Ulangan 32:1
Musa menulis nyanyian. Nyanyian ini ditujukan untuk orang Israel. Nyanyian ini ditulis supaya menjadi saksi. Ada pengajaran di dalam nyanyian ini yang yang harus dipahami oleh orang Israel. Menarik bahwa pengajaran ini disampaikan dalam bentuk nyanyian. Nyanyian biasanya dibawakan dengan musik. Nyanyian dan lantunan musik ini menjadi satu media komunikasi yang sangat kuat. Di dalam nyanyian ada kata-kata yang dilantunkan.
Di dalam Injil juga dikisahkan bahwa Yesus Kristus pernah menyanyi. Sebelum Tuhan Yesus diserahkan untuk disalib, Yesus bernyanyi. Ada juga perintah yang dicatat di dalam Efesus 5:18-19, “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.”
Hal ini memberitahukan kepada kita bahwa nyanyian dan musik rohani seharusnya menjadi bagian dalam hidup kita. Pujian rohani yang dilantunkan secara berjemaat akan sangat indah, dengan kesatuan hati dan harmoni yang seimbang. Musik itu tidak netral, karena di dalamnya ada unsur melodi, harmoni, dan ritme. Ketika puji-pujian rohani dilantunkan, maka musik juga seharusnya mendukung pesan-pesan rohani itu.
Di dalam nyanyian dan musik, ada unsur-unsur meninggikan serta memuliakan Tuhan. Karena Tuhan agung, maka pujian yang kita sampaikan juga memiliki sifat agung. Karena Tuhan teratur, maka pujian dan musik seharusnya memiliki keteraturan irama. Musik itu berasal dari Tuhan. Tetapi Iblis bisa merusak dan menyalahgunakan musik itu untuk kepentingannya. Jika ada nyanyian rohani, maka akan ada nyanyian duniawi.
Kekristenan perlu berhati-hati dengan nyanyian dan musik. Seringkali kita bisa menemui gereja-gereja yang mulai mengadopsi musik duniawi, untuk dijadikan sebagai musik rohani. Sebenarnya kita bisa membedakan antara musik pengagungan dengan musik perasaan senang. Dalam lagu-lagu tertentu, liriknya memang terkesan rohani atau berasal dari Kitab Suci, tetapi musiknya memberikan pesan yang berbeda.
Kita tidak bisa hanya fokus pada kata-katanya, karena saat kata-kata itu disandingkan dengan musik, maka kata-kata dan musik itu sudah menyatu, menjadi nyanyian. Musik sama halnya dengan pakaian, yang memberi kesan terhadap sebuah situasi. Karena itu, biasanya orang akan menyesuaikan diri dengan pakaian-pakaian tertentu dalam acara-acara tertentu. Ada pesan-pesan tertentu yang mau disampaikan, ketika musik dimainkan atau pakaian dikenakan. Musik seringkali lebih kuat daripada pesan atau kata-kata yang mau disampaikan.
Untuk nyanyian Musa, kita sudah tidak tahu lantunan melodinya. Yang disampaikan hanya kata-katanya. Dari kata-kata inilah kita akan memahami pengajaran yang disampaikan oleh Musa, bagi orang Israel, tentu juga bagi kita semua.
Views: 0