Ulangan 29:5-8
Musa kembali mengingatkan semua mujizat yang sudah dilihat oleh orang Israel dengan mata sendiri. Mulai dari Mesir, bangsa Israel sudah melihat berbagai macam hal ajaib yang dilakukan oleh Tuhan. Bahkan ketika bangsa Israel berada di padang gurun, mereka juga melihat mujizat-mujizat yang dahsyat. Selain itu ada hal-hal kecil yang bisa dirasakan oleh bangsa Israel. Mereka benar-benar disertai oleh Tuhan, bahkan dari hal-hal kecil.
Selama empat puluh tahun perjalanan di padang gurun, Tuhan benar-benar memimpin dan menyertai mereka. Pakaian mereka tidak rusak dan kasut mereka juga tetap awet. Hal-hal seperti ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya ini juga mujizat yang besar. Kasut atau sepatu itu digunakan untuk perjalanan selama di padang gurun, tetapi tidak rusak. Padang gurun bukan tempat perjalanan yang nyaman. Tetapi Tuhan memelihara bangsa Israel.
Tuhan memperhatikan hal-hal seperti ini karena Tuhan tahu bahwa dalam perjalanan itu, mereka tidak akan bisa berganti sepatu. Tidak ada penjual sepatu di padang gurun. Mereka juga tidak bisa mengganti baju. Karena itu, Tuhan juga memelihara pakaian mereka. Dalam perjalanan itu, bangsa Israel tidak makan roti dan minum anggur, kerena memang tidak bisa mendapatkannya. Mereka makan makanan yang ajaib, yaitu manna.
Tidak bisa membayangkan untuk menyediakan makanan dan minuman bagi kira-kira dua juta orang di padang gurun. Sebuah bangsa yang baru saja keluar dari perbudakan, tidak memiliki harta benda. Memang pada saat sebelum mereka keluar dari tanah Mesir, orang-orang Mesir memberikan perhiasan kepada mereka. Tetapi harta itu pun tidak bisa digunakan untuk pembelian di padang gurun, karena memang tidak ada penjual di padang gurun.
Bangsa budak ini bisa berperang dan bahkan memukul kalah bangsa-bangsa lain. Mereka tidak pernah berlatih perang dan strateginya. Mereka bisa menang karena Tuhan. Meskipun mereka merasakan dan melihat semua mujizat yang dahsyat itu secara langsung, tetapi mereka tidak bisa dipastikan beriman kepada Tuhan. Sebagian besar dari bangsa Israel binasa karena tidak beriman. Ternyata mujizat tidak menjamin munculnya iman.
Di dalam Roma 10:17 dikatakan, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Pendengaran yang dimaksud bukan hanya sekedar mendengar sambil lalu, tetapi mendengar yang menerima. Tidak dikatakan bahwa iman itu timbul dari mujizat. Pada saat ini, banyak orang yang salah paham. Banyak orang mulai memunculkan mujizat-mujizat palsu, yang digunakan untuk membuat orang beriman kepada Tuhan.
Mujizat yang asli dan dahsyat saja tidak bisa membuat orang Israel beriman, apalagi mujizat-mujizat palsu yang banyak terjadi saat ini. Mujizat bukan strategi penginjilan para rasul. Para rasul di Perjanjian Baru mengadakan mujizat sebagai tanda kerasulan mereka, bukan supaya orang beriman. Para rasul perlu otoritas, karena mereka yang menyampaikan firman langsung dari Kristus. Mujizat palsu yang dilakukan saat ini tidak memuliakan Tuhan, tetapi memuliakan orang yang melakukan mujizat palsu itu.
Views: 0