Ulangan 26:1-5
Pada waktu kitab Ulangan ditulis, bangsa Israel belum masuk tanah Kanaan. Tetapi Musa dengan iman berkali-kali mengatakan bahwa bangsa Israel akan masuk ke tanah Kanaan. Tanah itu akan menjadi milik pusaka mereka dan bangsa Israel akan mendudukinya serta diam di sana. Musa sendiri tidak akan masuk ke tanah Kanaan. Di akhir kitab Ulangan ini, akan tercatat peristiwa kematian Musa. Tetapi Musa berkeyakinan bahwa semua yang telah dijanjikan oleh Tuhan, pasti akan digenapi.
Tuhan sudah melihat ke depan dan memberikan nasihat serta peringatan kepada bangsa Israel. Apa yang dijanjikan oleh Tuhan, meskipun belum terjadi, tetapi sudah dianggap terjadi dan diterima oleh Musa. Hal ini menjadi contoh bagi kita untuk tidak meragukan janji Tuhan. Musa memerintahkan kepada bangsa Israel untuk membawa hasil pertama dari bumi. Di dalam Amsal 3:9 juga dikatakan, “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu,”
Ketika persembahan hasil pertama itu diberikan kepada Tuhan, maka Tuhan berjanji di dalam Amsal 3:10, “maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa umat Israel memang memiliki kewajiban untuk mempersembahkan hasil pertama setiap kali musim menuai.
Tetapi, yang dicatat di kitab Ulangan ini sepertinya merupakan persembahan hasil pertama yang berbeda. Sepertinya ini adalah pemberian hasil pertama yang benar-benar pertama setelah mereka menduduki tanah Kanaan. Ketika mereka menghasilkan panen pertama di Kanaan, mereka harus mempersembahkan hasil pertama itu. Memang setelah itu, mereka juga tetap memberi persembahan dari hasil panen pertama setiap musim panen.
Hal ini mengajarkan kepada kita supaya kita memiliki hati yang penuh dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Kita mengucap syukur karena Tuhan telah terlebih dulu memberkati kita. Pada masa ini, yang terpenting bukan simbol-simbol persembahan, tetapi hati kita di hadapan Tuhan. Jika hati kita benar-benar fokus pada Tuhan, maka kita tidak akan pernah pelit atau hitung-hitungan dengan Tuhan. Kita akan rela hati memberikan segala sesuatu kepada Tuhan.
Orang yang jiwanya sudah diserahkan kepada Tuhan, maka segala sesuatu yang ada padanya pun tidak segan-segan untuk diserahkan juga kepada Tuhan. Berbeda dengan orang yang memberi sesuatu karena merasa bersalah atau dipaksa. Mereka mungkin membeli, bahkan dengan jumlah yang besar, tetapi tidak berasal dari ketulusan hatinya. Biasanya pemberian itu akan bersifat sementara.
Ketika seseorang memberikan hasil pertama dari hasil panen atau pendapatannya, ia sedang mengutamakan Tuhan dalam banyak hal. Memberikan hasil pertama juga merupakan tindakan iman, karena orang tersebut belum sempat menikmati hasil panennya sendiri. Dengan iman orang itu juga memiliki keyakinan bahwa hasil panen selanjutnya juga akan bagus dan berhasil. Orang itu telah mengutamakan Tuhan melebihi kepentingan dan kebutuhannya sendiri.
Views: 0