Paulus di Hadapan Mahkamah Agama (Jelajah PB 496)

Kisah Para Rasul 22:30-23:3

Setelah berada di markas, kepala pasukan ingin mengetahui dengan teliti tentang hal-hal yang dituduhkan orang-orang Yahudi kepada Paulus. Dia mencoba untuk mencari alasan untuk memberikan hukuman kepada Paulus. Apalagi kepala pasukan sudah mendengar bahwa Paulus adalah salah satu warganegara Roma. Karena itu, pada keesokan harinya, kepala penjara menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan memerintahkan supaya para imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama berkumpul. Setelah itu Paulus dibawa dari markas untuk dihadapkan kepada para imam kepala dan Mahkamah Agama Yahudi.

Sebenarnya kepala pasukan tahu bahwa masalah yang dihadapi oleh Paulus adalah masalah agama. Sebenarnya pemerintah romawi tidak berhak untuk mencampuri urusan agama. Tetapi, atas izin dan kehendak Tuhan, saat itu Paulus berada sebagai tahanan pasukan. Untuk sementara Paulus aman di tangan mereka, tidak mendapat siksaan dari orang-orang Yahudi.

Saat dihadapkan di depan Mahkamah Agama, Paulus menatap mereka dan mulai berbicara. Paulus menyatakan bahwa dirinya masih tetap memiliki hati nurani yang murni di hadapan Tuhan. Perkataan ini mengandung makna yang sangat dalam. Paulus adalah orang Yahudi dan percaya hukum Taurat serta melakukannya. Dia juga percaya kepada Sang Pencipta. Paulus tidak sedang menentang Tuhan. Perkataan ini juga bisa berarti sindiran kepada orang-orang yang ada di situ, untuk melihat ke dalam diri masing-masing tentang kemurnian hati mereka di hadapan Tuhan. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa para imam kepala itu memiliki hati yang murni di hadapan Tuhan. Hati mereka sudah bercampur dengan kepentingan diri sendiri.

Rasul Paulus berani menyatakan hal ini di depan mereka. Paulus juga telah membuktikan semuanya itu dalam kehidupannya. Sebelum Paulus percaya kepada Yesus, dia juga melakukan hukum Yahudi dengan hati nurani yang murni. Dia sungguh-sungguh membela tradisi Yahudi dan menganggap bahwa kekristenan adalah kesesatan. Untuk membela tradisi Yahudi, dia tidak segan-segan untuk membunuh orang yang dianggap sesat. Tetapi, setelah Paulus percaya kepada Yesus, dia pun melayani Tuhan Yesus dengan hati yang murni. Jalan yang ditempuh jelas berbeda. Kalau dulu Paulus menggunakan jalan kekerasan, maka sekarang dia menggunakan cara argumentasi. Dia menyatakan apa yang seharusnya ia nyatakan kepada orang lain. Paulus saat ini sudah menjadi rasul Yesus Kristus dengan hati yang murni.

Mendengar penyataan Paulus tersebut, Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri di dekat Paulus untuk menampar mulut Paulus. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Paulus kembali berkata kepada mereka bahwa Tuhan akan menampar mereka. Bahkan Paulus memanggil mereka sebagai tembok yang dikapur putih-putih.

Seandainya pada saat itu Paulus belum bertobat dan percaya kepada Yesus, sikapnya pasti sangat berbeda. Paulus pasti akan melawan mereka dengan kekuatan fisik. Tetapi saat itu dia telah menjadi manusia baru. Ia telah menjadi ciptaan baru, yang lama sudah berlalu dan sesungguhnya yang baru sudah datang. Panggilan “tembok yang dikapur putih-putih” pasti jauh menyakitkan para imam dari pada sekedar tamparan fisik.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *