Keluaran 35:1-3
Musa sudah dua kali berada di atas gunung Sinai. Setiap kali Musa berada di atas gunung Sinai, ia harus melewatkan waktu bersama dengan Tuhan selama empat puluh hari empat puluh malam. Setelah selesai mendapatkan semua hukum dari Tuhan bagi bangsa Israel, saatnya sekarang untuk mulai menerapkan hukum-hukum itu. Hukum yang dibawa oleh Musa bisa dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: aturan moral yang memiliki sifat universal dan bisa diterapkan ke semua orang di sepanjang zaman; aturan seremonial yang perlu dilakukan secara khusus oleh bangsa Israel pada zaman ibadah simbolik; aturan sipil yang berhubungan dengan sistem kenegaraan Israel.
Di dalam Perjanjian Baru, hukum Taurat sudah berlalu karena hanya mengandung bayangan saja. Dilihat dari aspek seremonial, sudah tidak ada yang berlaku lagi di hari ini. Tetapi tidak demikian dengan aspek moral. Jika di dalam Perjanjian Baru ada aturan hukum Taurat yang sudah digenapkan, artinya sudah tidak perlu dilakukan lagi. Perjanjian Baru menjadi pedoman bagi orang percaya untuk melihat hukum Taurat yang sudah digenapi dan yang masih berlaku, terutama hukum dari aspek moral.
Musa yang sudah selesai mendapatkan semua aturan itu, siap untuk menerapkan semua hukum itu dalam kehidupan orang Israel. Musa sudah mendapatkan beberapa perintah yang harus segera dilaksanakan, seperti membuat Kemah Suci dan mempersembahkan korban. Musa ingin membangun Kemah Suci itu, supaya benar-benar nampak dan bisa segera digunakan oleh bangsa Israel. Musa juga mendapatkan perintah untuk menjalankan hukum Sabat dan ingin segera menerapkannya.
Di bagian pertama, Musa ingin menerapkan aturan Sabat terlebih dulu. Musa mengingatkan aturan itu kepada orang Israel. Sabat artinya hari untuk beristirahat atau berhenti. Mengenai Sabat ini, Tuhan sendiri telah memberi pola dan contoh dalam pelaksanaannya, pada saat masa penciptaan. Tuhan menciptakan langit, bumi dan segala isinya dalam enam hari. Pada hari ketujuh, Tuhan berhenti atau beristirahat. Tuhan beristirahat bukan karena capek atau tidak mampu, tetapi karena memang pekerjaan-Nya sudah selesai dan lengkap.
Tuhan sengaja menciptakan semuanya itu dalam enam hari. Padahal sebenarnya Tuhan bisa menciptakan semuanya itu dalam sekejap. Tuhan melakukan semua ini, untuk memberikan pola dan contoh kepada kita. Contoh itu yang mendasari perhitungan hari, satu minggu sebanyak tujuh hari. Perhitungan ini digunakan oleh sebagian besar bangsa yang ada di dunia ini.
Di dalam Keluaran 20:11 dikatakan, “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” Ini adalah dasar perhitungan satu minggu sama dengan tujuh hari. Perhitungan ini sudah terjadi sejak penciptaan. Tetapi di dalam hukum Taurat, perhitungan hari ini dimasukkan menjadi dasar hukum bagi hari Sabat.
Views: 27