Saulus Diterima Oleh Para Rasul (Jelajah PB 430)

Kisah Para Rasul 9:26-31

Saulus berangkat menuju Yerusalem. Ketika sudah tiba di Yerusalem, Saulus mencoba untuk menggabungkan diri dengan para murid Yesus. Tetapi mereka takut kepada Saulus. Mereka tidak percaya bahwa Saulus saat ini telah menjadi murid Yesus. Mereka tahu bahwa Stefanus telah mati dibunuh dengan persetujuan Saulus. Murid-murid di Yerusalem tidak tahu apa yang telah terjadi pada Saulus. Kita tidak bisa membayangkan hal itu pada saat ini. Kalau sekarang sangat berbeda, informasi bisa kita dapatkan dengan sangat cepat. Pada zaman Saulus, informasi tidak bisa didapatkan dengan cepat, seperti sekarang ini. Mungkin pada saat itu ada yang mengganggap bahwa Saulus sedang menyamar, supaya lebih mudah untuk membunuh mereka semua.

Tetapi Barnabas menerima Saulus. Sepertinya Barnabas telah mendapatkan informasi mengenai apa yang sudah terjadi terhadap Saulus. Kemudian Barnabas membawa Saulus kepada para rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan. Tuhan telah berbicara kepada Saulus. Barnabas juga menceriterakan keberanian Saulus ketika mengajar di Damsyik dalan nama Tuhan Yesus.

Akhirnya Saulus tetap bersama-sama dengan para rasul serta para murid lain di Yerusalem. Di Yerusalem, Saulus juga berani mengajar dalam nama Tuhan. Saulus juga bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani. Dulu, sebelum Saulus bertobat, dia menggunakan kekerasan. Tetapi setelah bertobat, Saulus mempertahankan keyakinannya dengan menggunakan argumentasi, yaitu dengan bersoal jawab. Dulu dia memakai cara yang jahat, sekarang dia memakai cara yang baik. Hanya dengan cara seperti itulah, seseorang bisa mendapatkan kebenaran. Bukan dengan cara kekerasan. Ini yang bisa kita lakukan saat ini. Untuk mempertahankan keyakinan dan iman kita, maka kita harus menggunakan akal sehat, bukan menggunakan otot atau kekerasan. Ketika kita memberitakan Injil, bukan dengan cara memaksa, tetapi dengan cara menawarkan. Jika menggunakan kekerasan, itu akan membuktikan bahwa mereka adalah pengikut Iblis atau dikendalikan oleh Iblis.

Ketika bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi, kembali lagi mereka segera memikirkan kekerasan. Orang Yahudi berusaha untuk membunuh Saulus. Jika sudah kalah dalam bersoal jawab, para pengikut Iblis akan segera mencari jalan untuk melakukan kejahatan. Mereka tidak segan-segan untuk membunuh orang. Mereka akan susah untuk bersoal jawab dengan Saulus, karena Saulus sendiri adalah orang cerdas yang menguasai hukum Taurat dan kitab Perjanjian Lama. Selain itu, Saulus juga fasih dalam berbahasa Ibrani maupun Yunani.

Rencana pembunuhan Saulus itu diketahui oleh saudara-saudara anggota jemaat. Maka mereka membawa Saulus ke Kaisarea (ibu kota Yudea) dan dari situ membantu Saulus untuk pergi ke Tarsus (tanah kelahiran Saulus). Selama beberapa waktu, jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat di sana dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlah jemaat semakin bertambah besar, oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus. Mereka dalam kondisi damai karena pemimpin penganiayaan, yaitu Saulus, sudah bertobat. Sekarang Saulus sudah menjadi orang Kristen. Tidak ada lagi orang yang semangat untuk memimpin penganiayaan.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *