Imamat 2:4
Semua manusia yang ada di dunia ini tidak ada yang layak untuk menggantikan manusia berdosa. Orang yang sudah berdosa, tidak bisa menjadi pengganti bagi penebusan dosa itu. Jika orang itu berdosa, ia harus menanggung dosa dirinya sendiri dan tidak bisa menanggung dosa dari orang lain. Karena itu, perlu manusia lain yang statusnya tidak berdosa sama sekali. Selain tidak berdosa, manusia itu juga harus rela untuk menggantikan hukuman dosa. Tidak ada manusia seperti ini. Karena itulah, maka Tuhan turun ke dalam dunia menjadi sama dengan manusia.
Ketika Yesus Kristus menjadi manusia yang tidak bercela, maka Ia bisa mewakili manusia. Yesus adalah manusia yang sempurna dan tidak ada orang yang bisa mendapati kesalahan-Nya. Yesus Kristus yang menjadi manusia seutuhnya juga mewakili manusia, karena Ia bisa merasakan semua yang telah dirasakan oleh manusia. Di dalam Ibrani 4:14-16 dijelaskan bahwa Yesus sebagai Imam Besar bisa turut merasakan kelemahan-kelemahan manusia. Yesus pernah dicobai, tetapi Ia tidak berbuat dosa.
Yesus Kristus telah membuktikan keilahian-Nya, sekaligus kemanusiaan-Nya yang tidak berdosa. Imam Besar kita, Yesus Kristus, telah menanggung semua dosa dan pelanggaran kita. Yesus sebagai manusia pernah merasakan sedih, ketika ditinggal oleh para murid-murid yang selama ini sangat dekat dengan Dia. Yesus menangis ketika melihat Maria dan Marta bersedih, pada saat Lazarus mati. Meskipun Yesus mengetahi kematian Lazarus, tetapi ia merasakan kesedihan manusia.
Ketika Tuhan Yesus tergantung di kayu salib, Ia berkata bahwa Ia haus. Ia juga pernah meminta minum dari perempuan Samaria, karena Ia haus. Semua ini memperlihatkan dan membuktikan bahwa Yesus Kristus benar-benar menjadi sama seperti manusia. Karena itulah, Ia bisa merasakan maut bagi kita. Jika Yesus Kristus tidak menjadi manusia dan tetap dalam posisi keilahian-Nya, maka tidak akan ada yang bisa menggantikan hukuman manusia berdosa.
Karena kasih dan kerelaan-Nya, Yesus meninggalkan sifat-sifat keilahian-Nya untuk sementara waktu. Ia benar-benar mengosongkan diri-Nya. Untuk sementara waktu, Ia meninggalkan kemahatahuan-Nya dan kuasa-Nya. Untuk sementara waktu Ia tidak menggunakan sifat keilahian-Nya, sehingga bisa merasakan kemanusiaan secara utuh. Karena itulah, Yesus Kristus sampai pada tahap kematian. Yang mati adalah kemanusiaan-Nya, bukan keilahian-Nya.
Di dalam Efesus 2:15 dikatakan, “…sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.”
Yesus telah menggantikan kita mati dan Dia telah bangkit kembali serta sudah mengalahkan maut. Karena itu, setiap orang yang percaya kepada-Nya akan mendapatkan keselamatan serta kehidupan kekal. Kematian-Nya telah membatalkan hukum Taurat, yaitu semua yang berhubungan dengan upacara seremonial dan simbolik, yaitu korban-korban persembahan yang dilakukan di Perjanjian Lama.
Views: 31