikan hal ini, supaya semua jemaat dalam kondisi yang baik dan sesuai dengan petunjuk atau aturan yang diwahyukan oleh Tuhan. Bukan hanya pada zaman jemaat Korintus, tetapi hari-hari ini kita juga sering mendapati ada jemaat-jemaat yang tidak teratur dan kacau. Jika di dalam ternyata jemaatnya lebih banyak yang tidak lahir baru, maka jemaat itu akan benar-benar menjadi kacau. Jika di salah satu jemaat anggotanya banyak pedagang, maka jemaat itu jika tidak diatur sedemikian rupa akan berubah menjadi organisasi pencari laba. Jika jemaatnya banyak yang menjadi pengawai pemerintahan, maka sistem bergerejanya juga akan mirip seperti pemerintahan yang sangat birokratis.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *