Penyakit Bukan Kutukan (Jelajah PB 341)

Yohanes 9:4-12

Pada zaman ini, penyakit atau kemiskinan itu bukan kutukan. Kekayaan belum tentu sebagai berkat Tuhan. Karena itu, sebagai orang beriman, jangan sampai kita beriman kepada Yesus gara-gara menginginkan berkat-Nya, apalagi berkat jasmani yang sifatnya tidak kekal. Jika kita diberi kesempatan untuk menderita karena sakit penyakit atau kemiskinan, berdoalah dan bersyukurlah kepada Tuhan. Jangan sampai kita merasa bahwa Tuhan tidak adil terhadap kita karena masalah tersebut. Kita bisa tetap memuliakan Tuhan, apapun keadaan kita. Kita bisa lebih berguna dan lebih bermanfaat dengan kondisi kita yang apa adanya. Jika Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi orang yang sehat dan orang yang kaya, kita pun tidak boleh sombong. Yang harus kita lakukan adalah tetap memuliakan Tuhan dalam kondisi dan situasi apapun.

Tuhan Yesus adalah terang dunia. Tetapi terang dunia itu telah kembali ke sorga. Saat ini, kitalah yang memiliki tugas untuk menjadi terang dunia (Matius 5:14), karena kita ada di dalam Kristus dan Kristus ada di dalam kita. Kita harus mengerjakan semua itu, yaitu pekerjaan Yesus, selama masih siang.

Setelah Yesus mengatakan semua itu, Ia meludah ke tanah dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah serta mengoleskannya pada mata orang buta tadi. Sepertinya Tuhan Yesus sedang memperlihatkan kepada orang banyak bahwa Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Sama seperti penciptaan manusia dari debu tanah, maka Yesus pun menggunakan debu tanah untuk membuat mata orang tersebut bisa melihat kembali. Setelah itu, Yesus memerintahkan orang buta tersebut untuk membasuh diri di kolam Siloam. Siloam artinya “Yang diutus”. Yesuslah yang sebenarnya diutus oleh Bapa. Setelah orang buta itu sembuh, dia juga akan diutus untuk menjadi saksi bagi Yesus.

Akhirnya orang buta itu sembuh. Tentu akhirnya dia bisa menikmati keindahan dunia ini. Para tetangga orang itu terheran-heran melihat orang yang dulunya buta, sekarang bisa melihat. Pasti wajah dari orang tersebut berubah berseri-seri, karena dia sudah bisa melihat. Tetangganya penasaran, sehingga mereka bertanya bagaimana orang tersebut bisa sembuh dari penyakit butanya.

Orang yang sudah sembuh dari buta tersebut memberitahu bagaimana dia disembuhkan. Dia menceritakannya secara detail kepada para tetangganya. Hari-hari ini juga banyak orang yang bersaksi tentang keberhasilan, kesembuhan, berkat jasmani, dll. Yang perlu kita ingat, kesaksian seseorang bersifat subyektif. Kebenaran dari kesaksian itu sebenarnya bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri mereka sendiri. Sebagai orang percaya, jangan sampai pertumbuhan iman kita tergantung dari kesaksian orang lain. Apa yang terjadi pada orang lain belum tentu bisa terjadi pada kita, itulah yang disebut dengan subyektif. Iman kita harus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus melalui pendalaman firman Tuhan di dalam Alkitab.

Karena itu, berhati-hatilah dalam menanggapi berbagai macam kesaksian yang pada saat ini bermunculan di gereja-gereja maupun di media sosial. Mungkin pada awalnya, kesaksian seseorang itu diceritakan secara murni. Tetapi jika orang tersebut di bawa kesaksian ke mana-mana, maka lama-lama dia akan berkhotbah. Sungguh bahaya jika seseorang hanya memberitakan kesaksian tanpa pengenalan yang benar akan firman Tuhan.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *