Jelajah PB 352 (Yohanes 11:17-35)

Ketika Yesus sudah sampai di Betania, Yesus mendapati Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. Betania terletak di dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. Ternyata sudah banyak orang Yahudi di sana yang menghibur Maria dan Marta berhubungan dengan kematian Lazarus. Di dalam tradisi Yahudi, acara penghiburan bisa berlangsung cukup lama. Orang-orang datang silih berganti sampai keadaan duka mereka berlalu. Setelah empat hari meninggalnya Lazarus, ternyata masih banyak orang yang ada di rumah Maria dan Marta.

Ketika Marta mendengar bahwa Yesus datang, ia segera pergi menemui Yesus. Marta sendiri percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Karena itu Marta berkata, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Hanya saja kepercayaan Marta juga bertahap, seperti kepercayaan para murid lain terhadap Yesus. Marta percaya bahwa Yesus adalah Mesias dan Juruselamat, tetapi belum percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Hal itu tergambar dari perkataan Marta, “Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” Marta berpikir bahwa jika Yesus berdoa kepada Bapa, maka Bapa akan mengabulkan doa Yesus. Marta belum sungguh-sungguh mengerti bahwa Yesus adalah Tuhan yang menjadi manusia.

Yesus meyakinkan Marta bahwa Lazarus akan bangkit. Bukan hanya itu saja, Yesus juga meyakinkan Marta bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada Yesus, ia akan hidup walaupun sudah mati. Setiap orang yang hidup dan percaya kepada Yesus tidak akan mati untuk selama-lamanya. Tuhan Yesus sedang membangun tahapan iman dari Marta dan juga para murid. Hal ini dimaksudkan supaya semua orang yang ada di situ bisa menerima dan percaya bahwa Yesus adalah Mesias dan juga Tuhan yang memegang kehidupan.

Setelah Tuhan Yesus mengatakan semuanya itu, barulah Marta berkata, “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” Marta akhirnya membuat pernyataan iman kembali, bahwa Yesus adalah Anak Allah (yaitu Allah sendiri). Ketika Yesus mengatakan diri sebagai Anak Allah, orang Yahudi tahu bahwa Yesus sedang menyamakan diri-Nya dengan Allah. Yesus sebenarnya bukan sedang menyamakan diri-Nya dengan Allah, tetapi Yesus sedang menyatakan bahwa diri-Nya memang Allah.

Sesudah itu, Marta memanggil Maria dan mengatakan bahwa Yesus sedang ada di sana. Mendengar itu, Maria segera pergi menjumpai Yesus. Pada waktu itu Yesus belum sampai di dalam kampung itu. Kondisi iman Maria pun masih sama dengan kondisi Marta. Mereka masih dalam tahap pertumbuhan iman. Ketika tahu bahwa Maria menangis, maka hati Yesus juga diliputi dengan duka. Yesus bisa merasakan duka yang dirasakan oleh orang-orang yang dikasihi-Nya.

Ketika Yesus menjadi manusia, Dia memahami perasaan manusia. Dia tahu rasa duka dan suka. Dia tahu penyakit atau penderitaan yang menimpa manusia. Jika saat ini Yesus tidak membangkitkan keluarga kita yang sudah meninggal, seperti Ia membangkitkan Lazarus, bukan berarti bahwa Yesus tidak mengasihi kita. Tujuan Yesus membangkitkan Lazarus adalah untuk menunjukkan bahwa yang dikatakan-Nya benar, bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup, bahwa Dia adalah Tuhan pencipta. Dia berjanji bahwa orang-orang yang percaya kepada-Nya dan sudah meninggal, mereka akan dibangkitkan dan hidup bersama dengan Dia untuk selama-lamanya.

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *