Imamat 9:1-24
Setelah upacara penahbisan, mereka harus memakan daging domba dan mereka harus tinggal di pelataran atau di depan Kemah Pertemuan selama tujuh hari. Mereka tidak diperbolehkan keluar dari sana. Di hari ke delapan, barulah mereka diperbolehkan untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Tujuh hari tinggal di pelataran itu melambangkan kesiapan dan kesediaan mereka, selalu siap untuk mendamaikan umat-Nya. Jangan sampai ketika ada orang Israel datang untuk didamaikan, lalu tidak ada seorang imam pun yang melayani.
Yesus Kristus selalu ada bagi kita. Setiap kali kita ingin menghadap atau berdoa kepada Dia, maka Ia selalu ada dan siap sedia. Tuhan selalu maha hadir dan senantiasa menyertai umat-Nya. Sebagai umat percaya, kita tidak perlu berdoa melalui perantaraan orang lain. Kita tidak perlu berdoa kepada orang-orang yang sudah meninggal, karena tidak berguna sama sekali. Atau kita minta berkat dari orang-orang yang sudah meninggal, tentu ini sama saja dengan tidak percaya pada kuasa Tuhan.
Sebelum umat Israel datang ke Kemah Suci, umat juga harus diperdamaikan dan disucikan terlebih dulu. Dengan demikian, ibadah simbolik telah diresmikan dan dimulai. Tanpa kekudusan dan penyelesaian dosa, maka tidak akan ada orang yang bisa melihat Tuhan. Harun harus datang mendekat ke mezbah untuk mengolah korban penghapus dosa dan korban bakaran, dengan tujuan untuk mendamaikan diri sendiri dan bangsa Israel bagi Tuhan.
Persembahan ini akan menjadi pola atau ritual yang dilakukan terus menerus dalam sejarah Israel. Imam Besar, sebelum ia masuk untuk mewakili umat-Nya, ia harus menyembelih seekor lembu untuk mendamaikan dirinya sendiri. Hanya orang yang tidak berdosa yang bisa mewakili manusia di hadapan Tuhan. Karena itu, Imam Besar harus menutupi dosanya terlebih dulu. Setelah itu ia bisa mulai mendamaikan umat.
Di dalam Ibrani 7:26 dst terdapat pembandingan antara Harun atau Imam Besar Israel dengan Yesus Kristus. Jika Harun dan keturunannya harus melaksanakan korban itu berulang-ulang karena dosanya, maka Yesus Kristus cukup melaksanakan korban satu kali saja karena Yesus tidak berdosa. Yesus tidak mempersembahkan binatang korban, tetapi Ia mengorbankan Diri-Nya sendiri, sebagai korban nyawa tanpa cela.
Harun dan keturunannya akan melakukan korban ini terus menerus, sampai yang disimbolkan tiba. Imam Besar memfasilitasi orang-orang yang ingin datang kepada Tuhan. Bersama dengan Imam Besar kita yaitu Yesus Kristus, maka ada kesempatan bagi kita untuk melalui Dia, sebagai jalan dan kebenaran dan hidup untuk sampai kepada Bapa di Surga.
Salah satu tugas imam adalah mengangkat kedua tangannya atas bangsa Israel dan memberkati mereka. Hari ini, masa keimamatan Harun sudah berakhir, sehingga semua yang dilakukan oleh Harun termasuk mengangkat tangan untuk memberkati, tidak perlu dilakukan. Harun harus melakukan itu, karena ia menjadi perantara antara Tuhan dengan umat manusia. Saat ini, hanya ada satu perantara, yaitu Yesus Kristus (1 Tim 2:5). Kita sendiri adalah imam, jadi tidak ada orang yang bisa memberkati kita selain Yesus Kristus.
Views: 30