Ulangan 27:11-26
Ketika mereka memasuki tanah Kanaan, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh bangsa Israel. Ada enam suku berdiri di gunung Gerizim untuk memberkati bangsa itu, yaitu: suku Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, Yusuf, dan Benyamin. Sedangkan enam suku lain berdiri di gunung Ebal untuk mengutuki, yaitu: suku Ruben, Gad, Asyer, Zebulon, Dan, serta Naftali. Secara geografis, kedua gunung ini berada di tengah-tengah tanah Kanaan.
Di Perjanjian Baru, Tuhan Yesus pernah mengatakan tentang gunung Gerizim ini. Pada waktu itu Tuhan Yesus berjalan melintasi wilayah Samaria. Pada waktu itu Tuhan Yesus bertemu dengan seorang perempuan Samaria, dekat dengan gunung Gerizim. Wilayah itu di zaman Yesus telah menjadi wilayah orang Samaria. Bahkan orang Samaria biasa menyembah Tuhan di atas gunung Gerizim, untuk menggantikan Yerusalem.
Kondisi kedua gunung ini cukup dekat dan istimewa. Ketika orang berteriak dari atas kedua gunung itu, maka suara teriakan itu akan bergema. Tempat ini sangat cocok untuk menyerukan perkataan tertentu. Apalagi jika disuarakan oleh beberapa suku sekaligus, akan memperdengarkan suara yang menggetarkan. Gunung Gerizim lebih teduh sehingga cocok untuk mengucapkan berkat. Sedangkan gunung Ebal lebih tandus sehingga cocok untuk mengucapkan kutuk.
Yang ditulis dipasal ini adalah kutuk. Berkat tidak ditulis, karena siapapun yang tidak melakukan apa yang dikutuk, mereka diberkati. Kutuk yang diberikan biasanya terjadi karena memang orang tersebut melanggar hukum Taurat. Misalnya, kutuk karena mereka melakukan penyembahan berhala, mereka telah melanggar hukum pertama dan kedua. Orang yang memandang rendah ibu dan bapanya sudah melanggar hukum kelima.
Orang yang menggeser batas tanah juga akan mendapatkan kutuk, karena telah berlaku curang dan mencuri. Orang yang membawa seorang buta ke jalan sesat akan mendapat kutuk. Mereka adalah orang yang kejam, karena menyesatkan orang yang tidak bisa melihat apa-apa. Jika kita kaitkan dengan pengajaran rohani, lebih parah orang yang menyesatkan sesamanya yang tidak mengerti kebenaran.
Orang yang menindas sesamanya akan terkutuk. Ada juga kutuk mengenai penyimpangan seksual, seperti: melakukan hubungan dengan keluarga kandung, keluarga dekat, dan dengan binatang. Penyimpangan ini ternyata dijelaskan lebih detail daripada yang lain, sampai empat ayat. Hal ini dijelaskan sedemikian rupa untuk menekankan bahwa orang percaya harus hidup murni dan setia. Salah satu komunitas atau kebudayaan yang hancur adalah ketika masyarakatnya melakukan penyimpangan seperti ini.
Atas semua pernyataan kutuk itu, maka seluruh bangsa harus berkata Amin. Amin artinya setuju dan mengukuhkan pernyataan itu. Ketika bangsa itu mengucapkan kata Amin, maka mereka juga sedang percaya dengan pernyataan itu. Di bagian akhir dinyatakan, “Terkutuklah orang yang tidak menepati hukum Taurat ini dengan perbuatan.” Pada kenyataanya, tidak ada orang yang mampu menepati hukum ini dengan sempurna. Artinya, kita semua adalah orang yang terkutuk.
Views: 0