Cacat Rohani (Jelajah PL 439)

Imamat 21:10-24

Dari keturunan Lewi, akan ada satu orang yang diangkat menjadi imam besar. Imam besar yang pertama adalah Harun, lalu diturunkan kepada anak-anak Harun. Imam besar memiliki tugas khusus, yaitu setahun sekali masuk ke ruang maha kudus. Bagi imam besar, ada peraturan-peraturan yang lebih ketat lagi. Ketika seseorang memiliki tanggung jawab besar dan posisinya semakin dekat dengan Tuhan, dia dituntut untuk semakin kudus. Jika seseorang memiliki posisi tinggi dan tidak mempunyai karakter kudus, maka kehidupan di sekitarnya akan kacau.

Imam besar harus semakin menjauhkan diri dari dosa. Meskipun demikian, ia tetap diharuskan untuk memiliki istri. Seorang pelayan Tuhan diperbolehkan, bahkan diharuskan untuk menikah. Jika para pemimpin umat ini dilarang untuk menikah, mereka akan memiliki kecenderungan untuk melampiaskan kebutuhan biologisnya secara salah. Tuhan tidak pernah melarang orang yang melayani-Nya untuk menikah. Imam besar yang memiliki posisi paling dekat dengan Tuhan, tetap diharuskan untuk menikah.

Orang yang cacat tidak boleh menjalankan fungsi keimamatan. Sekali lagi kita harus tahu bahwa di dalam Perjanjian Lama, seorang imam menggambarkan Yesus Kristus. Karena Yesus Kristus sempurna, maka simbolnya juga harus sempurna. Dalam hal ini, bukan berarti Tuhan sedang pilih kasih atau membedakan orang karena keadaan tubuhnya. Tuhan memberi makan kepada mereka dari persembahan orang Israel. Hanya saja mereka tidak diperbolehkan untuk menjalankan fungsi keimamatan tersebut.

Pada saat itu memang masih dalam tahapan ibadah simbolik. Cacat cela rohani digambarkan dengan kondisi fisik seseorang. Pada saat ini, tidak ada halangan bagi orang yang memiliki cacat fisik untuk melayani Tuhan. Bahkan kita sering melihat bahwa ada orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus, tetapi mereka tetap melayani Tuhan sesuai dengan kemampuan mereka. Semua yang berlaku di Perjanjian Lama adalah gambaran bagi Yesus Kristus yang datang sebagai Juruselamat.

Pada saat ini, ketika kita mendekat kepada Tuhan, kita harus memastikan diri tidak mengalami cacat cela rohani. Tuhan tidak menolak orang yang melayani dalam kondisi keterbatasan fisik. Gereja seharusnya juga tidak menolak mereka yang mengalami keterbatasan fisik. Tuhan bisa memakai setiap orang tanpa memandang fisik. Tuhan melihat hati serta potensi mereka yang mau dikembangkan untuk pelayanan Tuhan.

Apapun yang bisa kita lakukan dan persembahan kepada Tuhan, maka kita bisa melakukan dan mempersembahkan yang terbaik. Ketika kita melayani Tuhan dengan sukarela, bukan berarti seenaknya. Kita harus belajar untuk memberikan yang terbaik. Orang-orang yang memiliki keterbatasan saja bisa melakukan hal-hal yang sangat baik, terlebih kita yang diperlengkapi oleh Tuhan dengan kondisi fisik yang sehat dan baik.

Views: 29

Jika saudara diberkati, silahkan bagikan:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top